Langsung ke konten utama

E-LEARNING PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM: MAMPUKAH MENDORONG SISWA MERAIH KETERAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI


Mochammad syihabbudin ,Muhammad Alfian Masduqi, Muhammad Thohir

Universitas Islam Negeri Surabaya, Indonesia

Email : syihabb056@gmail.com fian.umm@gmail.com , muhammadthohir@uinsby.ac.id

Abstract

E-Learning is one of most strategic learning media in the revolution industry 4.0 era with a variety of digital technology offered. However, this technology still questioned by the ability to encourage critical thinking skill in value based learning, including history of Islamic culture subject which emphasizes in religious historical value. This research aims to describe more how higher-order thinking skills improve student in learning History Islamic Culture through E-learning media. This research uses descriptive qualitative methods and the data obtained through documentation, tests and interviews. Furthermore, the data analyzed both inductively and deductively as well. The result show that

Keywords: E-learning, Higher Order Thingking Skills,History Islamic Culture

Abstract

E-learning salah satu media pembelajaran yang sangat strategis di era revolusi industry 4.0 dengan berbagai teknologi cerdas digitalnya. Namun teknologi tersebut masih dipersoalkan kemampuan mendorong keterampilan berpikir kritis dalam pembelajaran yang berbasis nilai, termasuk mata pelajaran Sejarah Kebudayaan islam yang mengedepankan nilai-nilai historis keagamaan. Penelitian inibertujuan untuk mendeskripsikan sejauh mana pencapaian kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thingking Skills) siswa dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam melalui media E-learning dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, metode data penelitian diperoleh melalui dokumentasi, tes dan wawancara. Selanjutnya data dianalisis baik secara induktif dan deduktif. Hasil penelitian menunjukan bahwa …

Kata Kunci :E-learning, Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi, Sejarah Kebudayaan Islam

PENDAHULUAN

            Pendidikan di era berkembangnya teknologi digital dalam membantu peserta didik maupun guru dalam proses belajar mengajar, menjadi perhatian dalam dunia pendidikan. Kemampuan sumber daya manusia (SDM)  yang tinggi di-harapkan dapat berkompetisi diabad 21 dan industrisasi 4.0 era digital. Oleh sebab itu,pendidik di diharapkan untuk dapat meningkatkan kinerja yang berkualitas tinggi melalui belajar mengajar demi tercapainya tujuan dari belajar. Berdasarkan Undang-Undang No.20 tahun 2003 yang membahas tentang pendidikan, dikatakan bahwa pendidikan adalah kegiatan terstuktur, sadar dan berencana sebagai bagian dari usaha pengembangan diri untuk tercapainya potensi diri maksimal.

            Pada dasarnya manusia telah dibekali akal yang baik dari segi jasmani maupun rohani dan memiliki cara berpikir untuk beraktivitas. Melalui kegiatan belajar manusia dapat mengembangkan kemampuan intelektual dan interpersonalnya. Sebagai contoh kegiatan belajar mengajar di lingkungan sekolah. Untuk mencapai tujuan pembelajaran di dalam kurikulum, guru memberikanaktivitas  pembelajaran yang mendidik peserta didik. Tugas guru adalah mendorong siswa untuk mengembangkan kemampuan berfikir didalam proses belajar mengajar (Wina, 2011)[1]

            Cara berpikir tingkat tinggi atau dalam bahasa inggris Higher Order  Thingking Skills dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan yang di hadapi siswa secara efektif dan kreatif. Brookhart (2010) mengatakan bahwa HOTS sebagai proses perubahan dari sebuah permasalahan yang dapat di kupas penemuan jawaban dari masalahh tersebut dengan jalan berpikir yang kritis.[2] Peserta didik tidak hanya di tuntut menjawab pertanyaan soal-soal yang dipaparkan guru atau buku paket, namun  pembelajaran HOTS berorientasi pada keterampilan tingkat tinggi seperti problem solving.  Anderson dan Krathwohl’s (2010) merevisi tingkat kognitif menjadi 2, diantaranya; berpikir dilevel rendah (lower order thingking) pada level C1(mengingat) , C2(memahami),  dan C3(menerapkan), sedangkan cara berpikir tingkat tinggi berada di level C4 (menganalisis), C5 (menilai), C6 (mengkreasi).[3]

