ANALISIS PENERAPAN KONSEP KECERDASAN MAJEMUK PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENCAPAI TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL “Studikasus di SMP Unggulan Simanjaya Lamongan”
Mochammad syihabbudin
Moch. Khotibul umam
Universitas
Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
ABSTRAK.
Latarbelakang dari Penelitian ini didasari oleh
tujuan Pembelajaran Nasional
yaitu dengan meningkatkan kemampuan partisipan peserta didik, namun pada
praktek lapanganya masih terdapat sekolah yang menekankan pada keahlian logika
serta bahasa. SMP Unggulan Simanjaya
memberikan pengetahuan kepada
siswa-siswi dengan konsep kecerdasan majmuk
atau biasa di sebut dengan (multiple
intelligences) buat menimbulkan tiap keunggulaan kemampuan partisipan siswa bagaikan wujud nyata
kepedulian terhadap dunia pembelajaran. Riset ini bertujuan untuk mengenali
pelaksanaan kecerdasan majemuk pada pembelajaran
Pendidikan AgamaIslam dalam menggapai orientasi pembelajaran nasional
di SMP Unggulan Simanjaya lamongan, yang pembahasannya meliputi: pelaksanaan
serta relevansi pelaksanaan Pembelajaran PAI
dengan konsep kecerdasan majemuk. Riset ini
tercantum riset lapangan(field research) yang bertabiat kualitatif deskriptif bertempat di Sekolah SMP
Unggulan Simanjaya Lamongan.
Kata
Kunci: kecerdasan;
majemuk; multiple; pembelajaran; strat
A. PENDAHULUAN
Pembelajaran merupakan seluruh
aktivitas pendidikan yang berlangsung sejauh era dalam seluruh suasana
aktivitas kehidupan[1]Undang-
Undang Dasar bertepatan pada Pasal
31 Ayat 3 yang sudah diamandemen, ataupun UU Nomor. 20 tahun 2003 tentang
sistem pembelajaran Nasional, sebetulnya sudah menetapkan kalau seluruh proses pembelajaran
harus diperuntukan buat mengembangkan
segala kemampuan demi menggapai kehidupan yang sejahtera, baik secara raga, sepiritual maupun mental,
serta tidakuma melahirkan
masyarakat negeri– masyarakat negeri yang baik( good citizens).[2]Dalam
UU Nomor. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pembelajaran Nasional, Pembelajaran
dimaksud bagaikan; usaha siuman serta terencana buat mewujudkan atmosfer
belajar serta proses pendidikan supaya partisipan didik secara aktif
meningkatkan kemampuan dirinya buat mempunyai kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, karakter, kecerdasan, akhlak mulia, dan keahlian yang
dibutuhkan dirinya, warga, bangsa serta negeri.
Bagi Gardner kecerdasan ialah
keahlian yang dipunyai oleh seseorang
untuk memandang sesuatu permasalahan,
kemudian menuntaskan permasalahan tersebut ataupun membuat suatu yang bisa
bermanfaat untuk orang lain.[3]Teori
yang awal mulanya masuk kedalam ranah psikologi, kala ditarik ke dunia
pembelajaran jadi strategi pendidikan buat modul apapun pada bidang riset.
Pendidikan pada hakikatnya
merupakan proses interaksi antar partisipan didik, antara partisipan didik
dengan pendidik serta sumber belajar pada sesuatu area belajar.[4]
Interaksi yang baik bisa ditafsirkan dimana guru serta anak didik belajar
dengan gampang serta terdorong oleh kemauannya sendiri buat menekuni apa yang
terdapat dalam kurikulum bagaikan kebutuhan mereka.[5]Sebab
itu, tiap pendidikan, paling utama pendidikan agama sebaiknya berupaya
menjabarkan nilai-nilaiyang tercantum di dalam kurikulumserta
mengkorelasikannya dengan kondisi yang terdapat disekitar anak didik. Dalam
proses pendidikan, tercantum dalam pendidikan pembelajaran agama paling tidak
ada 3 komponen utamayang silig
mempengaruhi.Ketiga komponen tersebut adalah: (1) Kondisi pembelajaran; (2)
metode pembelajaran; (3) hasil Pembelajaran.[6]
Pembelajaran agama islam yang
bertujuan buat berkembangnya keahlian partisipan didik dalam menguasai,
menghayati, serta mengamalkan nilai- nilai agama Islam yang menyerasikan
penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi serta seni.[7]sejalan
dengan konsep kecerdasan majemuk yang diungkapkan oleh Gardner. Oleh sebab itu,
pendidikan Pembelajaran Agama Islamterpaut gimana membuat partisipan didik bisa
belajar dengan gampang serta terdorong oleh kemauannya sendiri buat menekuni
apa yang teraktualisasikan dalam kurikulum bagaikan kebutuhan partisipan didik serta
dianjurkan dengan tata cara pendidikan berbasis intelegensi buat menggapai
hasil pendidikan optimal.[8]
Sekolah berkualitas
merupakan lembaga
yanang nemerapkan belajar- mengajar, dengan kemampuan tidak
cuma kognitif tapi dengan kemampuan yang
lain, semacam menggambar, seni, serta
berolahraga, ataupun keahlian psikomotorik serta efisien.[9]Sedangkan SMP Unggulan Simanjaya berbasis pondok
pesantren ini merupakan sekolah yang
mempraktikkan konsep kecerdasan majemuk(Multiple Intelligences) pada tiap pembelajaran di sekolah.
Pelaksanaan konsep kecerdasan yang terdapat pada sekolah ini tidak cuma pada
pelajaran universal, pembelajaran isllam.
