Langsung ke konten utama

ANALISIS PENERAPAN KONSEP KECERDASAN MAJEMUK PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENCAPAI TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL “Studikasus di SMP Unggulan Simanjaya Lamongan”


Mochammad syihabbudin

Syihabb056@gmail.com

Moch. Khotibul umam

santhreenusantara@gmail.com

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

 

ABSTRAK.

Latarbelakang dari Penelitian ini didasari oleh tujuan Pembelajaran Nasional yaitu dengan meningkatkan kemampuan partisipan peserta didik, namun pada praktek lapanganya masih terdapat sekolah yang menekankan pada keahlian logika serta bahasa. SMP Unggulan Simanjaya memberikan pengetahuan kepada siswa-siswi dengan konsep kecerdasan majmuk atau biasa di sebut dengan (multiple intelligences) buat menimbulkan tiap keunggulaan kemampuan partisipan siswa bagaikan wujud nyata kepedulian terhadap dunia pembelajaran. Riset ini bertujuan untuk mengenali pelaksanaan kecerdasan majemuk pada pembelajaran Pendidikan AgamaIslam dalam menggapai orientasi pembelajaran nasional di SMP Unggulan Simanjaya lamongan, yang pembahasannya meliputi: pelaksanaan serta relevansi pelaksanaan Pembelajaran PAI dengan konsep kecerdasan majemuk. Riset ini tercantum riset lapangan(field research) yang bertabiat kualitatif deskriptif bertempat di Sekolah SMP Unggulan Simanjaya Lamongan.

Kata Kunci: kecerdasan; majemuk; multiple; pembelajaran; strat

 

 

 

 

A.    PENDAHULUAN

Pembelajaran merupakan seluruh aktivitas pendidikan yang berlangsung sejauh era dalam seluruh suasana aktivitas kehidupan[1]Undang- Undang Dasar bertepatan pada Pasal 31 Ayat 3 yang sudah diamandemen, ataupun UU Nomor. 20 tahun 2003 tentang sistem pembelajaran Nasional, sebetulnya sudah menetapkan kalau seluruh proses pembelajaran harus diperuntukan buat mengembangkan segala kemampuan demi menggapai kehidupan yang sejahtera, baik secara raga, sepiritual maupun mental, serta tidakuma melahirkan masyarakat negeri– masyarakat negeri yang baik( good citizens).[2]Dalam UU Nomor. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pembelajaran Nasional, Pembelajaran dimaksud bagaikan; usaha siuman serta terencana buat mewujudkan atmosfer belajar serta proses pendidikan supaya partisipan didik secara aktif meningkatkan kemampuan dirinya buat mempunyai kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, karakter, kecerdasan, akhlak mulia, dan keahlian yang dibutuhkan dirinya, warga, bangsa serta negeri.

Bagi Gardner kecerdasan ialah keahlian yang dipunyai oleh seseorang untuk memandang sesuatu permasalahan, kemudian menuntaskan permasalahan tersebut ataupun membuat suatu yang bisa bermanfaat untuk orang lain.[3]Teori yang awal mulanya masuk kedalam ranah psikologi, kala ditarik ke dunia pembelajaran jadi strategi pendidikan buat modul apapun pada bidang riset.

Pendidikan pada hakikatnya merupakan proses interaksi antar partisipan didik, antara partisipan didik dengan pendidik serta sumber belajar pada sesuatu area belajar.[4] Interaksi yang baik bisa ditafsirkan dimana guru serta anak didik belajar dengan gampang serta terdorong oleh kemauannya sendiri buat menekuni apa yang terdapat dalam kurikulum bagaikan kebutuhan mereka.[5]Sebab itu, tiap pendidikan, paling utama pendidikan agama sebaiknya berupaya menjabarkan nilai-nilaiyang tercantum di dalam kurikulumserta mengkorelasikannya dengan kondisi yang terdapat disekitar anak didik. Dalam proses pendidikan, tercantum dalam pendidikan pembelajaran agama paling tidak ada 3 komponen utamayang silig mempengaruhi.Ketiga komponen tersebut adalah: (1) Kondisi pembelajaran; (2) metode pembelajaran; (3) hasil Pembelajaran.[6]

Pembelajaran agama islam yang bertujuan buat berkembangnya keahlian partisipan didik dalam menguasai, menghayati, serta mengamalkan nilai- nilai agama Islam yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi serta seni.[7]sejalan dengan konsep kecerdasan majemuk yang diungkapkan oleh Gardner. Oleh sebab itu, pendidikan Pembelajaran Agama Islamterpaut gimana membuat partisipan didik bisa belajar dengan gampang serta terdorong oleh kemauannya sendiri buat menekuni apa yang teraktualisasikan dalam kurikulum bagaikan kebutuhan partisipan didik serta dianjurkan dengan tata cara pendidikan berbasis intelegensi buat menggapai hasil pendidikan optimal.[8]

 

Sekolah berkualitas merupakan lembaga yanang nemerapkan belajar- mengajar, dengan kemampuan tidak cuma kognitif tapi dengan kemampuan yang lain, semacam menggambar, seni, serta berolahraga, ataupun keahlian psikomotorik serta efisien.[9]Sedangkan SMP Unggulan Simanjaya berbasis pondok pesantren ini merupakan sekolah yang mempraktikkan konsep kecerdasan majemuk(Multiple Intelligences) pada tiap pembelajaran di sekolah. Pelaksanaan konsep kecerdasan yang terdapat pada sekolah ini tidak cuma pada pelajaran universal, pembelajaran isllam.