            Manusia memang dituntut untuk terus berkembang dan meliliki keinginan tahuan yang kuat. Begitu pula dengan teknologi yang terus berkembang pesat khususnya di dalam dunia pendidikan. Efek dari pesatnya perkembangan teknologi dan informasi tersebut memaksa pendidik dan peserta didik untuk merubah pola berpikir dalam proses belajar mengajar[4]. Kemudahan mengakses berbagai macam informasi melalui internet dan sosial media merupakan salah satu kelebihan yang didapat dari perkembangan Teknologi dan Informasi. E-learning salah satu contohnya. E- learning adalah sebuah hasil dari inovasi dan motivasi yang dapat diaplikasikan di dalam kegiatan belajar mengajar, selain pada pemaparan materi mata pelajaran tetapi juga perkembangan dalam skills berbagai kegiatan dalam dunia pendidikan untuk pelajar itu sendiri. Melalui E-learning, siswa selain mendengarkan penjelasan pelajaran oleh guru di kelas tetapi juga aktif menganalisis, mengobservasi, dan mempraktikan, materi pembelajaran.[5] Pembahasan pada pengajaran sangat mudah ditampilkan dan disajikan menjadi berbagai macam data visual dimana membuat peserta didik lebih mudah mencernanya dan lebih digital. Hal tersebut membantu menumbuhkan semangat siswa untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar.

            E-learning menurut Zhang & Zhu adalah pembelajaran online yang nyaman digunakan baik dari segi contoh maupun kebaruan bentuknya yang berbasis teknologi terkini yang memberikan efek positif bagi pembelajaran yang mana bisa mendukung tercapainya tujuan pembelajaran[6].Berbagai Media teknologi informasi dan komputer telah di gunakan oleh guru sebagai sarana pengembangan penyelenggaraan pembelajaran di lingkungan sekolah dan di kelas. Dalam proses beradaptasi dengan teknologi informasi yang terus berkembang dengan pesat, pendidik harus memaksakan dan mengikuti dinamika pergeseran paradigma belajar, dari teaching community menjadi learning community[7]. Namun banyak pendidik yang masih idealis dengan metode pembelajaran ceramah atau pun tatap muka, hal itu di sebabkan di antara lain karena faktor kurangnya fasilitias teknologi, pendidik yang kurang kreatif dan lain sebagainya.

Tulisan Dian kurniati tahun 2016 tentang kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam menyelesaikan soal PISA (Programme for International Student Assessment) menyimpulkan bahwa siswa berkemampuan HOTS level memiliki kemampuan menganalisis, mengevaluasi, kreasi, penalaran logika cukup baik[8]. Sedangkan Faza dalam tulisanya tentang analisis kemampuan berpikir tingkat tinggi pada pelajaran Dirasah Islamiyah tahun 2019 menemukan bahwa soal evaluasi yang dominan masuk dalam ketegori kriteria berfikir timgkat tinggi pada mata pelajaran Tauhid,Fiqh dan Sejarah Kebudayaan Islam[9]. Taufiqurrahman dalam tulisanya tentang pengembangan instrument penilaian HOTS skills tahun 2018 menyimpulkan bahwa mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada kemampuan berpikir tingkat tinggi ialah sangat layak[10].

            Berdasarkan pemaparan dan penjelasandi novelty atau penelitian yang sebelumnya ,penulis menganalisis tulisan ini bertujuan menganalisis dan mencari pembaruan pencapaian berpikir tingkat tinggi siswa melalui E-learning di dalam pelajaran sejarah kebudayaan islam. Penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan pengaruh di dunia Pendidikan. Hasil yang diberikan adalah hasil penilaian (assessment) dengan cara memberikan soal atau kuis kepada peserta didik selama proses belajar mengajar.

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif.Pada penelitian ini dianalisis kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) siswa pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP) pada pelajaran sejarah kebudayaan islam. Penelitian ini mendeskripsikan pencapaian berpikir siswa melalui media E-learning, dengan cara memberi soal evaluasi tingat HOTS (C4/C5/C6) dimana merupakan target utama dalam penelitian ini. Pada tahap awal dalam penelitian ini adalah observasi yang merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan[11], dimana penulis melihat dan mengamati secara langsung saat guru memberikan soal evaluasi kepada siswa mealui E-learning secara online.Dalam penelitian kualitatif, instrumen dapat berupa orang atau human instrument, yaitu peneliti itu sendiri[12], sehingga penulis menggunakan observasi dan wawancara sebagai cara untuk menganalisis data.