B. Metode
Penelitian
Yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah penelitian lapangan atau biasa di sebut dengan(field research)yang mana mempuyai bersifatkualitatif
deskriptif saya mengambil data penelitian
di Sekolah SMP
Unggulan Simanjaya lamongancara mendapatkan data mengunakan merode wawancara, observasidandokumentasi.[10]
C. PEMBAHASAN
a. Pengertian Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences)
Konsep kecerdasan majemuk(Multiple
Intellegences) bermula dari karya Howard Gardner di dalam bukunya Frames Of
Mind pada tahun 1983 didasarkan atas hasil riset sepanjang sebagian tahun
tntang mutu kognitf manusia( Human Cognitif Capacities) Gardner menolak
anggapan bila kognisi manusia ialah satu kesatuan serta manusia cuma memiliki
kecerdasan tunggal. Walaupun sebagian besar manusia menampilkan kemampuan yang
berbeda.manusia mempunyai sebagian kecerdasan serta bergabung jadi satu
kesatuan membentuk kemampuan orang yang lumayan besar. Howard Gardner
menghadirkan sekalian mempromosikan hasil riset Projecct Zero di Amerika yang
berkaitan dengan kecerdasan ganda(multiple intelligences).Teorinya melenyapkan
asumsi yang sepanjang ini tentang kecerdasan manusia. Hasil penelitiannya
menampilkan bila tidak terdapat satuan aktivitas manusia yang cuma menggunakan
satu berbagai kecerdasan, melainkan segala kecerdasan yang sepanjang ini dikira
terdapat 7 berbagai kecerdasan, serta pada novel yang canggih membutuhkan tiga kecerdasan lagi
berbagai kecerdasan.yang lain dalam membongkar permasalahan. Inteligensi, buat
Gardner, ialah keahlian buat membongkar permasalahan dalam suasana budaya
ataupun komunitas tertentu, yang terdiri dari 7 berbagai inteligensi.Walaupun
demikian, Gardner berikan ketahui bila jumlah tersebut dapat lebih ataupun
kurang, tetapi jelas bukan cuma satu kapasitas metal. Masalah tentang mengapa
orang memilah terletak dalan peran- peran yang berbeda( pakar fisika, petani,
penari), membutuhkan kerja bermacam kecerdasan bagaikan sesuatu campuran, dalam
penjelasannya kecerdasan buat nya, ialah keahlian buat menangkap suasana baru
dan keahlian buat belajar dari pengalaman masa sehabis itu seorang. Kecerdasan
tergantung pada konteks, tugas dan tuntutan yang diajukan oleh kehidupan kita,
serta bukan bergantung pada nilai Intelligence Quotient( Intelligence Quotient(
Intelligence Quotient(IQ)), gelar akademi besar ataupun reputasi bergengsi.
b.
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Pendidikan merupakan sesuatu
konsepsi dari 2 ukuran aktivitas(belajar serta mengajar) yang wajib
direncanakan serta diaktualisasikan, dan ditunjukan pada pencapaian tujuan
ataupun kemampuan beberapa kompetensi serta indikatornya bagaikan cerminan
hasil belajar.[11]
Sebaliknya dalam UU Sisdiknas dipaparkan, pendidikan merupakan proses interaksi
partisipan didik dengan pendidik serta sumber belajar pada sesuatu area
belajar. Pendidikan bukan cuma terbatas pada kejadian yang dicoba oleh guru
saja, melainkan mencakup seluruh kejadian yang memiliki pengaruh langsung dalam
proses belajar manusia.[12]
Bagi Dokter. Georgi Lazanov, psikologi dari Bulgaria, membagi pendidikan jadi 3
sesi, ialah:(1) Persiapan; menumbuhkaan sugesti dini( 2) Aktif; membagikan
pengalaman belajar kepada siswa serta pula menghasilkan keterlibatan.( 3)
Pasif; refleksi serta kaji ulang.[13]
c.
Pembelajaran Agama Islam
1.
Penafsiran
Pembelajaran Agama Islam
Pembelajaran agama merupakan pembelajaran yang membagikan
pengetahuan serta membentuk perilaku, karakter, serta keahlian untuk bisa
menerapkan pengetahuan agaamanya yang dilakukan paling tidak melalu seluruh
mata pembelajaran PAI, atau bisa juga pada jenjang, serta tipe pembelajaran.[14]
Sebaliknya Pembelajaran Agama Islam merupakan upaya mempersiapkan partisipan
didik buat memahami, menguasai, menghayati, mengimani serta mengamalkan ajaran
serta nilai- nilai agama islam dari sumber utamanya: kitab suci Angkatan laut
AL-Qur’ an serta Hadist, lewat aktivitas tutorial, pengajaran, latihan, dan
pemakaian pengalaman, diiringi tuntunan buat menghormati penganut agama lain
dalam hubungannya dengan kerukunan inter serta antar umat beragama sehingga
terwujud persatuanserta kesatuan bangsa.[15]
d.
Tujuan Pembelajaran Nasional
Pembukaan Undang-
Undang Dasar 1945 sudah diungkapkanorientasi dari pemerintah Negara Republik
Republik Indonesia adalahmencerdaskan kehidupan bangsa.[16]
Usaha buat menggapai tujuan yang dicita- citakan terebut dengan jalur lewat
proses pembelajaran.[17]
Oleh karenanya, bukanlah salah kala tujuan pembelajaran cocok dengan tujuan
para pendiri bangsa. Ditambah dengan terdapatnya perbedaaan antar– wilayah
sangat membagikan tantangan didalam usaha buat tingkatkan kualitas pembelajaran
Nasional.[18]
e.
Jenis-Jenis kecerdasan
menurut Gardner
Yang tercantum
dalam bukunya The Theory of Multiple
Intelegence,Pada tahun 1983 yang dikarang
oleh Howard Gardner, bahwa ada 8 macam komponen
kecerdasan, yang biasa disebutn dengan Multiple Intlegence (Intelegensi
Gannda). Intelegensi ganda tesebut meliputi: (1) kecerdasan linguistic-verbal
(2) kecerdasan logika-matematik (3) kecerdasan sepasial-visual, (4) kecerdasan
ritmik- musik,(5)kecerdasan kinestetik, (6) kecerdasan interpersonal, (7)
kecerdasan intrapersonal, (8)
kecerdasan
naturalis;
a.