 

B.     Metode Penelitian

Yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan atau biasa di sebut dengan(field research)yang mana mempuyai bersifatkualitatif deskriptif saya mengambil data penelitian di Sekolah SMP Unggulan Simanjaya lamongancara mendapatkan data mengunakan merode wawancara, observasidandokumentasi.[10]

 

C.    PEMBAHASAN

a.      Pengertian Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences)

Konsep kecerdasan majemuk(Multiple Intellegences) bermula dari karya Howard Gardner di dalam bukunya Frames Of Mind pada tahun 1983 didasarkan atas hasil riset sepanjang sebagian tahun tntang mutu kognitf manusia( Human Cognitif Capacities) Gardner menolak anggapan bila kognisi manusia ialah satu kesatuan serta manusia cuma memiliki kecerdasan tunggal. Walaupun sebagian besar manusia menampilkan kemampuan yang berbeda.manusia mempunyai sebagian kecerdasan serta bergabung jadi satu kesatuan membentuk kemampuan orang yang lumayan besar. Howard Gardner menghadirkan sekalian mempromosikan hasil riset Projecct Zero di Amerika yang berkaitan dengan kecerdasan ganda(multiple intelligences).Teorinya melenyapkan asumsi yang sepanjang ini tentang kecerdasan manusia. Hasil penelitiannya menampilkan bila tidak terdapat satuan aktivitas manusia yang cuma menggunakan satu berbagai kecerdasan, melainkan segala kecerdasan yang sepanjang ini dikira terdapat 7 berbagai kecerdasan, serta pada novel yang canggih membutuhkan tiga kecerdasan lagi berbagai kecerdasan.yang lain dalam membongkar permasalahan. Inteligensi, buat Gardner, ialah keahlian buat membongkar permasalahan dalam suasana budaya ataupun komunitas tertentu, yang terdiri dari 7 berbagai inteligensi.Walaupun demikian, Gardner berikan ketahui bila jumlah tersebut dapat lebih ataupun kurang, tetapi jelas bukan cuma satu kapasitas metal. Masalah tentang mengapa orang memilah terletak dalan peran- peran yang berbeda( pakar fisika, petani, penari), membutuhkan kerja bermacam kecerdasan bagaikan sesuatu campuran, dalam penjelasannya kecerdasan buat nya, ialah keahlian buat menangkap suasana baru dan keahlian buat belajar dari pengalaman masa sehabis itu seorang. Kecerdasan tergantung pada konteks, tugas dan tuntutan yang diajukan oleh kehidupan kita, serta bukan bergantung pada nilai Intelligence Quotient( Intelligence Quotient( Intelligence Quotient(IQ)), gelar akademi besar ataupun reputasi bergengsi.

b.      Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Pendidikan merupakan sesuatu konsepsi dari 2 ukuran aktivitas(belajar serta mengajar) yang wajib direncanakan serta diaktualisasikan, dan ditunjukan pada pencapaian tujuan ataupun kemampuan beberapa kompetensi serta indikatornya bagaikan cerminan hasil belajar.[11] Sebaliknya dalam UU Sisdiknas dipaparkan, pendidikan merupakan proses interaksi partisipan didik dengan pendidik serta sumber belajar pada sesuatu area belajar. Pendidikan bukan cuma terbatas pada kejadian yang dicoba oleh guru saja, melainkan mencakup seluruh kejadian yang memiliki pengaruh langsung dalam proses belajar manusia.[12] Bagi Dokter. Georgi Lazanov, psikologi dari Bulgaria, membagi pendidikan jadi 3 sesi, ialah:(1) Persiapan; menumbuhkaan sugesti dini( 2) Aktif; membagikan pengalaman belajar kepada siswa serta pula menghasilkan keterlibatan.( 3) Pasif; refleksi serta kaji ulang.[13]

 

c.       Pembelajaran Agama Islam

1.      Penafsiran Pembelajaran Agama Islam

Pembelajaran agama merupakan pembelajaran yang membagikan pengetahuan serta membentuk perilaku, karakter, serta keahlian untuk bisa menerapkan pengetahuan agaamanya yang dilakukan paling tidak melalu seluruh mata pembelajaran PAI, atau bisa juga pada jenjang, serta tipe pembelajaran.[14] Sebaliknya Pembelajaran Agama Islam merupakan upaya mempersiapkan partisipan didik buat memahami, menguasai, menghayati, mengimani serta mengamalkan ajaran serta nilai- nilai agama islam dari sumber utamanya: kitab suci Angkatan laut AL-Qur’ an serta Hadist, lewat aktivitas tutorial, pengajaran, latihan, dan pemakaian pengalaman, diiringi tuntunan buat menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan inter serta antar umat beragama sehingga terwujud persatuanserta kesatuan bangsa.[15]

 

d.      Tujuan Pembelajaran Nasional

Pembukaan Undang- Undang Dasar 1945 sudah diungkapkanorientasi dari pemerintah     Negara          Republik Republik Indonesia adalahmencerdaskan kehidupan bangsa.[16] Usaha buat menggapai tujuan yang dicita- citakan terebut dengan jalur lewat proses pembelajaran.[17] Oleh karenanya, bukanlah salah kala tujuan pembelajaran cocok dengan tujuan para pendiri bangsa. Ditambah dengan terdapatnya perbedaaan antar– wilayah sangat membagikan tantangan didalam usaha buat tingkatkan kualitas pembelajaran Nasional.[18]

 

e.       Jenis-Jenis kecerdasan menurut Gardner

Yang tercantum dalam bukunya The Theory of Multiple Intelegence,Pada tahun 1983 yang dikarang oleh Howard Gardner, bahwa ada 8 macam komponen kecerdasan, yang biasa disebutn dengan Multiple Intlegence (Intelegensi Gannda). Intelegensi ganda tesebut meliputi: (1) kecerdasan linguistic-verbal (2) kecerdasan logika-matematik (3) kecerdasan sepasial-visual, (4) kecerdasan ritmik- musik,(5)kecerdasan kinestetik, (6) kecerdasan interpersonal, (7) kecerdasan intrapersonal, (8)

kecerdasan naturalis;

 

a.          KecerdasanLingguistic-ferbal

Bentuk dari kecerdasan ini berupa keahlian yang dapat menyusun polah pikiranya dengan jelas pun juga mampu menyampaikan dalam bentuk ucapan bisa dengan cara berdialog, bisa juga dengan menulis, serta membaca. Mereka yang mempuyai kecerdasan seperti ini sangat cakap dalam bertutur bahasa, misa dengan menceriterakan cerita atau dongeng, berdebat, berdiskusi, meyampaikan sebuah pengertian, mengantarkan laporan serta bermacam aktifitas yang lainya.Yang mana terpaut dengan berdialog serta menulis.Kecerdasan tersebut sangat dibutuhkan untuk profesi seperti pengacara, guru, editor, penyiar radio/Tv, public spiker, penulis. Memperjelas bahwabahwa kecerdasan yang dimaksuddiatas  peserta dididk mempunyai identitas keahlian seperti dibawah ini:

a)        Sanggup dan paham membaca serta apa yang telah dibaca.

