E-LEARNING PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM: MAMPUKAH MENDORONG SISWA MERAIH KETERAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI
Mochammad syihabbudin ,Muhammad Alfian Masduqi, Muhammad Thohir
Universitas
Islam Negeri Surabaya, Indonesia
Email
: syihabb056@gmail.com fian.umm@gmail.com , muhammadthohir@uinsby.ac.id
Abstract
E-Learning is one of most strategic
learning media in the revolution industry 4.0 era with a variety of digital technology
offered. However, this technology still questioned by the ability to encourage
critical thinking skill in value based learning, including history of Islamic
culture subject which emphasizes in religious historical value. This research
aims to describe more how higher-order thinking skills improve student in
learning History Islamic Culture through E-learning media. This research uses
descriptive qualitative methods and the data obtained through documentation,
tests and interviews. Furthermore, the data analyzed both inductively and
deductively as well. The result show that
Keywords: E-learning, Higher Order
Thingking Skills,History Islamic Culture
Abstract
E-learning salah satu media
pembelajaran yang sangat strategis di era revolusi industry 4.0 dengan berbagai
teknologi cerdas digitalnya. Namun teknologi tersebut masih dipersoalkan
kemampuan mendorong keterampilan berpikir kritis dalam pembelajaran yang
berbasis nilai, termasuk mata pelajaran Sejarah Kebudayaan islam yang
mengedepankan nilai-nilai historis keagamaan. Penelitian inibertujuan untuk
mendeskripsikan sejauh mana pencapaian kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thingking Skills) siswa
dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam melalui media E-learning dengan
menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, metode data penelitian diperoleh
melalui dokumentasi, tes dan wawancara. Selanjutnya data dianalisis baik secara
induktif dan deduktif. Hasil penelitian menunjukan bahwa …
Kata Kunci
:E-learning,
Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi, Sejarah Kebudayaan Islam
PENDAHULUAN
Pendidikan
di era berkembangnya teknologi digital dalam membantu peserta didik maupun guru
dalam proses belajar mengajar, menjadi perhatian dalam dunia pendidikan.
Kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang
tinggi di-harapkan dapat berkompetisi diabad 21 dan industrisasi 4.0 era
digital. Oleh sebab itu,pendidik di diharapkan untuk dapat meningkatkan kinerja
yang berkualitas tinggi melalui belajar mengajar demi tercapainya tujuan dari
belajar. Berdasarkan Undang-Undang No.20 tahun 2003 yang membahas tentang pendidikan,
dikatakan bahwa pendidikan adalah kegiatan terstuktur, sadar dan berencana
sebagai bagian dari usaha pengembangan diri untuk tercapainya potensi diri
maksimal.
Pada dasarnya manusia telah dibekali
akal yang baik dari segi jasmani maupun rohani dan memiliki cara berpikir untuk
beraktivitas. Melalui kegiatan belajar manusia dapat mengembangkan kemampuan
intelektual dan interpersonalnya. Sebagai contoh kegiatan belajar mengajar di
lingkungan sekolah. Untuk mencapai tujuan pembelajaran di dalam kurikulum, guru
memberikanaktivitas pembelajaran yang
mendidik peserta didik. Tugas guru adalah mendorong siswa untuk mengembangkan
kemampuan berfikir didalam proses belajar mengajar (Wina, 2011)[1]
Cara berpikir tingkat tinggi atau
dalam bahasa inggris Higher Order Thingking Skills dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan
yang di hadapi siswa secara efektif dan kreatif. Brookhart (2010) mengatakan
bahwa HOTS sebagai proses perubahan dari sebuah permasalahan yang dapat di
kupas penemuan jawaban dari masalahh tersebut dengan jalan berpikir yang kritis.[2] Peserta
didik tidak hanya di tuntut menjawab pertanyaan soal-soal yang dipaparkan guru
atau buku paket, namun pembelajaran HOTS
berorientasi pada keterampilan tingkat tinggi seperti problem solving. Anderson dan Krathwohl’s (2010) merevisi
tingkat kognitif menjadi 2, diantaranya; berpikir dilevel rendah (lower order
thingking) pada level C1(mengingat) , C2(memahami), dan C3(menerapkan), sedangkan cara berpikir tingkat
tinggi berada di level C4 (menganalisis), C5 (menilai), C6 (mengkreasi).[3]
Manusia memang dituntut untuk terus
berkembang dan meliliki keinginan tahuan yang kuat. Begitu pula dengan teknologi
yang terus berkembang pesat khususnya di dalam dunia pendidikan. Efek dari
pesatnya perkembangan teknologi dan informasi tersebut memaksa pendidik dan
peserta didik untuk merubah pola berpikir dalam proses belajar mengajar[4].