KecerdasanLingguistic-ferbal
Bentuk dari
kecerdasan ini berupa
keahlian yang dapat menyusun polah
pikiranya dengan jelas pun juga mampu menyampaikan dalam bentuk ucapan bisa
dengan cara berdialog, bisa juga dengan
menulis, serta membaca. Mereka yang
mempuyai kecerdasan seperti ini sangat cakap dalam bertutur bahasa,
misa dengan menceriterakan
cerita atau dongeng, berdebat, berdiskusi, meyampaikan
sebuah pengertian, mengantarkan laporan serta
bermacam aktifitas yang lainya.Yang mana terpaut dengan
berdialog serta menulis.Kecerdasan tersebut sangat dibutuhkan untuk profesi seperti pengacara, guru, editor, penyiar radio/Tv, public spiker,
penulis. Memperjelas bahwabahwa kecerdasan yang dimaksuddiatas
peserta dididk mempunyai identitas
keahlian seperti dibawah ini:
a)
Sanggup dan paham membaca serta apa yang telah dibaca.
b)
Sanggup
mendengarkan serta
membagikan merespon sesuatu
komunikasi yang bersifat
verbal.
c)
Sanggup mengulang suara, menekuni bahasa orang asing, sanggup membaca mahakarya orang lain.
d)
Sanggup menulis serta berdialog secara efisien.
e)
Tertarik pada karya jurnalism, berdebat, pandai
mengantarkan cerita ataupun melaksanakan revisi pada karya tulis.
f)
Sanggup belajar lewat rungu, bahan teks, tulisan
serta lewat dialog, maupun debat.
g)
Peka terhadap makna kata, urutan, ritme serta
intonasi kata yang diucapkan.
h)
Mempunyai
perbendaharaan kata yang luas, suka puisi, serta game kata.Profesi: pustakawan,
editor, penerjemah, jurnalis, tenaga dorongan hukum, pngacara, skretaris, guru
bahasa, orator, pembawa kegiatan di radio/ Televisi, serta sebagainya.
Dengan kecerdasan
ini peserta tak hanya memahami tentang ilmu atau teori dalam meteri Pendidikan
Agama Islam tapi peserta diidk juga mampu mengaplikasikan dalam keseharian,
seperti pepatah arab, ilmu apa tidak diamalkan bagaikan pohon yang tak berbuah.
b.
KecerdasanLogika-Matematik
Kecendrungan yang
dimiliki oleh orang yang mempuyai kecerdasan matematik adalah mereka mampu
berhubungan dengan angka-angka mempuyai gaya berfikir logis, suka dengan
bilangan, dan sangat ilmiah terdapatnya konsistensi
dalam berfikir. Seorang yang pintar
secara berlogika-matematika seringkaliberminat terhadap
pola serta bilangan/ angka- angka.Mereka belajar dengan kilat pembedahan
bilangan serta kilat menguasai konsep waktu, menarangkan konsep secara logis,
ataupun merumuskan data berbau
matematik, seperti contoh dalam ilmu
waris nujum atau perbintangan.
Kecerdasan ini amat berarti bagi peserta didik,
sebab hendak menolong meningkatkan keahlian berpikir serta logika seorang.Peserta didikmenjadilebih mudauntuk mengelolah gaya
berfikir logisnya sebab terlatih dengan kedisiplin mental serta
belajar menciptakan alur pikir
yang benar ataupun salah.
Selain itu pula kecerdasan yang dimaksud bisa menolong
menciptakan metode kerja, pola,sertaikatan,meningkatkankeahlian pemecahan
permasalahan, mengklasifikasikan serta mengelompokkan, tingkatkan penafsiranbilanganya serta berarti lagi
tingkatkan energi ingat. Berikut
adalah identifikasi bentuk kecerdasan sebagai berikut:
a)
Memahami serta paham konsep jumlah, waktu serta prinsip
kausalitas.
b) Sanggup mengamati objek serta
paham guna dari objek tersebut.
c)
Pandai dalam pemecahan permasalahan yang menuntut pemikiran
logis.
d) Menikmati pekerjaanyang
berhubungan dengan kalkulus, pemograman pc, tata cara studi.
e)
Berpikir secara matematis dengan mengumpulkan bukti-bukti,
membuat hipotesis, merumuskan serta membangun argumentasi kokoh.
f)
Tertarik dengan karir di bidang teknologi, mesin, metode,
akuntansi, serta hukum.
g) Memakai simbol- simbol
abstrak buat menarangkan konsep serta objek yang konkret.
Kecerdasan ini bisa
dikaitkan dengan pembelajaran fiqih, seperti ilmu waris perbintagan dan
materi-materi ubudiyah yang laen tidak hanya itu kecerdasan ini juga sangan
cocok dengan Profesi seperti, pakar statistik, analisis/ programer
pc, pakar ekonomi, teknisi, guru IPA/ Fisika, serta lainsebagainya.
a.
KecerdasanSpasial-Visual
Bentuk dari Kecerdasan
ini ditunjukkan oleh keahlian sese
seorang agar bisa melihatsecara rinci
cerminan visual yang ada di sekitarnya. Seseorang seniman bisa mempunyai
keahlian anggapan yang besar. Apabila mereka memandang suatu lukisan, mereka
bisa memandang terdapatnya perbandingan yang nampak di antara goresan- goresan
kuas, walaupun orang lain tidak sanggup melihatnya. Dengan mengamati suatu
gambar, seseorang juru foto bisa membuat analisis menimpa kelemahan ataupun
kekuatan dari gambar tersebut semacam arah datangnya sinar, latar balik, serta
sebagainya, apalagi mereka bisa berikan jalur keluar gimana seandainya gambar tersebut kualitasnya ditingkatkan lagi agar bisa lebih
menarik.