b)        Sanggup mendengarkan serta membagikan merespon sesuatu komunikasi yang bersifat verbal.

c)        Sanggup mengulang suara, menekuni bahasa orang asing, sanggup membaca mahakarya orang lain.

d)       Sanggup menulis serta berdialog secara efisien.

e)        Tertarik pada karya jurnalism, berdebat, pandai mengantarkan cerita ataupun melaksanakan revisi pada karya tulis.

f)        Sanggup belajar lewat rungu, bahan teks, tulisan serta lewat dialog, maupun debat.

g)       Peka terhadap makna kata, urutan, ritme serta intonasi kata yang diucapkan.

h)        Mempunyai perbendaharaan kata yang luas, suka puisi, serta game kata.Profesi: pustakawan, editor, penerjemah, jurnalis, tenaga dorongan hukum, pngacara, skretaris, guru bahasa, orator, pembawa kegiatan di radio/ Televisi, serta sebagainya.

Dengan kecerdasan ini peserta tak hanya memahami tentang ilmu atau teori dalam meteri Pendidikan Agama Islam tapi peserta diidk juga mampu mengaplikasikan dalam keseharian, seperti pepatah arab, ilmu apa tidak diamalkan bagaikan pohon yang tak berbuah.

 

b.          KecerdasanLogika-Matematik

Kecendrungan yang dimiliki oleh orang yang mempuyai kecerdasan matematik adalah mereka mampu berhubungan dengan angka-angka mempuyai gaya berfikir logis, suka dengan bilangan, dan sangat ilmiah terdapatnya konsistensi dalam berfikir. Seorang yang pintar secara berlogika-matematika seringkaliberminat terhadap pola serta bilangan/ angka- angka.Mereka belajar dengan kilat pembedahan bilangan serta kilat menguasai konsep waktu, menarangkan konsep secara logis, ataupun merumuskan data berbau matematik, seperti contoh dalam ilmu waris nujum atau perbintangan.

Kecerdasan ini amat berarti bagi peserta didik, sebab hendak menolong meningkatkan keahlian berpikir serta logika seorang.Peserta didikmenjadilebih mudauntuk mengelolah gaya berfikir logisnya sebab terlatih dengan kedisiplin mental serta belajar menciptakan alur pikir yang benar ataupun salah. Selain itu pula kecerdasan yang dimaksud bisa menolong menciptakan metode kerja, pola,sertaikatan,meningkatkankeahlian pemecahan permasalahan, mengklasifikasikan serta mengelompokkan, tingkatkan penafsiranbilanganya serta berarti lagi tingkatkan energi ingat. Berikut adalah identifikasi bentuk kecerdasan sebagai berikut:

a)        Memahami serta paham konsep jumlah, waktu serta prinsip kausalitas.

b)       Sanggup mengamati objek serta paham guna dari objek tersebut.

c)        Pandai dalam pemecahan permasalahan yang menuntut pemikiran logis.

d)       Menikmati pekerjaanyang berhubungan dengan kalkulus, pemograman pc, tata cara studi.

e)        Berpikir secara matematis dengan mengumpulkan bukti-bukti, membuat hipotesis, merumuskan serta membangun argumentasi kokoh.

f)        Tertarik dengan karir di bidang teknologi, mesin, metode, akuntansi, serta hukum.

g)       Memakai simbol- simbol abstrak buat menarangkan konsep serta objek yang konkret.

Kecerdasan ini bisa dikaitkan dengan pembelajaran fiqih, seperti ilmu waris perbintagan dan materi-materi ubudiyah yang laen tidak hanya itu kecerdasan ini juga sangan cocok dengan Profesi seperti, pakar statistik, analisis/ programer pc, pakar ekonomi, teknisi, guru IPA/ Fisika, serta lainsebagainya.

 

a.          KecerdasanSpasial-Visual

Bentuk dari Kecerdasan ini ditunjukkan oleh keahlian sese seorang agar bisa melihatsecara rinci cerminan visual yang ada di sekitarnya. Seseorang seniman bisa mempunyai keahlian anggapan yang besar. Apabila mereka memandang suatu lukisan, mereka bisa memandang terdapatnya perbandingan yang nampak di antara goresan- goresan kuas, walaupun orang lain tidak sanggup melihatnya. Dengan mengamati suatu gambar, seseorang juru foto bisa membuat analisis menimpa kelemahan ataupun kekuatan dari gambar tersebut semacam arah datangnya sinar, latar balik, serta sebagainya, apalagi mereka bisa berikan jalur keluar gimana seandainya gambar tersebut kualitasnya ditingkatkan lagi agar bisa lebih menarik.

Aplikasi dari bentuk kecerdasan ini adalah semacam juru foto, seniman,. Pada orang- orang ini dituntut buat memandang secara pas cerminan visual serta setelah itu member makna terhadap cerminan tersebut.Profesi: insinyur, surveyor, arsitek, perencana kota, seniman grafis kaligrafi, bidang dalamnya, juru foto, guru kesenian, pilot, pematung, serta sebagainya.Lebih jelasnya kecerdasan ini mempunyai identitas keahlian bagaikan berikut:

a)        Bahagia mencoret- coret, menggambar, melukis serta membuat arca.

b)       Bahagia belajar dengan grafik, peta, diagram, ataupun perlengkapan bantu visual yang lain.

c)        Bagus dalam berhayal, imaginasi serta kereatif.

d)       Menggemari seperti filem, foto, poster serta presentasi visual yang lain.

e)        Pandai main puzzle, mazes serta tugas- lugas lain yang berkaitan dengan manipulasi.

f)        Mudah saat belajar dengan pengamatan, memandang, mengidentifikasi objek, wajah, wujud, serta corak.

g)       Seringkali mengfungsikan media gambar untuk wahana pengingat.