Dalam penelitian ini partisipan adalah guru SKI di MTSN 3 kotaSurabaya. Sedangkan teknik pengumpulan data pada penelitian ini diperoleh melalui dokumentasi, kuis/test dan wawancara menggunakan angket yang dibuat dalam bentuk form (google form) yang disebarkan melalui aplikasi pada E-learning. Ditetapkan 30 siswa sebagai responden untuk mengisi form tersebut.Selanjutnya data dianalisis baik secara induktif dan deduktif, dimanaberdasarkan metode qualitatif yaitu mendeskripsikan atau menjelaskan bagaimana hasil dari pengumpulan data dan analisis data tersebut.

 

PEMBAHASAN

1. Berpikir Tinggat Tinggi (High Order Thingking Skill)

Berpikir ialah bagian ranah kognitif yang ditemukan Bloom di dalam enam macam proses kognitif : C1 (mengingat) , C2 (memahami), dan C3 (mengaplikasikan), C4 (menganalisis), C5 (mengevaluasi), C6 (mencipta)[13]. Penjelasan  tersebut mendeskripsikan bahwa mengingat merupakan tingkatan berpikir yang paling bawah, sedangkan mencipta, mengevaluasi dan menganalisis merupakan bagian dari tingkatan berpikir  tinggi. Kemampuan berpikir tingkat tinggi sangat dibutuhkan siswa dalam belajar baik didalam kelas dan dibimbing oleh guru secara langsung maupun belajar mandiri dirumah. Kemampuan berpikir tingkat tinggi membuat siswa menjadi lebih kreatif dalam fokus berfikir tajam sebagai upaya menyelesaikan projek dalam pembelajaran

Penulis menggunakan E-learning sebagai media untuk mengavaluasi pencapaian hots melalui pembelajaran online atau yang dikenal dengan pembelajaran daring (dalam jaringan). Peneliti ingin mengetahui apakah kemampuan berfikir tingkat tinggi siswa akan berbeda ketika suasana dan proses dalam belajar dan mengajar berbeda dari biasanya. Dimana proses belajar dan mengajar dijalankan melalui pembelajaran online yang mengharuskan siswa dan guru tidak berada dalam satu ruang yang sama. Siswa dan guru akan berada dalam suasan dan lingkungan yang berbeda dari sebelumnya. Dari perbedaan situasi proses belajar tersebut maka akan terlihat apakah pembelajaran diluar kelas melalui media pembelajaran online (daring) dapat berpengaruh dalam proses berpikir tingkat tinggi, atau bahkan sebaliknya ketika siswa dihadapkan pada situasi belajar yang berbeda dari biasanya, sehingga mereka akan kesulitan untuk dapat mengaplikasikan berfikir tingkat tinggi dalam pembelajaran E-learning.

Terdapat beberapa dasar dalam proses berfikir kritis (HOTS). Ada 6 elemen dasar tahapan berpikir kritis[14]

1) Focus         :   konsentrasi yang baik dapat menganalisis persoalan dengan tuntas

2) Reason       : siswa menjelaskan alasan dengan logis maupun ilmiah dalam mengidentifikasi masalah

3) Inference: jika alasan yang sebelumnya logis, maka akan bersambung pada kesimpulan

4) Situasi        : membandingkan situasi atau fenomena yang sedang terjadi dalam lingkungan atau  pengalaman

5) Clarity        : kejelasan argument dijadikan sebagai patokan untuk mempertahankan pengambilan kesimpulan

6) Overview  : pengecekan pada kesimpulan analisis pendapat yang telah di pelajari dan di simpulkan.

Berdasarkan 6 tahapan berfikir kritis (HOTS) diatas, dapat dilihat bahwa ada berbagai faktor yang mempengaruhi cara berpikir tingkat tinggi pada siswa. Setiap tahapan dalam berfikir kritis berkaitan erat satu sama lain yang mana diawali dari focus atau konsentrasi belajar. Konsentrasi belajar yang baik dapat membantu siswa menganalisis masalah atau project dengan tuntas sehingga dapat menghasilka kesimpulan yang tepat. Konsentrasi belajar yang baik diperoleh  salah satunya dengan cara membangun suasana belajar dan mengajar yang menyenangkan, nyaman dan kondusif bagi siswa.Thursan Hakim berkata dalam tulisan ratih konsentrasi ialah suatu proses pemusatan suatu pikiran terhadap objek yang di tuju[15].Dalam literasi lain mengenai pembelajaran berbasis HOTS juga menyebutkan bahwa HOTS menghasilkan orientasi belajar yang cukup efektif[16].