Aplikasi dari
bentuk kecerdasan ini adalah semacam juru foto,
seniman,. Pada orang- orang ini dituntut buat memandang secara pas cerminan
visual serta setelah itu member makna terhadap cerminan tersebut.Profesi:
insinyur, surveyor, arsitek, perencana kota, seniman grafis kaligrafi, bidang dalamnya, juru
foto, guru kesenian, pilot, pematung, serta sebagainya.Lebih jelasnya
kecerdasan ini mempunyai identitas keahlian bagaikan berikut:
a)
Bahagia mencoret- coret, menggambar, melukis serta membuat
arca.
b)
Bahagia belajar dengan grafik, peta, diagram, ataupun
perlengkapan bantu visual yang lain.
c)
Bagus dalam berhayal, imaginasi serta kereatif.
d)
Menggemari seperti filem, foto, poster serta presentasi visual yang lain.
e)
Pandai main puzzle, mazes serta tugas- lugas lain yang
berkaitan dengan manipulasi.
f)
Mudah saat belajar dengan pengamatan, memandang, mengidentifikasi objek, wajah, wujud, serta corak.
g)
Seringkali mengfungsikan media gambar untuk wahana
pengingat.
Sedangkan Profesi yang cocok untuk mengembangkan potensi peserta didik
adalah bisa menjadi musikus sholawat, pembuat instrument lagu, Keybordis pakar pengobatan musik,
penulis syair atau lagu, dirigen
orkestra, sastrawan, musisi, serta sebagainya.Lebih
jelasnya kecerdasan ini mempunyai identitas keahlian bagaikanberikut:
h)
Menggemari banyak tipe perlengkapan musik serta senantiasa
tertarik buat memainkan perlengkapan mucik.
i)
Gampang megingat dengan lagu dan peka kepada suara.
j)
Paham enspresi dan
emosi lagu.
k)
Bahagia mengumpulkan lagu, baik CD, kaset, ataupun lirik
lagu.
l)
Sanggup menghasilkan bagian-bagian music.
m)
Bahagia mengimpruf dan bermain-main suara.
n)
Menggemari serta sanggup bernyanyi.
o)
Sanggup memperdalam sesuatu musik.
c.
KecerdasanKinestetik.
Kecerdasan ini ditunjukkan oleh
keahlian seorang untuk
membangun ikatan yang berarti antara benak dengan badan, yang memungkin badan untuk memanipulasi objek
ataupun menghasilkan gerakan. Secara hayati kala lahir seluruh balita dalam
kondisi tidak berdaya, setelah itu berangsur-angsur tumbuh dengan menampilkan
bermacam pola gerakan, tengkurap,“ berangkang”, berdiri, berjalan, serta
setelah itu berlari, apalagi pada umur anak muda tumbuh keahlian berenang serta
akrobatik.
d.
KecerdasanIntrapersonal
Bila peserta didik
mempunyai kecerdasan ini dia mudah menilai diri sendiri, “muhasabah”mudah
berimajinasi membuat gagasan, dan impianya. Kecerdasan ini sangat pas bila di aplikasikan pada Profesiterapis, konseler, ulama sepertiahli
psikologi, ahli teknologi, perencana program, pengusaha, dan sebagainya.
f.
Konsep Multiple Intelligences
Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
1. Mengenal multiple
intelligencessiswa
Permasalah mendasar
dalam proses trasfer ilmu adalah bagaimana pendidik mampu menyampaikan
informasi ataupun ilmunya kepada peserta didik dengan baik dan benar sehingga
peserta didik mampu mendapatkan fasilitas pendidikan dengan baik. Pendidik
sangat diperlukan kemampuan mengetahui dan menganalisis gaya belajar peserta
didiknay tak hanya itu pendidik juga harus mampu
memfasilitasi mereka untuk bisa memaksimalkan dan memfungsikan gaya belajar
mereka, dan mengembangkan kemampuan yang
masih kurang dominan. Sehingga pendidikbisa menyampaikan ilmunya dengan cara
yang sesuai dengan gaya belajar pesertadidiknya,.
Lalu dengan adanya variasi
dalam menyampaikan informasi kepada peserta
didikdengan menyeluruhkemungkinan besar
siswa mampu belajar lebih baik dan
lebih maxsimal, terutama jika metode
mengajar yang digunakan cocok dengan
gaya belajar yang disukai peserta didik.
Selain itu, peserta didik sangup belajar
dengan gaya lain, tidak hanya dalam gaya yang
disukaimereka.[19]
Data penelian
teruangkapkan oleh Dr. Howard Gardner, ternyata gaya
belajar peserta didik terlihat dengan kecendrungan yang
dilakukan peserta didik saat beraktifitas disekolah maupun dirumahdan juga
peserta didik tercerminkan dari kecenderungan -kecerdasan yang
dimiliki oleh pesert adidik itu sendiri.
Oleh sebab itu, seyohyanya setiap pengajar harus mempuyai data tentang
kecendurngan dan gaya belajar peserta didik
masing- masing. Kemudian, setiap pendidik
juga harus mencocokan dengangaya belajat peserta didik yang diampuh selama proses
pendidikan berlangsung yang mana itu semua dapat
diketahui dari Multiple Intelligences
Research(MIR).
a. Anak Aural(auditory-musical).
Anak aural meresap data
dengan rungu; baik suara ataupun musik. Mereka sensitif dengan intonasi, irama,
dinamika, tempo, keras- pelan, suara jauh- dekat. Anak aural belajar sembari
mencermati musik, tidak menggemari“ kesunyian”. Mereka bahagia bersenandung,
membuat nada/ rima sendiri. Untuk anak aural, bunyi/ nada/ lagu bawa pada suatu
emosi ataupun kejadian tertentu. Meski lagi membaca novel, mereka memerlukan
suara/ musik buat menemaninya. Media serta metode belajar:
1)
memakai tata cara ceramah/ kuliah
2)
memakai melodi buat bacaan; bergumam
3)
membaca dengan suara keras( read aloud)
4)
membangun atmosfer musikal utk menghasilkan suasana
5)
memakai media audio visual CD/ VCD
6)
mencermati kuliah/ pidato/ radio di rumah serta jalan
b. Anak Raga(kinesthetic).