 

Sedangkan Profesi yang cocok untuk mengembangkan potensi peserta didik adalah bisa menjadi musikus sholawat, pembuat instrument lagu, Keybordis pakar pengobatan musik, penulis syair atau lagu, dirigen orkestra, sastrawan, musisi, serta sebagainya.Lebih jelasnya kecerdasan ini mempunyai identitas keahlian bagaikanberikut:

h)       Menggemari banyak tipe perlengkapan musik serta senantiasa tertarik buat memainkan perlengkapan mucik.

i)         Gampang megingat dengan lagu dan peka kepada suara.

j)          Paham enspresi dan emosi lagu.

k)       Bahagia mengumpulkan lagu, baik CD, kaset, ataupun lirik lagu.

l)         Sanggup menghasilkan bagian-bagian music.

m)      Bahagia mengimpruf dan bermain-main suara.

n)       Menggemari serta sanggup bernyanyi.

o)       Sanggup memperdalam sesuatu musik.

c.          KecerdasanKinestetik.

Kecerdasan ini ditunjukkan oleh keahlian seorang untuk membangun ikatan yang berarti antara benak dengan badan, yang memungkin badan untuk memanipulasi objek ataupun menghasilkan gerakan. Secara hayati kala lahir seluruh balita dalam kondisi tidak berdaya, setelah itu berangsur-angsur tumbuh dengan menampilkan bermacam pola gerakan, tengkurap,“ berangkang”, berdiri, berjalan, serta setelah itu berlari, apalagi pada umur anak muda tumbuh keahlian berenang serta akrobatik.

 

d.          KecerdasanIntrapersonal

Bila peserta didik mempunyai kecerdasan ini dia mudah menilai diri sendiri,muhasabah”mudah berimajinasi membuat gagasan, dan impianya. Kecerdasan ini sangat pas bila di aplikasikan pada Profesiterapis, konseler, ulama sepertiahli psikologi, ahli teknologi, perencana program, pengusaha, dan sebagainya.

 

f.       Konsep Multiple Intelligences Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

1.    Mengenal multiple intelligencessiswa

Permasalah mendasar dalam proses trasfer ilmu adalah bagaimana pendidik mampu menyampaikan informasi ataupun ilmunya kepada peserta didik dengan baik dan benar sehingga peserta didik mampu mendapatkan fasilitas pendidikan dengan baik. Pendidik sangat diperlukan kemampuan mengetahui dan menganalisis gaya belajar peserta didiknay tak hanya itu pendidik juga harus mampu memfasilitasi mereka untuk bisa memaksimalkan dan memfungsikan gaya belajar mereka, dan mengembangkan kemampuan yang masih kurang dominan. Sehingga pendidikbisa menyampaikan ilmunya dengan cara yang sesuai dengan gaya belajar pesertadidiknya,. Lalu dengan adanya variasi dalam menyampaikan informasi kepada peserta didikdengan menyeluruhkemungkinan besar siswa mampu belajar lebih baik dan lebih maxsimal, terutama jika metode mengajar yang digunakan cocok dengan gaya belajar yang disukai peserta didik. Selain itu, peserta didik sangup belajar dengan gaya lain, tidak hanya dalam gaya yang disukaimereka.[19]

Data penelian teruangkapkan oleh Dr. Howard Gardner, ternyata gaya belajar peserta didik terlihat dengan kecendrungan yang dilakukan peserta didik saat beraktifitas disekolah maupun dirumahdan juga peserta didik tercerminkan dari kecenderungan -kecerdasan yang dimiliki oleh pesert adidik itu sendiri. Oleh sebab itu, seyohyanya setiap pengajar harus mempuyai data tentang kecendurngan dan gaya belajar peserta didik masing- masing. Kemudian, setiap pendidik juga harus mencocokan dengangaya belajat peserta didik yang diampuh selama proses pendidikan berlangsung yang mana itu semua dapat diketahui dari Multiple Intelligences Research(MIR).

 

a.    Anak Aural(auditory-musical).

                  Anak aural meresap data dengan rungu; baik suara ataupun musik. Mereka sensitif dengan intonasi, irama, dinamika, tempo, keras- pelan, suara jauh- dekat. Anak aural belajar sembari mencermati musik, tidak menggemari“ kesunyian”. Mereka bahagia bersenandung, membuat nada/ rima sendiri. Untuk anak aural, bunyi/ nada/ lagu bawa pada suatu emosi ataupun kejadian tertentu. Meski lagi membaca novel, mereka memerlukan suara/ musik buat menemaninya. Media serta metode belajar:

1)                memakai tata cara ceramah/ kuliah

2)                memakai melodi buat bacaan; bergumam

3)                membaca dengan suara keras( read aloud)

4)                membangun atmosfer musikal utk menghasilkan suasana

5)                memakai media audio visual CD/ VCD

6)                mencermati kuliah/ pidato/ radio di rumah serta jalan

 

b.    Anak Raga(kinesthetic).

Anak raga memakai anggota tubuh mereka buat belajar. Mereka bahagia berupaya serta melaksanakan seluruh suatu sendiri( learning by doing). Mereka belajar dengan metode: memegang, membangun, membetulkan, membuat. Mereka acapkali tidak tabah membaca novel petunjuk ataupun diagram, serta langsung mau berupaya melaksanakan sendiri.Kanak- kanak raga sensitif terhadap tekstur, metode kerja, serta kenyataan raga yang nampak nyata di hadapannya.

 

c.   Anak Sosial(interpersonal).

Peserta didik yang mudah bergaul dengan teman dan orang baru memiliki sosial yang tinggi mudah berkolaborasi dengan temanya. Biasanya juga  dengan mudah mendapatkan pembelajaran dari pengalaman atau mencari umpan balik dari respon orang lain terhadap apa-apa yang disampaikannya. Media dan cara belajar:

1)                Suka bergaul dengan lingkungan yang komunal seperti kelompok, klub,organisasi

2)                Lebih cendrung megerjakan bersama

3)                Suka berdiskusi (role-playing)

4)                Orang lapangan

5)                Suka mengikuti training atau seminar

 

d.    Anak Penyendiri(intrapersonal).