Dalam proses belajar, guru tentunya sangat berpengaruh banyak pada siswa, dimana ketika belajar dalam kelas. Salah satu kelebihanya yaitu siswa dapat berdiskusi dan dapat mendapat bimbingan untuk berkembang secara langsung. Dalam literature ini siswa dalam satu lingkungan yang sama dapat mendorong kemampuan berpikir tingkat tinggi.

2. E-learning

E-learning ialah teknologi informasi dan komunikasi untuk mendorong siswa belajar dalam kelas maupun sekolah[17]. Pembelajaran elektronik atau e-learning telah dimulai sejak tahun 1970-an[18]. Banyak istilah digunakan untuk merujuk gagasan pada pembelajaran menggunakan teknologi dan internet, seperti Computer-Based Training (CBT), Learning Management System (LMS) dan berbasis website. Persyaratan kegiatan belajar mengajar elektronik ada 3 hal diantaranya ialah :  (1)belajar dengan menggunakan media dengan koneksi jaringan dimana terakses oleh internet, (2) fasilitas perangkat keras yang memadai untuk mendukung ke jaringan internet,sepertiFlaskdisk, keyboard, cpu , atau gadget mobile (3)kesanggupan pada bantuan pembimbing atau guru untuk membimbing siswa jika mendapat kendala dalam proses belajar mengajar. Persyaratan lain dalam bentuk sistematis yang mendukung ketiga hal sebelumnya yaitu pada : lembaga atau sekolah yang bersangkutan, respon antusias  siswa pada pembelajaran menggunakan E-learning, guru yang memahami tentang sistem E-learning, visi dan misi lembaga, evaluasi pembelajaran dalam menilai kompetensi dan perkembangan siswa dan peraturan yang tertanam pada lemabaga tersebut.

Electronic learning atau biasa di sebut E-learning yang di gunakan oleh lembaga MtsN 3 kota Surabaya menggunakan sebuah aplikasi gadget dimana aplikasi ini dapat di akses melalui ponsel berbasis android. Aplikasi ini bertujuan untuk memudahkan siswa dan guru untuk mengakses materi belajar. Namun, di luar dari kemudahan akses belajar berupa aplikasi tersebut, masih terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh siswa MtsN 3 kota Surabaya dalam mengikuti proses pembelajaran. Kendala yang dialami oleh siswa tersebut adalah berupa gadget dan jaringan internet.

Jaringan internet yang terbatas dan gadget adalah dua hal dominan yang masih menjadi kendala serius dalam proses belajar dan mengajar menggunakan media E- learning. Siwa dan siswi MTsN 3 kota Surabaya pada umumnya yang masih berumur 14-15 sehingga masih memiliki akses terbatas terhadap gadget. Keterbatasan akses gadget meskipun tidak dialami oleh semua siswa namun tetap memiliki dampak yang cukup besar pada beberapa siswa mengingat gadget adalah sarana penting dalam proses belajar dan mengajar melalui media E-learning.  Selain gadget, keterbatasan akses Internet adalah hal lain yang perlu untuk dipertimbangkan. Akses internet yang terbatas masih menjadi masalah bagi para siswa dan siswi untuk dapat belajar menggunakan media E-learning.

Gambar 1.Tampilan e-learning pada MTsN 3 kota Surabaya

            Mata pelajaran pada penelitian ini menggunakan Sejarah Kebudayaan Islam yaitu pada kelas 9 semester 2. Mata pelajaran sejarah kebudayaan islam dalam pendidikan madrasah menjadi salah satu bagian mata pelajaran agama islam untuk membantu siswa mengetahui sejarah, latar belakang keislaman di masa lampau. Siswa di harapkan dapat belajar, menghargai para leluhur untuk dapat belajar di masa depan dalam kehidupan yang nyata melalui kegiatan membaca, belajar, pengajaran, pelatihan, penggunaan pengetahuan sejarah dan pembiasaan diri. Mata pelajaran yang biasa di singkat SKI ini ialah terdapat didalamnya rana kemampuan mencari sesuatu hal yang baru dari masa lampau, hikmah yang dapat dipetik, histori para tokoh agama, dan keilmuan dari cerita faktual di masa lampau. Oleh sebabitu di sebagian materi - materi indikator kesuksesan belajar akanterpusat pada level ranah afektif. Sehingga materi sejarah kebudayaan Islam tidak saja merupakan pengetahuan tentang sejarah namun siswa dituntut untuk dapat mengambil nilai – nilai dari sejarah dan menerapkan nilai peristiwa tersebut di kehidupan sekarang atau mendatang sebagai bentuk penghargaan tradisi-tradisi dan tokoh-tokoh dalam leluhur sebagaimana pada mestinya.