Anak raga memakai anggota tubuh
mereka buat belajar. Mereka bahagia berupaya serta melaksanakan seluruh suatu
sendiri( learning by doing). Mereka belajar dengan metode: memegang, membangun,
membetulkan, membuat. Mereka acapkali tidak tabah membaca novel petunjuk
ataupun diagram, serta langsung mau berupaya melaksanakan sendiri.Kanak- kanak
raga sensitif terhadap tekstur, metode kerja, serta kenyataan raga yang nampak
nyata di hadapannya.
c.
Anak Sosial(interpersonal).
Peserta didik yang
mudah bergaul dengan teman dan orang baru memiliki sosial yang tinggi mudah
berkolaborasi dengan temanya. Biasanya juga
dengan mudah mendapatkan pembelajaran dari pengalaman atau mencari umpan balik
dari respon orang lain terhadap apa-apa yang disampaikannya. Media dan cara
belajar:
1)
Suka bergaul dengan lingkungan yang komunal seperti kelompok, klub,organisasi
2)
Lebih cendrung megerjakan bersama
3)
Suka berdiskusi (role-playing)
4)
Orang lapangan
5)
Suka mengikuti training atau seminar
d. Anak
Penyendiri(intrapersonal).
Peserta didik yang
suka menyendiri mempuyai kecendrungan yang berbeda dengan yang lain mereka
lebih reflektif dan efektif jika belajar dan melakukan segalahal sendiri
dan mempuyai gaya belajar yang berbeda
dengan yang lain mempuyai kecendrugan yang melakukan segalahan secara mandiri, Media
& cara belajar:
1)
Mendapatkan pesen atau sesuatu yang disukai dan hopi
2)
Mencafi sumber pengetahuan dengan membaca buku atau
materi materi pendidikan yang didapatkan dari pengalaman.
3)
Mengerjakan tugas sendiri
4)
Menulis jurnal dalam blok atau websait
g.
Strategi pembelajaran
berbasis Multiple Intelligences dalam pembelajaran pendidikan agama Islam
Strategi pendidikan
kecerdasan majemuk merupakan Upaya memaksimalkan seluruh kecerdasan( Multiple
Intelligences) yang dipunyai menggapai kompetensi tertentu yang ada dalam
kurikulum.
Fase- fase Model Pendidikan Berbasis Kecerdasan
Majemuk:
Fase 1 Kurikulum
• Guru
merancang sesuatu pendekatan pendidikan bersumber pada kurikulum yang berlaku.
Terdapat 2 metode mengarahkan kecerdasan lewat kurikulum,
ialah:
1) Bisa dianjurkan
langsung sebagaimana terdapatnya, dengan metode Mengawali dari satu tipe
kecerdasan buat setelah itu memikirkan tugas- tugas yang mencampurkan bermacam
ranah kurikulum. Tetapi metode ini kurang disukai oleh guru sebab lumayan
banyak menyita waktu serta atensi mereka kala ditambahkan ranah yang lain pada
kurikulum mereka yang terkadang telah sangat padat.
2) Dengan
disisipkan kedalam kurikulum reguler, dengan metode diawali dengan mengambil
sesuatu ranah kurikulum buat setelah itu merancang sesuatu pendekatan yang
mengaitkan tiap- tiap kecerdasan.
Fase 2 Perencanaan pembelajaran
·
Guru merancang
pendidikan cocok dengan kompetensi yang mau dicapai pada tiap modul PAI.
Fase 3 Metodologi pembelajaran
·
Guru memastikan tata cara/ metode pendidikan
yang sangat cocok/ sesuai dengan kompetensi yang mau dicapai pada tiap modul.
Setelah itu Guru mengidentifikasi tipe kecerdasan yang sangat dominan/ efisien
digunakan cocok dengan metode/ tata cara yang digunakan.
Metodologi serta
strategi yang digunakan oleh pendidik. Tidak seorangpun bisa menjamin kalau
metode serta strategi didalam pemakaian metodologi tersebut apakah hendak
sukses mendukung bakat siswa ataupun malah menguatkan kelemahan mereka. Oleh
sebab itu buat menggunaan metodologi dalam pendidikan sebaiknya memakai
pendekatan pendidikan yang sebaik serta sebanyak bisa jadi, dengan ketentuan
disesuaikan dengan tujuan dan tipe kompetensi yang mau dicapai. Bagaikan contoh
pendidikan Kooperatif, Pendidikan kooperatif digunakan bagaikan metode aktif
mengaitkan kecerdasan interpersonal, mengajak siswa buat bisa berkolaborasi
dengan baik dengan orang lain.
Fase 4 Tujuan pembelajaran
·
pendidik bisa menyampaiakan apa tujuan dari pembelajaran
yang disampaiakn dan dicapai oleh pendidik kepada peserta didik dengan memintak
peserta didik untuk berperan aktif dalam pembelajaran dengan mengenali
kecerdasan.
Fase 5 Pelaksanaan pembelajaran
·
Selama penerapan pendidikan, guru mengobservasi
keterlaksanaan kecerdasan majemuk serta mengenali jenis- jenis kecerdasan yang
timbul pada diri siswa.
a.
Belajar Efektif &Menyenangkan
Belajar dengan cara
yang efesien dalam kondisi yang menyenagkan menjadi nilai lebih peserta didik
dalam proses pembelajaran. mencerminkan kemauan
kokoh pengarangnya supaya kalimat revolusi ini betul- betul dicermati serta
diterapkan dalam pendidikan. Terdapat bermacam teori tentang otak.
b.
Desin Ruang BelajarEfektif
Bukan hanya fokus
pada satu titik saja memikirkan pada motivasi belajar peserta didik, namun managemen sekolahjuga membutuhkan desain ruangan
belajar yang menarik danyaman untuk dipakek dalam proses pembelajaran.