Peserta didik yang suka menyendiri mempuyai kecendrungan yang berbeda dengan yang lain mereka lebih reflektif dan efektif jika belajar dan melakukan segalahal sendiri dan  mempuyai gaya belajar yang berbeda dengan yang lain mempuyai kecendrugan yang melakukan segalahan secara mandiri, Media & cara belajar:

1)                  Mendapatkan pesen atau sesuatu yang disukai dan hopi

2)                  Mencafi sumber pengetahuan dengan membaca buku atau materi materi pendidikan yang didapatkan dari pengalaman.

3)                  Mengerjakan tugas sendiri

4)                  Menulis jurnal dalam blok atau websait

 

g.      Strategi pembelajaran berbasis Multiple Intelligences dalam pembelajaran pendidikan agama Islam

Strategi pendidikan kecerdasan majemuk merupakan Upaya memaksimalkan seluruh kecerdasan( Multiple Intelligences) yang dipunyai menggapai kompetensi tertentu yang ada dalam kurikulum.

Fase- fase Model Pendidikan Berbasis Kecerdasan Majemuk:

Fase 1 Kurikulum

         Guru merancang sesuatu pendekatan pendidikan bersumber pada kurikulum yang berlaku.

Terdapat 2 metode mengarahkan kecerdasan lewat kurikulum, ialah:

1)  Bisa dianjurkan langsung sebagaimana terdapatnya, dengan metode Mengawali dari satu tipe kecerdasan buat setelah itu memikirkan tugas- tugas yang mencampurkan bermacam ranah kurikulum. Tetapi metode ini kurang disukai oleh guru sebab lumayan banyak menyita waktu serta atensi mereka kala ditambahkan ranah yang lain pada kurikulum mereka yang terkadang telah sangat padat.

2)  Dengan disisipkan kedalam kurikulum reguler, dengan metode diawali dengan mengambil sesuatu ranah kurikulum buat setelah itu merancang sesuatu pendekatan yang mengaitkan tiap- tiap kecerdasan.

 

Fase 2 Perencanaan pembelajaran

·           Guru merancang pendidikan cocok dengan kompetensi yang mau dicapai pada tiap modul PAI.

Fase 3 Metodologi pembelajaran

·              Guru memastikan tata cara/ metode pendidikan yang sangat cocok/ sesuai dengan kompetensi yang mau dicapai pada tiap modul. Setelah itu Guru mengidentifikasi tipe kecerdasan yang sangat dominan/ efisien digunakan cocok dengan metode/ tata cara yang digunakan.

 

Metodologi serta strategi yang digunakan oleh pendidik. Tidak seorangpun bisa menjamin kalau metode serta strategi didalam pemakaian metodologi tersebut apakah hendak sukses mendukung bakat siswa ataupun malah menguatkan kelemahan mereka. Oleh sebab itu buat menggunaan metodologi dalam pendidikan sebaiknya memakai pendekatan pendidikan yang sebaik serta sebanyak bisa jadi, dengan ketentuan disesuaikan dengan tujuan dan tipe kompetensi yang mau dicapai. Bagaikan contoh pendidikan Kooperatif, Pendidikan kooperatif digunakan bagaikan metode aktif mengaitkan kecerdasan interpersonal, mengajak siswa buat bisa berkolaborasi dengan baik dengan orang lain.

Fase 4 Tujuan pembelajaran

·           pendidik bisa menyampaiakan apa tujuan dari pembelajaran yang disampaiakn dan dicapai oleh pendidik kepada peserta didik dengan memintak peserta didik untuk berperan aktif dalam pembelajaran dengan mengenali kecerdasan.

Fase 5 Pelaksanaan pembelajaran

·           Selama penerapan pendidikan, guru mengobservasi keterlaksanaan kecerdasan majemuk serta mengenali jenis- jenis kecerdasan yang timbul pada diri siswa.

 

a.                                Belajar Efektif &Menyenangkan

Belajar dengan cara yang efesien dalam kondisi yang menyenagkan menjadi nilai lebih peserta didik dalam proses pembelajaran. mencerminkan kemauan kokoh pengarangnya supaya kalimat revolusi ini betul- betul dicermati serta diterapkan dalam pendidikan. Terdapat bermacam teori tentang otak.

 

b.                               Desin Ruang BelajarEfektif

Bukan hanya fokus pada satu titik saja memikirkan pada motivasi belajar peserta didik, namun managemen sekolahjuga membutuhkan desain ruangan belajar yang menarik danyaman untuk dipakek dalam proses pembelajaran.

Fase 6 Evaluasi

·           Pendidik memberikan evaluasi kepada peserta didik tentang hasil belajarnya dengan tes tulis, talu dengan tes lisan, ataupun berupa tes prestasi peserta didik.

Pandagan umum bahwa evaluasi berfungsi sebagai informasi sejauh mana keberhasilan proses trasper pengetahuan kepada peserta didik dan kegagalan program kegiatan yang digagas dan dilaksanakan dalam wujud tujuan ketercapaian pembuatan program.Dengan keterkaitanya program-program pendidikan, lalu tujuan evaluasi pendidikan ialah sabagai bentuk agar mendapatkan data dan pembuktian yang menunjukkan berhasil dan tidaknyaatau tingkat kemampuan dan keberhasilan peserta didik dalam kegiatanapengajarnya (Ngalim, P., 1983).

Selanjutnya Bloom (Nana Sudjana, 2000) mengartikan hasil belajar merupakan hasil berubahnya diri yang meliputi tiga ranah yakni, ada 3 ranah yang pertama ranah kognitif, yang ke dua ranah afektif, dan yang terahir adalah ranah psikomotor dimana masing-masing ranahnya mempunyai tingkatan kemampuan atau sering disebut dengan tipe hasil belajar. Namun tipe hasil belajar yang akan dibahas dalam penelitian ini hanyalah pada aspek kognitifnya saja, karena penguasaan yang akan dilihat dalam penelitian ini hanyal dalam ranah kognitifnyasaja.

Adapun tingkatan kemampuan atau tipe hasil belajar pada aspek kognitif menurut Bloom ada enam, yaitu sebagai berikut:

1.   Pengetahuan (Knowledge), yaitu kemampuan siswa untuk mengingat hal- hal yang telah dipelajari. Pada tingkat ini siswa hanya dituntut untuk mengenal atau mengetahui mengenai konsep, fakta atau istilah. Kata-kata operasional yang biasa digunakan untuk tespengetahuan.