3. Sajian data

            Instrument pada penulisan ini dengan menggunakan tes sebagai alat untuk mengevaluasi siswa kelas 9 pada mata pelajaran sejarah kebudayaan islam. Penulis berpatokan pada kompetensi inti dan kompetensi dasar sebagai acuan penyusunan soal berpikir tingkat tinggi. Berikut contoh soal sebagai instrument data:

 

Contoh soal :

1. Bagaimana proses masuknya Islam di Indonesia?Dan berikan contoh nyata yang ada dalam kehidupan sehari-hari?

2. Bagaimana proses terbentuknya Budaya Islam di Indonesia??Dan berikan contoh nyata yang ada dalam kehidupan sehari-hari?

3. Sebutkan dua bentuk tradisi umat Islam di Indonesia. Dan jelaskan perbedaan nilai-nilai tradisi di dalamnya yang kalian ketahui!

4.Sebutkan salah satu upacara atau tradisi disekitarmu yang bernuansa Islam. Ceritakan proses pelaksanaanya dan bagaimana usahamu untuk melestarikan nya?

5. Jelaskan perbedaan pendekatan seni budaya local antara Wayang, Kasidah, dan Hadrah. Dan berikan contoh nyata yang ada dalah kehidupan sehari-hari?

Proses pemberian nilai (skor) pada soal-soal di atas memiliki ketentuan sebagai berikut; masing-masing butir soal memiliki nilai 2 (dua), sehingga nilai penuh dari lima soal tersebut adalah 10 (sepuluh). Soal yang tidak di jawab atau di abaikan mendapat nilai 0 (nol), sedangkan soal yang jawabanya salah dan tidak sesuaimemperoleh nilai 0 (nol).Jika benar mendapat 2 (dua) skor dari perbutir soalnya[19].

Nilai =  x 100

Soal-soal tersebut disajikan oleh guru kepada siswa kelas 9 melalui aplikasi android berbasis E-learning dengan google formdengan kurun waktu 90 menit untuk menjawab soal-soal tersebut. Siswa diberi kebebasan dalam mengakses E-learning dan soal tersebut baik melalui gadget berupa mobilemaupun dari komputer.

Hasil penelitian

            Hasil pencapaian berpikir tingkat tinggi pada pelajaran sejarah kebudayaan Islam menggunakan media E-learning berbasis aplikasi android dengan responden siswa kelas 9 MTsN Kota Surabaya berjumlah 30 siswa menunjukan nilai rata-rata 8.13%. Hasil pengukuran ini menunjukan bahwa dalam pembelajaran melalui E-learning siswa kelas 9 MTsN Kota Surabaya dalam kategori baik, dalam artian pembelajaran melalu E-learning mampu mendorong siswa berpikir tingkat tinggi.

Tabel 2. Tabel Penilaian /skor siswa pada soal SKI

No Resp

soal

Skor

1

2

3

4

5

1

2

1

1

2

2

8

2

2

2

2

1

1

8

3

2

2

2

2

2

10

4

1

1

2

2

2

8

5

1

1

1

2

2

7

6

1

1

1

1

2

6

7

2

2

2

1

1

8

8

1

2

1

2

2

8

9

2

2

2

2

2

10

10

1

2

2

2

1

9

11

2

2

2

2

0

8

12

1

2

1

2

2

8

13

2

2

1

2

2

9

14

2

2

2

2

2

10

15

1

2

2

2

1

8

16

1

1

2

2

2

8

17

2

2

2

1

1

8

18

1

1

1

2

2

7

19

2

2

2

0

0

6

20

2

1

1

1

1

6

21

1

1

2

2

2

8

22

2

2

2

1

1

8

23

2

2

1

2

2

9

24

2

2

2

2

1

9

25

2

2

2

2

1

9

26

2

2

2

1

1

8

27

2

2

2

2

1

9

28

2

2

2

2

2

10

29

2

2

2

0

0

6

30

2

2

2

1

1

8

Nilai rata-rata

8.13

 