Fase 6 Evaluasi
·
Pendidik memberikan evaluasi kepada peserta didik tentang
hasil belajarnya dengan tes tulis, talu dengan tes lisan, ataupun berupa tes prestasi
peserta didik.
Pandagan umum bahwa
evaluasi berfungsi sebagai informasi sejauh mana keberhasilan proses trasper
pengetahuan kepada peserta didik dan kegagalan program kegiatan yang digagas
dan dilaksanakan dalam wujud tujuan ketercapaian pembuatan program.Dengan
keterkaitanya program-program pendidikan, lalu tujuan evaluasi pendidikan ialah
sabagai bentuk agar mendapatkan data dan pembuktian yang
menunjukkan berhasil dan tidaknyaatau tingkat
kemampuan dan keberhasilan peserta didik dalam kegiatanapengajarnya (Ngalim, P., 1983).
Selanjutnya Bloom (Nana Sudjana,
2000) mengartikan hasil belajar merupakan hasil berubahnya diri
yang meliputi tiga ranah yakni, ada 3 ranah yang pertama ranah
kognitif, yang ke dua
ranah afektif, dan yang terahir
adalah ranah psikomotor dimana masing-masing ranahnya
mempunyai tingkatan kemampuan atau sering disebut dengan tipe hasil belajar.
Namun tipe hasil belajar yang akan dibahas dalam penelitian ini hanyalah pada
aspek kognitifnya saja, karena penguasaan yang akan dilihat dalam penelitian
ini hanyal dalam ranah kognitifnyasaja.
Adapun tingkatan kemampuan atau
tipe hasil belajar pada aspek kognitif menurut Bloom ada enam, yaitu sebagai
berikut:
1. Pengetahuan (Knowledge),
yaitu kemampuan siswa untuk mengingat hal- hal yang telah dipelajari. Pada
tingkat ini siswa hanya dituntut untuk mengenal atau mengetahui mengenai
konsep, fakta atau istilah. Kata-kata operasional yang biasa digunakan untuk
tespengetahuan.
2. Pemahaman (Comprehension),
yaitu kemampuan agar bisa difahami atau memahami mengenai maksud, gagas, situasi, serta fakta yang telah diketahuinya. Pada perihal ini siswa atau responden mampu memahami
konsep dari masalah atau fakta yang telah di pertanyakan tidak hanya hafal secara verbalistis
saja.
3. Aplikasi (Aplication), yaitu
kemampuan untuk menerapkan sesuatu yang telah dipelajari kepada sesuatu yang
sifatnyabaru.
4. Sintesis (Synthesis), yaitu
kemampuan untuk menyatukan unsur-unsur atau bagian- bagian kedalam suatu bentuk
yang menyeluruh(integritas).
5. Analisis (Analysis), yaitu yaitu kemampuan untuk menguraikan suatu
sistem atau situasi tertentu kedalam komponen atau unsurpembentuknya.
6. Evaluasi (Evaluation), yaitu
kemampuan untuk membuat suatu penilaian tentang suatu pertanyaan, konsep,
dansebagainya.
Teknik atau cara evaluasi itu
terdiri dari dua macam yaitu, diantaranya sebagai berikut:[20]
a)
TeknikTes
Tes adalah penilaian yang dilakukan
secara komprehensif terhadap seorang individu atau keseluruhan usaha evaluasi
program (Suharsimi Arikunto, 2001). Suharsimi Arikunto (1987) juga menyebutkan
bahwa untuk melaksanakan evaluasi hasil mengajar atau belajar dari suatu proses
belajar mengajar, seorang guru dapat menggunakan 2 hasil belajar peserta didik yaitu : tes yang sudah dibuat setandar
pencapaian.
(standardizeed
test) atau tes yang dibuat oleh guru sendiri (teacher
made test). Oleh sebabitu dengan
tes hasil belajarini telah dipergunakan pada
penelitian ini adalah merupakan tes buatan guru (teacher made test) maka uraian
pada penelitian ini selanjutnya akan lebih ditekankan pada tes buatanguru.
Menurut Suharsimi Arikunto (1987)
tes hasil belajar yang biasa dilakukan (dibuat) oleh guru itu dapat dibagi dua
macam, yakni:
1.
Tes lisan (oraltest)
Tes lisan adalah merupakan
penilaian atau tes yang dilakukan oleh guru secara lisan seperti halnya tanya
jawab. Pada tes lisan ini seorang guru memberikan pertanyaan dan siswa menjawab
secara lisan.
2.
Tes tulisan (writtentest).
Sedangkan tes tertulis merupakan
tes yang diberikan oleh guru kepada siswa dalam bentuk tertulis. Tes tertulis
dapat dibagi atas :
* Tes essay (essayexamination)
Menurut (Suharsimi Arikunto, 1987 :
48) adalah tes yang berbentuk uaraian pernyataan atau bisa
melalui pertanyaan yang dijawab secara luas dengan bentuk tulisan.
* Tesobjektif.
tes objektif ialah tes dengan cara global yaitu menilai secara
trasparan dan secara objektif,sehinga scor yang dihasilkan dari tes bisa bobjektif dan
tidak berbeda atau sama.
b)
TeknikNon-Tes
Adapun yang tergolong dalam teknik non-tes disini
yaitu sebagai berikut :
1.
Kuesioner atau angket : Pada dasarnya kuesioner adalah sebuah
daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur(responden).
2.
Teknik Wawancara atau interview : ialah metode untuk bisa
menghasilkan data dengan cara memberikan pertanyaan kepada narasumber.
3.
Pengamatan: yaitu teknik dengan pengadaan pengamatan kepada
peserta didik secara sistematis dan teliti.
4.
Daftar cocok atau Check list : adalah deretan pertanyaan
(yang biasanya singkat), dimana responden yang dievaluasi tinggal membubuhkan
tanda cocok (checklist).
5.
Riwayat hidup : adalah gambaran tentang keadaan seseorang
selama dalam masakehidupannya.