2.   Pemahaman (Comprehension), yaitu kemampuan agar bisa difahami atau memahami mengenai maksud, gagas, situasi, serta fakta yang telah diketahuinya. Pada perihal ini siswa atau responden mampu memahami konsep dari masalah atau fakta yang telah di pertanyakan tidak hanya hafal secara verbalistis saja.

3.   Aplikasi (Aplication), yaitu kemampuan untuk menerapkan sesuatu yang telah dipelajari kepada sesuatu yang sifatnyabaru.

4.   Sintesis (Synthesis), yaitu kemampuan untuk menyatukan unsur-unsur atau bagian- bagian kedalam suatu bentuk yang menyeluruh(integritas).

5.   Analisis (Analysis), yaitu yaitu kemampuan untuk menguraikan suatu sistem atau situasi tertentu kedalam komponen atau unsurpembentuknya.

6.   Evaluasi (Evaluation), yaitu kemampuan untuk membuat suatu penilaian tentang suatu pertanyaan, konsep, dansebagainya.

Teknik atau cara evaluasi itu terdiri dari dua macam yaitu, diantaranya sebagai berikut:[20]

a)          TeknikTes

Tes adalah penilaian yang dilakukan secara komprehensif terhadap seorang individu atau keseluruhan usaha evaluasi program (Suharsimi Arikunto, 2001). Suharsimi Arikunto (1987) juga menyebutkan bahwa untuk melaksanakan evaluasi hasil mengajar atau belajar dari suatu proses belajar mengajar, seorang guru dapat menggunakan 2 hasil belajar peserta didik yaitu : tes yang sudah dibuat setandar pencapaian.

(standardizeed test) atau tes yang dibuat oleh guru sendiri (teacher made test). Oleh sebabitu dengan tes hasil belajarini telah dipergunakan pada penelitian ini adalah merupakan tes buatan guru (teacher made test) maka uraian pada penelitian ini selanjutnya akan lebih ditekankan pada tes buatanguru.

Menurut Suharsimi Arikunto (1987) tes hasil belajar yang biasa dilakukan (dibuat) oleh guru itu dapat dibagi dua macam, yakni:

1.          Tes lisan (oraltest)

Tes lisan adalah merupakan penilaian atau tes yang dilakukan oleh guru secara lisan seperti halnya tanya jawab. Pada tes lisan ini seorang guru memberikan pertanyaan dan siswa menjawab secara lisan.

2.          Tes tulisan (writtentest).

Sedangkan tes tertulis merupakan tes yang diberikan oleh guru kepada siswa dalam bentuk tertulis. Tes tertulis dapat dibagi atas :

*   Tes essay (essayexamination)

Menurut (Suharsimi Arikunto, 1987 : 48) adalah tes yang berbentuk uaraian pernyataan atau bisa melalui pertanyaan yang dijawab secara luas dengan bentuk tulisan.

*   Tesobjektif.

tes objektif ialah tes dengan cara global yaitu menilai secara trasparan dan secara objektif,sehinga scor yang dihasilkan dari tes bisa bobjektif dan tidak berbeda atau sama.

b)         TeknikNon-Tes

Adapun yang tergolong dalam teknik non-tes disini yaitu sebagai berikut :

1.          Kuesioner atau angket : Pada dasarnya kuesioner adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur(responden).

2.          Teknik Wawancara atau interview : ialah metode untuk bisa menghasilkan data dengan cara memberikan pertanyaan kepada narasumber.

3.          Pengamatan: yaitu teknik dengan pengadaan pengamatan kepada peserta didik secara sistematis dan teliti.

4.          Daftar cocok atau Check list : adalah deretan pertanyaan (yang biasanya singkat), dimana responden yang dievaluasi tinggal membubuhkan tanda cocok (checklist).

5.          Riwayat hidup : adalah gambaran tentang keadaan seseorang selama dalam masakehidupannya.

 

Fase 7 Memberikan Reward/Penghargaan

·               Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar siswa. Reward Yes, Punishment No. Sebisa mungkin seorang pendidik memberikan reward atau penghargaan kepada anak atas berbagai prestasi yang dilakukan. Sebaliknya sedapat mungkin menghindari bentuk punishment atau hukuman. Sebab,hukuman yang kelewat batas akan membuat harga diri anak down atauturun.

Fase 8 penutup

·           Pendidik memberikan memberikan materi kepada peserta didik, lalu tatapmuka  selanjutnya pendidik memberikan penugasa kepada peserta didik agar mereka meluangkan ide dan gagasanya dengan tulisan.

h.      Langkah – langkah berbasis Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) :

Dalam pendidikan berbasis Kecerdasan Majemuk(Multipe Intelliigences) tahap awal yaitu dengan mengenalkan kepada peserta didik tentang kecerdasan dengan cara membuat semacam iklan berbentuk posstr yang dicetak setiap hari atau bisa juga dibuat sebelum pelajaran dumulai, gara memudahkan peserta didik untuk mencerna apa yang apa yang akan disampaiakn oleh peserta pendidik. Yaitu berisi tentang kecerdasan yang berjumlah 8 jenis itu, sehinga peserta didik mampu memahami bahwa dirinya mempuyai kecerdasan dan memahami kecendrugan-kecendrungan yang dialami oleh peserta didik, dengan harapan peserta didik ampu mengontrol dan menemukan titik nyaman dalam belajar dan bisa mengembangkan kecerdasanya dengan baik.

Tahap pertemuan pertama sebelum dimulai proses pembelajaran pendidik memberikan beberpa pertayaan kepada peserta didik tentang 8 kecerdasan dalam diri manusia, proses itu adalah pendidik menerangkan dan menemukan kecendrungan kecenduran kecerdasan yang dimiliki pesera didik.