Kemudahan mengakses berbagai macam informasi melalui internet dan sosial media
merupakan salah satu kelebihan yang didapat dari perkembangan Teknologi dan
Informasi. E-learning salah satu contohnya. E- learning adalah sebuah hasil
dari inovasi dan motivasi yang dapat diaplikasikan di dalam kegiatan belajar
mengajar, selain pada pemaparan materi mata pelajaran tetapi juga perkembangan
dalam skills berbagai kegiatan dalam
dunia pendidikan untuk pelajar itu sendiri. Melalui E-learning, siswa selain
mendengarkan penjelasan pelajaran oleh guru di kelas tetapi juga aktif
menganalisis, mengobservasi, dan mempraktikan, materi pembelajaran.[5] Pembahasan
pada pengajaran sangat mudah ditampilkan dan disajikan menjadi berbagai macam
data visual dimana membuat peserta didik lebih mudah mencernanya dan lebih digital.
Hal tersebut membantu menumbuhkan semangat siswa untuk mengikuti kegiatan belajar
mengajar.
E-learning menurut Zhang & Zhu
adalah pembelajaran online yang nyaman digunakan baik dari segi contoh maupun
kebaruan bentuknya yang berbasis teknologi terkini yang memberikan efek positif
bagi pembelajaran yang mana bisa mendukung tercapainya tujuan pembelajaran[6].Berbagai
Media teknologi informasi dan komputer telah di gunakan oleh guru sebagai
sarana pengembangan penyelenggaraan pembelajaran di lingkungan sekolah dan di
kelas. Dalam proses beradaptasi dengan teknologi informasi yang terus berkembang
dengan pesat, pendidik harus memaksakan dan mengikuti dinamika pergeseran
paradigma belajar, dari teaching
community menjadi learning community[7].
Namun banyak pendidik yang masih idealis dengan metode pembelajaran ceramah
atau pun tatap muka, hal itu di sebabkan di antara lain karena faktor kurangnya
fasilitias teknologi, pendidik yang kurang kreatif dan lain sebagainya.
Tulisan Dian kurniati tahun 2016 tentang kemampuan
berpikir tingkat tinggi dalam menyelesaikan soal PISA (Programme for International Student Assessment) menyimpulkan bahwa
siswa berkemampuan HOTS level memiliki kemampuan menganalisis, mengevaluasi,
kreasi, penalaran logika cukup baik[8].
Sedangkan Faza dalam tulisanya tentang analisis kemampuan berpikir tingkat
tinggi pada pelajaran Dirasah Islamiyah tahun 2019 menemukan bahwa soal
evaluasi yang dominan masuk dalam ketegori kriteria berfikir timgkat tinggi pada
mata pelajaran Tauhid,Fiqh dan Sejarah Kebudayaan Islam[9].
Taufiqurrahman dalam tulisanya tentang pengembangan instrument penilaian HOTS
skills tahun 2018 menyimpulkan bahwa mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada
kemampuan berpikir tingkat tinggi ialah sangat layak[10].
Berdasarkan
pemaparan dan penjelasandi novelty atau penelitian yang sebelumnya ,penulis
menganalisis tulisan ini bertujuan menganalisis dan mencari pembaruan pencapaian
berpikir tingkat tinggi siswa melalui E-learning di dalam pelajaran sejarah
kebudayaan islam. Penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan pengaruh di dunia
Pendidikan. Hasil yang diberikan adalah hasil penilaian (assessment) dengan
cara memberikan soal atau kuis kepada peserta didik selama proses belajar
mengajar.
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan
pendekatan kualitatif.Pada penelitian ini dianalisis kemampuan berpikir tingkat
tinggi (HOTS) siswa pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP) pada pelajaran sejarah
kebudayaan islam. Penelitian ini mendeskripsikan pencapaian berpikir siswa
melalui media E-learning, dengan cara memberi soal evaluasi tingat HOTS
(C4/C5/C6) dimana merupakan target utama dalam penelitian ini. Pada tahap awal
dalam penelitian ini adalah observasi yang merupakan suatu teknik atau cara
mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan[11],
dimana penulis melihat dan mengamati secara langsung saat guru memberikan soal
evaluasi kepada siswa mealui E-learning secara online.Dalam penelitian
kualitatif, instrumen dapat berupa orang atau human instrument, yaitu peneliti itu sendiri[12],
sehingga penulis menggunakan observasi dan wawancara sebagai cara untuk menganalisis
data.