 

           

 

 

Berdasarkan table di atas penilaian pancapain hots dalam pembelajaran E-learning pada siswa kelas 9 dengan 30 responden menunjukan nilai rata - rata 8.13% yang mana masuk dalam kategori baik.Penilaian diatas juga menunjukan bahwa dari 30 responden yaitu siswa dan siswi kelas 9 MTsN kota Surabaya telah mengakses aplikasi E-learning ini sesuai dengan permintaan dari guru. Murid tetap berusaha untuk tetap mengikuti proses belajar dan mengajar meskipun diyakini terdapat beberpa siswa yang memeliki kendala berupa keterbatasan akses gadget atau jaringan internet.

Dalam aplikasi E- learning yang digunakan oleh MTsN Kota Surabaya juga memiliki fasilitas yang memberikan informasi kepada guru untuk dapat melihat kapan dan jam berapa siswa dan siswi mengakses E-learning Informasi ini memudahkan guru untuk mengidentifikasi jam berapa siswa aktif dalam proses belajar melalui E-learning.

 

Penutup

Penilaian pancapain hots dalam pembelajaran E-learning pada siswa kelas 9 dengan 30 responden menunjukan nilai rata - rata 8.13% yang mana masuk dalam kategori baik.

 

 

 

 

 

 

Daftar pustaka

Agus  N. Cahyo. Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar. Jogjakarta: DIVA Press, 2013.

Fanani, Achmad, and Dian Kusmaharti. “PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN BERBASIS HOTS (HIGHER ORDER THINKING SKILL) DI SEKOLAH DASAR KELAS V.” Jurnal Pendidikan Dasar, n.d., 11.

Hardyanto, R. Hafid, and Herman Dwi Surjono. “PENGEMBANGAN DAN IMPLEMENTASI E-LEARNING MENGGUNAKAN MOODLE DAN VICON UNTUK PELAJARAN PEMROGRAMAN WEB DI SMK.” Jurnal Pendidikan Vokasi 6, no. 1 (March 16, 2016): 43. https://doi.org/10.21831/jpv.v6i1.6675.

Iqbal Faza Ahmad, and Sukiman. “ANALISIS HIGHER ORDER THINKING SKILLS (HOTS) PADA SOAL UJIAN AKHIR SISWA KELAS 6 KMI DALAM KELOMPOK MATA PELAJARAN DIRASAH ISLAMIYAH DI PONDOK MODERN TAZAKKA BATANG,” No.2, Vol. XVI (Desember 2019). https://doi.org/10.14421/jpai.2019.162-02.

Ismail Nawawi. METODE PENELITIAN KUALITATIF : Teori Dan Aplikasi Untuk Ilmu Sosial, Ekonomi/Ekonomi Islam, Agama, Manajemen Dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Dwiputra Pustaka Jaya, n.d.

Kurniati, Dian, Romi Harimukti, and Nur Asiyah Jamil. “KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA SMP DI KABUPATEN JEMBER DALAM MENYELESAIKAN SOAL BERSTANDAR PISA.” Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan 20, no. 2 (November 21, 2016): 142. https://doi.org/10.21831/pep.v20i2.8058.

mustahdi. Modul Penyusunan Soal Berpikir Tingkat Tinggi (High Order Thingking Skills) Pendidikan Agama Islam Dan Budi Pekerti. jakarta: direktorat pembinaan sekolah menengah keatas kementrian pendidikan dan kebudayaan, 2019.

Ratih Novianti. “PENGARUH LINGKUNGAN BELAJAR TERHADAP TINGKAT KONSENTRASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN AKIDAH AKHLAK DI MAN 2 PALEMBANG” vol 1 No 1 (2019).

Rochman, Syaiful, and Zainal Hartoyo. “Analisis High Order Thinking Skills (HOTS) Taksonomi Menganalisis Permasalahan Fisika.” Science and Physics Education Journal (SPEJ) 1, no. 2 (June 27, 2018): 78–88. https://doi.org/10.31539/spej.v1i2.268.