Lalu tahp tatpmuka selajutnya pendidik mengaplikasikan bahan ajarnaya yang disiapkan yang mengacu pada sekenario yang telah dibuat serta memangfaatkan atau memakai media pendidikan yang telah direncanakan,setelah itu pendidik memberikan nilai kepada peserta didik bertujuan agar pendidik dapat mengukur aspek-aspek dalam diri peserta didik yang telah didiknya, yaitu ketiga aspek dalam diri manusia, pertama aspek kongnitif afektif danpesikomotorik.Selanutnya pendidik tingal menerapkan pendidikan dengan konsep kecerdasan majmuk.

 

i.        Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Majemuk pada Tiap-tiap Kecerdasan :

1.  Keceerdasan Linguistik bisa dicoba mengunakan metode peluang dengan tata metode membagikan peluang peserta didik agar bisa menceritakan, menulis kembali apa yang telah dipelajari siswa denag itu peserta didik mendapatkan banyak peluang untuk bisa menspresikan menyampaikan hasil belajarnya dengan baik seperti mempelajari tentang sejarah perang badar, peserta didik di beri peluang gara mengambarkan kembali penafsiran merak tentang sejarah perang badar dengan gaya bahasanya sendiri secara luas lugas di depan kelas.

2.  Kecerdasan Matematik- logis bisa terwujud dalam bentuk menghitung, misal para siswa diberikan soal ilmu faroid, peserta didik diberikan penjelasan dan memahami tentang dalil dalil dalam bab faroid, lalu peserta didik diberikan soal-soal yang berbeda agar peserta didik dapan menghitung memecahkan masalah dari soal-soal tersebut dengan baik maka dengan itu peserta didik dapat mencermati permasalahan dan dapat memecahkan masalah dengan berhitung mengunakan kecerdasan tematik dengan baik.

3.  Kecerdasan Visual- Spatial kecerdasan ini bisa diaplikasikan dengan membuat karya kali grafi.

4.  Kecerdasan Kinestetik- Jasmani bisa ekspresikan dengan bentuk gerakan misal seperti praktek sholat, tayamum dan wudhu.

5.  Kecerdasan Musikal bisa diungkapkan dengan membagikan peluang serta tugas siswa mengaji, membuat nasyid. Guru sendiri dalam mempersiapkan sumber bahan yang akan diajarkan misal seperti merancang uraian tehnik qiro’ at.

6.  Kecerdasan Interpersonal bisa diaplikasikan dalam bentuk aktifitas seperti sharing, diskusi dan lain-lain. yang harus dicermati kecerdasan peserta ddik seperti ini adalah dengan memberi peraturah setiap siswa wajib aktif berkolaborasi di setiap kelompoknya masing-masing.  Jika pesertadidik masih ada yang tidak begitu mudah berkolaborasi butuh dibantu agar bisa lebih berani lagi.

7.  Kecerdasan Intrapersonal bisa dibesarkan dengan membagikan peserta didik kesempatan untuk bisa mencari refleksi pembelajaran dan diberikan waktu sejenak untuk bisa berfikir/menganalisa. Lalu pendidik memberikan soal-soal yang bersifat problematika secara luas, sehinga nanti peserta didik dapat menguraikan secara luas gagasanya untuk memecahkan tentang permasalahan yang diberikan pendidik kepada peserta didik yang dilakukan secara mandiri.

8.  Kecerdasan Alami bisa dirangsang dengan menanamkan kemandirian dan sifat percayadiri pada peserta didik, misal dengan memberikan edukasi edukasi alamiyah seperti jalan-jalan melihat pemandangan yang bernilai edukasi ilmiah, diputarkan video atau filem edukasi bisa tentang sejarah Nani, lalu peserta didik di intruksikan untuk merangkup semua apa yang telah di serapnya selama proses pembelajaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

 

Bersumber pada uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam kurikulum pendidikan agama islam terdapat kopetensi yang harus di kuasai oleh peserta didik maka setrategi pembelajaran dalam materi PAI  berbasis kecerdasan majmuk ialah salah satu upaya untuk mengoptimalkan segala kecerdasan yang di miliki oleh peserta didik.

Dalam pembelajaran Pendidikan PAI yang berbasis (Multiplle Intelegences) hal yang harus dilaksanakan sebagai pendidik dalam proses pembelajaran dimulai adalah dengan memperkenalkan kecerdasan yang dimiliki anak didiknya terlebih dahulu, sihingga dapat memicu para siswa-siswi mengenali dan menyadari serta dapaat mengembangakan kecerdasan dalam dirinya. Sehabis itu dikala saat sebelum pembelajaran dicoba guru bertanya pada peserta didikagar melaksanakan forum diskusi yamana forum itu membahas tentang 8 kecerdasan tersebut, pendidik menarangkan serta mengajak siswa buat melaksanakan bentuk pembelajaran tersebut dengan proses mencocokan kecendrungan kecerdasan yang ada pada dirinya peserta didik. Pada pertemuan selanjutnya guru melaksanakan proses pembelajaran bersumber pada skenario dan konsumsi media pembelajaran yang sudah direncanakan sebelumnya. Sehabis pembelajaran dicoba, guru melakukan evaluasi sehabis dikerjakannya pembelajaran dengan mengenakan strategi pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis kecerdasan majemuk.

Sesuai dengan konsep Multiple Intelligences, berbagai gaya dalam pembelajaran siswa dan perbandingan tingkatan kecenderungan peserta dididk mengenai adanya perbandingan individual, hal ini sangat penting untuk diperhatikan pagi para pendidik bahwa pesertadidik mempuyai berbagai macam gaya belajar yang berbeda-beda sehinga hapan atau tujuan dari pendidikan agama islam bisa di raih pleh pesertadidik dengan gaya belajar yang aktif keretif inovatif dan menyenagkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Kementerian Pendidikan Nasional, Kurikulum 2013 mata pelajaran

PAI. Agus Efendi, Revolusi Kecerdasan, Bandung : Alfabeta, 2005.

Evelyn Williams English, Mengajar Dengan Empati, Bandung : Nuansa, 2005. Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004.

Chatib, Munif, dkk, Guardian Angel; Romantika Membangun Sekolahny Manusia, Bandung: Kaifa,2013.

Chatib, Munif, Gurunya Manusia, Bandung: Kaifa Leraning, 2012.

Paul Suparno, Teori Intelligensi Ganda Dan Aplikasinya Di Sekolah, Jakarta :Kanisius, 2004.