Fase 7 Memberikan Reward/Penghargaan
·
Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun
hasil belajar siswa. Reward Yes, Punishment No. Sebisa mungkin seorang pendidik
memberikan reward atau penghargaan kepada anak atas berbagai prestasi yang
dilakukan. Sebaliknya sedapat mungkin menghindari bentuk punishment atau
hukuman. Sebab,hukuman yang kelewat batas akan membuat harga diri anak down
atauturun.
Fase 8 penutup
·
Pendidik memberikan memberikan materi kepada peserta
didik, lalu tatapmuka selanjutnya pendidik
memberikan penugasa kepada peserta didik agar mereka meluangkan ide dan gagasanya dengan tulisan.
h.
Langkah – langkah berbasis
Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) :
Dalam pendidikan berbasis
Kecerdasan Majemuk(Multipe Intelliigences)
tahap awal yaitu dengan mengenalkan kepada peserta didik
tentang kecerdasan dengan cara membuat semacam iklan berbentuk posstr yang
dicetak setiap hari atau bisa juga dibuat sebelum pelajaran dumulai, gara
memudahkan peserta didik untuk mencerna apa yang apa yang akan disampaiakn oleh
peserta pendidik. Yaitu berisi tentang kecerdasan yang berjumlah 8 jenis itu,
sehinga peserta didik mampu memahami bahwa dirinya mempuyai kecerdasan dan
memahami kecendrugan-kecendrungan yang dialami oleh peserta didik, dengan
harapan peserta didik ampu mengontrol dan menemukan titik nyaman dalam belajar
dan bisa mengembangkan kecerdasanya dengan baik.
Tahap pertemuan
pertama sebelum dimulai proses pembelajaran pendidik memberikan beberpa
pertayaan kepada peserta didik tentang 8 kecerdasan dalam diri manusia, proses
itu adalah pendidik menerangkan dan menemukan kecendrungan kecenduran
kecerdasan yang dimiliki pesera didik.
Lalu tahp tatpmuka
selajutnya pendidik mengaplikasikan bahan ajarnaya yang disiapkan yang mengacu
pada sekenario yang telah dibuat serta memangfaatkan atau memakai media
pendidikan yang telah direncanakan,setelah itu pendidik memberikan nilai kepada peserta
didik bertujuan agar pendidik dapat mengukur aspek-aspek dalam diri peserta
didik yang telah didiknya, yaitu ketiga aspek dalam diri manusia, pertama aspek
kongnitif afektif danpesikomotorik.Selanutnya pendidik tingal menerapkan
pendidikan dengan konsep kecerdasan majmuk.
i.
Penerapan Model Pembelajaran
Berbasis Kecerdasan Majemuk pada Tiap-tiap Kecerdasan :
1. Keceerdasan Linguistik bisa dicoba mengunakan metode
peluang dengan
tata metode membagikan peluang peserta didik agar bisa menceritakan, menulis
kembali apa yang telah dipelajari siswa denag itu peserta didik mendapatkan
banyak peluang untuk bisa menspresikan menyampaikan hasil belajarnya dengan
baik seperti mempelajari tentang sejarah perang badar, peserta didik di beri
peluang gara mengambarkan kembali penafsiran merak tentang sejarah perang badar
dengan gaya bahasanya sendiri secara luas lugas di depan kelas.
2. Kecerdasan Matematik- logis bisa terwujud dalam bentuk
menghitung, misal para siswa diberikan soal ilmu faroid, peserta didik
diberikan penjelasan dan memahami tentang dalil dalil dalam bab faroid, lalu
peserta didik diberikan soal-soal yang berbeda agar peserta didik dapan
menghitung memecahkan masalah dari soal-soal tersebut dengan baik maka dengan
itu peserta didik dapat mencermati permasalahan dan dapat memecahkan masalah
dengan berhitung mengunakan kecerdasan tematik dengan baik.
3. Kecerdasan Visual- Spatial kecerdasan ini bisa
diaplikasikan dengan membuat karya kali grafi.
4. Kecerdasan Kinestetik- Jasmani bisa ekspresikan dengan
bentuk gerakan misal seperti praktek sholat, tayamum dan wudhu.
5. Kecerdasan Musikal bisa diungkapkan dengan membagikan peluang
serta tugas siswa mengaji, membuat nasyid. Guru sendiri dalam mempersiapkan
sumber bahan yang akan diajarkan misal seperti merancang uraian tehnik qiro’
at.
6. Kecerdasan Interpersonal bisa diaplikasikan dalam bentuk
aktifitas seperti sharing, diskusi dan lain-lain. yang harus dicermati
kecerdasan peserta ddik seperti ini adalah dengan memberi peraturah setiap
siswa wajib aktif berkolaborasi di setiap kelompoknya masing-masing. Jika pesertadidik masih ada yang tidak begitu
mudah berkolaborasi butuh dibantu agar bisa lebih berani lagi.
7. Kecerdasan Intrapersonal bisa dibesarkan dengan
membagikan peserta didik kesempatan untuk bisa mencari refleksi pembelajaran
dan diberikan waktu sejenak untuk bisa berfikir/menganalisa. Lalu pendidik
memberikan soal-soal yang bersifat problematika secara luas, sehinga nanti
peserta didik dapat menguraikan secara luas gagasanya untuk memecahkan tentang
permasalahan yang diberikan pendidik kepada peserta didik yang dilakukan secara
mandiri.
8. Kecerdasan Alami bisa dirangsang dengan menanamkan
kemandirian dan sifat percayadiri pada peserta didik, misal dengan memberikan
edukasi edukasi alamiyah seperti jalan-jalan melihat pemandangan yang bernilai
edukasi ilmiah, diputarkan video atau filem edukasi bisa tentang sejarah Nani,
lalu peserta didik di intruksikan untuk merangkup semua apa yang telah di
serapnya selama proses pembelajaran.