Salehudin, Mohammad. “DAMPAK COVID-19: GURU MENGADOPSI MEDIA SOSIAL SEBAGAI E-LEARNING PADA PEMBELAJARAN JARAK JAUH” 10, no. 1 (2020): 16.

samir. “E-Learning and Students’ Motivation: A Research Study on the Effect of E-Learning on Higher Education” vol 9, no. 4 (2014). http://dx.doi.org/10.3991/ijet.v9i4.3465.

Taufiqurrahman, M. Tubi Heryandi, and Junaidi. “PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN HIGHER ORDER THINKING SKILL PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM.” JPII, No.2, Vol. 2 (April 2018).

Waller, V. and Wilson, J. “A Definition for E-Learning. TheODL QC Newsletter,” 2001.

Wina Sanjaya. STRATEGI PEMBELAJARAN BERORIENTASI STANDAR PROSES PENDIDIKAN. Ed 1. Jakarta: KENCANA PRENADA MEDIA, 2006.

Yoki Ariyana, Ari Pudjiastuti, Reisky bestary, and Zamroni. Buku Pegangan Pembelajaran Berorientasi Pada Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi. kementrian pendidikan dan kebudayaan, 2018.

 

 

 

 

 

 

 



[1]Wina Sanjaya, hlm 2.

[2]Syaiful Rochman and Zainal Hartoyo, “Analisis High Order Thinking Skills (HOTS) Taksonomi Menganalisis Permasalahan Fisika,” Science and Physics Education Journal (SPEJ) 1, no. 2 (June 27, 2018): 78–88, https://doi.org/10.31539/spej.v1i2.268.

[3]Rochman and Hartoyo.

[4]Agus  N. Cahyo, Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar (Jogjakarta: DIVA Press, 2013), hlm 12.

[5]Rochman and Hartoyo, “Analisis High Order Thinking Skills (HOTS) Taksonomi Menganalisis Permasalahan Fisika.”

[6]Mohammad Salehudin, “DAMPAK COVID-19: GURU MENGADOPSI MEDIA SOSIAL SEBAGAI E-LEARNING PADA PEMBELAJARAN JARAK JAUH” 10, no. 1 (2020): hlm 4.

[7]R. Hafid Hardyanto and Herman Dwi Surjono, “PENGEMBANGAN DAN IMPLEMENTASI E-LEARNING MENGGUNAKAN MOODLE DAN VICON UNTUK PELAJARAN PEMROGRAMAN WEB DI SMK,” Jurnal Pendidikan Vokasi 6, no. 1 (March 16, 2016): hlm 44, https://doi.org/10.21831/jpv.v6i1.6675.

[8]Dian Kurniati, Romi Harimukti, and Nur Asiyah Jamil, “KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA SMP DI KABUPATEN JEMBER DALAM MENYELESAIKAN SOAL BERSTANDAR PISA,” Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan 20, no. 2 (November 21, 2016): hlm 154, https://doi.org/10.21831/pep.v20i2.8058.

[9]Iqbal Faza Ahmad and Sukiman, “ANALISIS HIGHER ORDER THINKING SKILLS (HOTS) PADA SOAL UJIAN AKHIR SISWA KELAS 6 KMI DALAM KELOMPOK MATA PELAJARAN DIRASAH ISLAMIYAH DI PONDOK MODERN TAZAKKA BATANG,” No.2, Vol. XVI (Desember 2019): hlm 137, https://doi.org/10.14421/jpai.2019.162-02.

[10]Taufiqurrahman, M. Tubi Heryandi, and Junaidi, “PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN HIGHER ORDER THINKING SKILL PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM,” JPII, No.2, Vol. 2 (April 2018): hlm 206.

[11]Ismail Nawawi, METODE PENELITIAN KUALITATIF : Teori Dan Aplikasi Untuk Ilmu Sosial, Ekonomi/Ekonomi Islam, Agama, Manajemen Dan Ilmu Sosial Lainnya (Jakarta: Dwiputra Pustaka Jaya, n.d.), hlm 185.

[12]Ismail Nawawi, hlm 48.

[13]Rochman and Hartoyo, “Analisis High Order Thinking Skills (HOTS) Taksonomi Menganalisis Permasalahan Fisika.”

[14]Yoki Ariyana et al., Buku Pegangan Pembelajaran Berorientasi Pada Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (kementrian pendidikan dan kebudayaan, 2018), hlm 13.