Suparlan, Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Dari Konsepsi Sampai Dengan Implementasi, Yogyakarta: Hikayat, 2004.

Sama'un Bakry, Menggagas Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Bani Qurasy, 2005. Suharsimi Arikunto, Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara, 1980.

Thomas R. Hoerr, Buku Kerja Multiple Intelligences, Bandung : Kaifa Mizan, 2004.

Chatib Munif, Sekolahnya Manusia: Sekolah Berbasis Multiple Intelligence di Indonesia,

Bandung: Kaifa, 2009.

Silvana Santi, The Role of Multiple Intelligences and Learning Styles in Constructing Reading Assessment for Teenage English Learne, 2010.



[1]Suparlan Suhartono, Filsafat Pendidikan, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2009), hal. 80-81.

[2]Munif Chatib, dkk, Guardian Anggel; Romantika Membangun Sekolahnya Manusia,Cet-1.(Bandung: Kaifa, 2013), hal. 9-10.

[3]Thomas R. Hoer, Buku Kerja Multiple Intellegences, Cet-1, (Bandung: Khaifa, 2007),

[4]Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan, BAB I poin 19.

[5]Ahmad Munjin Nasih dan Lilik Nur Kholidah, Metode dan teknik pembelajaranPendidikan agamaislam, (Bandung: Refika Aditama, 2009), Hal.19.

[6]bid,. hal.19.

[7]Dokumen Keputusan Menteri Agama nomor 211 tahun 2011 tentang Pedoman PengembanganStandar Nasional Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah, Bab I.

[8]Muhaimin, dkk, Paradigma Pendidikan Agama Islam: Upaya Mengefektifkan PendidikanAgama IslamDi Sekolah, (Bandung: PT Remaja Posdakarya, 2004), hal. 145.

[9]Munif Chatib dan Alamsyah Said, Sekolah Anak-anak Juara..., hal. 112.

[10] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif …, hal.2.

[11] Didi Supriadi dan Deni Darmawan, Komunikasi Pembelajaran, Cet-2, (Bandung: PT RemajaRosdakarya, 2013), hal.9.

[12]Mulyono, Strategi Pembelajaran; Menuju Efektivitas…, hal.7.

[13] Munif Chatib, Gurunya Manusia…, hal.195.

[14] Keputusan Keementrian Agama Nomor 211 tahun 2011 tentang Pedoman

[15]Ibid.,hal.55.

[16] Dokumen UUD 1945

[17]Slamet Raharjo, “Relevani Tujuan Pendidikan…,hal.67.

[18] H.A.R. Tilaar, Membenahi Pendidikan Nasional, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), hal.152,Cet-2,

[19] Silvana Santi, The Role of Multiple Intelligences and Learning Styles in Constructing Reading Assessment for Teenage English Learne, 2010. Hal 11

[20] Suharsimi Arikunto, Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara, tahun 1980. Hal. 25


Komentar

Postingan populer dari blog ini

makalah Sighat At- Tahamul Wal- Ada’

BAB I PENDAHULUAN   A.   Latar Belakang      Allah telah memberikan kepada umat Nabi Muhammad Saw, para pendahulu selalu menjaga Al-Quran dan Al-Hadis Nabi. Mereka adalah orang-orang jujur, amanah, dan memegang janji sebagian diantara mereka mencurahkan perhatiannya terhadap al-Quran dan ilmunya yaitu para mufassirin. Manusia dalam hidupnya membutuhkan berbagai macam pengetahuan. Seseorang yang telah mempelajari hadits dengan sungguh-sungguh dengan cara yang benar memiliki beberapa kode etik yang harus dia jaga dan dia pelihara, baik ketika masih menjadi pelajar itu sendiri atau ketika dia sudah mengajarkannya kepada orang lain kelak. Di dalam ilmu hadits hal ini dikenal dengan istilah at tahammul wal ada’. Di dalam makalah ini akan dibahas cara perimaaan dan periwayatan hadis yang disebut dengan At-Tahammul wa Al-'Ada.            Para ulama hadis telah bersusah payah mengusahakan adanya ilmu hadis in...

PENILAIAN MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MELALUI GOOGLE FORM : SEPERAPA MUDAH DIGUNAKAN?

  Mochammad syihabbudin, Miftahul Huda 1 , Ni’matul Fadlilah 2 , Muhammad Thohir 3 Syihabb056@gmail.com Miftahuda186@gmail.com    Fadlilah19dila@gmail.com Muhammadthohir@uinsby.ac.id   Universitas Islam Negeri Sunan Ampel       Abstract     The covid pandemic 19 period has made distance learning a necessity.   One of the effects is that many teachers choose the google form application to do the assessment. Because the teacher's capacity varies in its design, this study aims to find out how easily the assessment of Islamic religious education (PAI) subjects through the Google form can be used by students. Using Usability Testing instrument with USE Questionnaire, the study used Islamic religious education students with class X SMK Unitomo Surabaya respondents.   After the data is obtained, an analysis is performed using Nielsen's usability criteria. Sstudy revealed that the assessment of PAI pursuit t...

Penggunaan Live Streaming dalam pembelajaran Madrasah Diniyah: Studi Kasus di PP Bumi Sholawat Sidoarjo

Penggunaan Live Streaming dalam pembelajaran Madrasah Diniyah: Studi Kasus di PP Bumi Sholawat Sidoarjo   Mochammad syihabbudin, Muhammad Yuda [1] , Moh Zaki Yamani [2] , Muhammad Thohir [3] Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Email.   Syihabb056@gmail.com muhammadyuda423@gmail.com , Zaqyzf@gmail.com , muhammadthohir@uinsby.ac.id   Abstract This research aims to analyze using live Streaming video of Madrasah Diniyah learning at Bumi Sholawat Islamic boarding school Sidoarjo. This research used a qualitative approach with the type of case study . .The research aim to obtain informations about problems and effects during learning through live streaming. Data collection techniques were carried out by means of observation interviews and documentation. In this study, respondents were 6 people consisting of several teachers and parents of students. In this case, respondents were given the initials SP1, SP2, SP3, SP4, SP5 and SP6. Semi-structured interviews...