PENUTUP
Bersumber pada uraian diatas dapat ditarik kesimpulan
bahwa dalam kurikulum pendidikan agama islam terdapat kopetensi yang harus di
kuasai oleh peserta didik maka setrategi pembelajaran dalam materi PAI berbasis kecerdasan majmuk ialah salah satu
upaya untuk mengoptimalkan segala kecerdasan yang di miliki oleh peserta didik.
Dalam
pembelajaran Pendidikan PAI yang berbasis
(Multiplle Intelegences) hal yang harus dilaksanakan sebagai pendidik dalam
proses pembelajaran dimulai adalah dengan memperkenalkan kecerdasan yang
dimiliki anak didiknya terlebih dahulu, sihingga dapat memicu para siswa-siswi
mengenali dan menyadari serta dapaat mengembangakan kecerdasan dalam dirinya.
Sehabis itu dikala saat sebelum pembelajaran dicoba guru bertanya pada peserta
didikagar melaksanakan forum diskusi yamana forum itu membahas tentang 8
kecerdasan tersebut, pendidik menarangkan serta mengajak siswa buat
melaksanakan bentuk pembelajaran tersebut dengan proses mencocokan kecendrungan
kecerdasan yang ada pada dirinya peserta didik. Pada pertemuan selanjutnya guru
melaksanakan proses pembelajaran bersumber pada skenario dan konsumsi media
pembelajaran yang sudah direncanakan sebelumnya. Sehabis pembelajaran dicoba,
guru melakukan evaluasi sehabis dikerjakannya pembelajaran dengan mengenakan
strategi pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis kecerdasan majemuk.
Sesuai dengan konsep Multiple Intelligences, berbagai
gaya dalam pembelajaran siswa dan perbandingan tingkatan kecenderungan peserta
dididk mengenai adanya perbandingan individual, hal ini sangat penting untuk
diperhatikan pagi para pendidik bahwa pesertadidik mempuyai berbagai macam gaya
belajar yang berbeda-beda sehinga hapan atau tujuan dari pendidikan agama islam
bisa di raih pleh pesertadidik dengan gaya belajar yang aktif keretif inovatif
dan menyenagkan.
DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Pendidikan Nasional, Kurikulum
2013 mata pelajaran
PAI. Agus Efendi, Revolusi
Kecerdasan, Bandung : Alfabeta, 2005.
Evelyn Williams English, Mengajar
Dengan Empati, Bandung : Nuansa, 2005. Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam,
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004.
Chatib, Munif, dkk, Guardian Angel; Romantika Membangun
Sekolahny Manusia, Bandung: Kaifa,2013.
Chatib, Munif, Gurunya Manusia, Bandung: Kaifa
Leraning, 2012.
Paul Suparno, Teori Intelligensi
Ganda Dan Aplikasinya Di Sekolah, Jakarta :Kanisius, 2004.
Suparlan, Mencerdaskan Kehidupan
Bangsa Dari Konsepsi Sampai Dengan Implementasi, Yogyakarta: Hikayat, 2004.
Sama'un Bakry, Menggagas Ilmu
Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Bani Qurasy, 2005. Suharsimi Arikunto, Dasar
Evaluasi Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara, 1980.
Thomas R. Hoerr, Buku Kerja Multiple
Intelligences, Bandung : Kaifa Mizan, 2004.
Chatib Munif, Sekolahnya Manusia:
Sekolah Berbasis Multiple Intelligence di Indonesia,
Bandung: Kaifa, 2009.
Silvana Santi, The Role of Multiple
Intelligences and Learning Styles in Constructing Reading Assessment for
Teenage English Learne, 2010.
[1]Suparlan
Suhartono, Filsafat Pendidikan,
(Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2009), hal. 80-81.
[2]Munif Chatib,
dkk, Guardian Anggel; Romantika Membangun
Sekolahnya Manusia,Cet-1.(Bandung: Kaifa, 2013), hal. 9-10.
[3]Thomas R. Hoer, Buku Kerja Multiple
Intellegences, Cet-1, (Bandung: Khaifa, 2007),
[4]Republik Indonesia, Peraturan
Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan, BAB I
poin 19.
[5]Ahmad Munjin
Nasih dan Lilik Nur Kholidah, Metode dan
teknik pembelajaranPendidikan agamaislam, (Bandung: Refika Aditama, 2009),
Hal.19.
[6]bid,. hal.19.
[7]Dokumen Keputusan Menteri Agama nomor 211 tahun 2011 tentang Pedoman
PengembanganStandar Nasional Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah, Bab I.
[8]Muhaimin, dkk, Paradigma Pendidikan Agama Islam: Upaya
Mengefektifkan PendidikanAgama IslamDi Sekolah, (Bandung: PT Remaja
Posdakarya, 2004), hal. 145.
[9]Munif Chatib dan Alamsyah Said, Sekolah
Anak-anak Juara..., hal. 112.
[10] Sugiyono, Metode Penelitian
Kuantitatif …, hal.2.
[11] Didi Supriadi dan Deni Darmawan, Komunikasi Pembelajaran, Cet-2, (Bandung: PT RemajaRosdakarya,
2013), hal.9.
[12]Mulyono, Strategi
Pembelajaran; Menuju Efektivitas…, hal.7.
[13] Munif Chatib, Gurunya
Manusia…, hal.195.
[14] Keputusan Keementrian Agama Nomor 211 tahun 2011 tentang Pedoman
[15]Ibid.,hal.55.
[16] Dokumen UUD 1945
[17]Slamet Raharjo, “Relevani Tujuan Pendidikan…,hal.67.
[18] H.A.R. Tilaar, Membenahi
Pendidikan Nasional, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), hal.152,Cet-2,
[19] Silvana Santi, The Role of
Multiple Intelligences and Learning Styles in Constructing Reading Assessment
for Teenage English Learne, 2010. Hal 11
[20] Suharsimi Arikunto, Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta : Bumi
Aksara, tahun 1980. Hal. 25
Komentar
Posting Komentar