[15]Ratih Novianti, “PENGARUH LINGKUNGAN BELAJAR TERHADAP TINGKAT KONSENTRASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN AKIDAH AKHLAK DI MAN 2 PALEMBANG” vol 1 No 1 (2019): hlm 2.

[16]Achmad Fanani and Dian Kusmaharti, “PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN BERBASIS HOTS (HIGHER ORDER THINKING SKILL) DI SEKOLAH DASAR KELAS V,” Jurnal Pendidikan Dasar, n.d., hlm 10.

[17]samir, “E-Learning and Students’ Motivation: A Research Study on the Effect of E-Learning on Higher Education” vol 9, no. 4 (2014): hlm 20, http://dx.doi.org/10.3991/ijet.v9i4.3465.

[18]Waller, V. and Wilson, J, “A Definition for E-Learning. TheODL QC Newsletter,” 2001, hlm 2.

[19]mustahdi, Modul Penyusunan Soal Berpikir Tingkat Tinggi (High Order Thingking Skills) Pendidikan Agama Islam Dan Budi Pekerti (jakarta: direktorat pembinaan sekolah menengah keatas kementrian pendidikan dan kebudayaan, 2019), hlm 11.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

makalah Sighat At- Tahamul Wal- Ada’

BAB I PENDAHULUAN   A.   Latar Belakang      Allah telah memberikan kepada umat Nabi Muhammad Saw, para pendahulu selalu menjaga Al-Quran dan Al-Hadis Nabi. Mereka adalah orang-orang jujur, amanah, dan memegang janji sebagian diantara mereka mencurahkan perhatiannya terhadap al-Quran dan ilmunya yaitu para mufassirin. Manusia dalam hidupnya membutuhkan berbagai macam pengetahuan. Seseorang yang telah mempelajari hadits dengan sungguh-sungguh dengan cara yang benar memiliki beberapa kode etik yang harus dia jaga dan dia pelihara, baik ketika masih menjadi pelajar itu sendiri atau ketika dia sudah mengajarkannya kepada orang lain kelak. Di dalam ilmu hadits hal ini dikenal dengan istilah at tahammul wal ada’. Di dalam makalah ini akan dibahas cara perimaaan dan periwayatan hadis yang disebut dengan At-Tahammul wa Al-'Ada.            Para ulama hadis telah bersusah payah mengusahakan adanya ilmu hadis in...

PENILAIAN MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MELALUI GOOGLE FORM : SEPERAPA MUDAH DIGUNAKAN?

  Mochammad syihabbudin, Miftahul Huda 1 , Ni’matul Fadlilah 2 , Muhammad Thohir 3 Syihabb056@gmail.com Miftahuda186@gmail.com    Fadlilah19dila@gmail.com Muhammadthohir@uinsby.ac.id   Universitas Islam Negeri Sunan Ampel       Abstract     The covid pandemic 19 period has made distance learning a necessity.   One of the effects is that many teachers choose the google form application to do the assessment. Because the teacher's capacity varies in its design, this study aims to find out how easily the assessment of Islamic religious education (PAI) subjects through the Google form can be used by students. Using Usability Testing instrument with USE Questionnaire, the study used Islamic religious education students with class X SMK Unitomo Surabaya respondents.   After the data is obtained, an analysis is performed using Nielsen's usability criteria. Sstudy revealed that the assessment of PAI pursuit t...

Penggunaan Live Streaming dalam pembelajaran Madrasah Diniyah: Studi Kasus di PP Bumi Sholawat Sidoarjo

Penggunaan Live Streaming dalam pembelajaran Madrasah Diniyah: Studi Kasus di PP Bumi Sholawat Sidoarjo   Mochammad syihabbudin, Muhammad Yuda [1] , Moh Zaki Yamani [2] , Muhammad Thohir [3] Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Email.   Syihabb056@gmail.com muhammadyuda423@gmail.com , Zaqyzf@gmail.com , muhammadthohir@uinsby.ac.id   Abstract This research aims to analyze using live Streaming video of Madrasah Diniyah learning at Bumi Sholawat Islamic boarding school Sidoarjo. This research used a qualitative approach with the type of case study . .The research aim to obtain informations about problems and effects during learning through live streaming. Data collection techniques were carried out by means of observation interviews and documentation. In this study, respondents were 6 people consisting of several teachers and parents of students. In this case, respondents were given the initials SP1, SP2, SP3, SP4, SP5 and SP6. Semi-structured interviews...