Dalam
penelitian ini partisipan adalah guru SKI di MTSN 3 kotaSurabaya. Sedangkan
teknik pengumpulan data pada penelitian ini diperoleh melalui dokumentasi,
kuis/test dan wawancara menggunakan angket yang dibuat dalam bentuk form
(google form) yang disebarkan melalui aplikasi pada E-learning. Ditetapkan 30
siswa sebagai responden untuk mengisi form tersebut.Selanjutnya data dianalisis
baik secara induktif dan deduktif, dimanaberdasarkan metode qualitatif yaitu
mendeskripsikan atau menjelaskan bagaimana hasil dari pengumpulan data dan
analisis data tersebut.
PEMBAHASAN
1. Berpikir Tinggat Tinggi (High Order Thingking Skill)
Berpikir
ialah bagian ranah kognitif yang ditemukan
Bloom di dalam enam macam proses kognitif : C1 (mengingat) , C2 (memahami), dan
C3 (mengaplikasikan), C4 (menganalisis), C5 (mengevaluasi), C6 (mencipta)[13].
Penjelasan tersebut mendeskripsikan
bahwa mengingat merupakan tingkatan berpikir yang paling bawah, sedangkan
mencipta, mengevaluasi dan menganalisis merupakan bagian dari tingkatan
berpikir tinggi. Kemampuan berpikir
tingkat tinggi sangat dibutuhkan siswa dalam belajar baik didalam kelas dan dibimbing
oleh guru secara langsung maupun belajar mandiri dirumah. Kemampuan berpikir
tingkat tinggi membuat siswa menjadi lebih kreatif dalam fokus berfikir tajam sebagai
upaya menyelesaikan projek dalam pembelajaran
Penulis
menggunakan E-learning sebagai media untuk mengavaluasi pencapaian hots melalui
pembelajaran online atau yang dikenal dengan pembelajaran daring (dalam
jaringan). Peneliti ingin mengetahui apakah kemampuan berfikir tingkat tinggi
siswa akan berbeda ketika suasana dan proses dalam belajar dan mengajar berbeda
dari biasanya. Dimana proses belajar dan mengajar dijalankan melalui pembelajaran
online yang mengharuskan siswa dan guru tidak berada dalam satu ruang yang
sama. Siswa dan guru akan berada dalam suasan dan lingkungan yang berbeda dari
sebelumnya. Dari perbedaan situasi proses belajar tersebut maka akan terlihat
apakah pembelajaran diluar kelas melalui media pembelajaran online (daring)
dapat berpengaruh dalam proses berpikir tingkat tinggi, atau bahkan sebaliknya
ketika siswa dihadapkan pada situasi belajar yang berbeda dari biasanya, sehingga
mereka akan kesulitan untuk dapat mengaplikasikan berfikir tingkat tinggi dalam
pembelajaran E-learning.
Terdapat
beberapa dasar dalam proses berfikir kritis (HOTS). Ada 6 elemen dasar tahapan
berpikir kritis[14]
1)
Focus : konsentrasi yang baik dapat menganalisis
persoalan dengan tuntas
2)
Reason : siswa menjelaskan alasan
dengan logis maupun ilmiah dalam mengidentifikasi masalah
3)
Inference: jika alasan yang sebelumnya logis, maka akan bersambung pada
kesimpulan
4)
Situasi : membandingkan situasi
atau fenomena yang sedang terjadi dalam lingkungan atau pengalaman
5)
Clarity : kejelasan argument
dijadikan sebagai patokan untuk mempertahankan pengambilan kesimpulan
6)
Overview : pengecekan pada kesimpulan
analisis pendapat yang telah di pelajari dan di simpulkan.
Berdasarkan
6 tahapan berfikir kritis (HOTS) diatas, dapat dilihat bahwa ada berbagai
faktor yang mempengaruhi cara berpikir tingkat tinggi pada siswa. Setiap tahapan
dalam berfikir kritis berkaitan erat satu sama lain yang mana diawali dari focus atau konsentrasi belajar.
Konsentrasi belajar yang baik dapat membantu siswa menganalisis masalah atau
project dengan tuntas sehingga dapat menghasilka kesimpulan yang tepat. Konsentrasi
belajar yang baik diperoleh salah
satunya dengan cara membangun suasana belajar dan mengajar yang menyenangkan,
nyaman dan kondusif bagi siswa.Thursan
Hakim berkata dalam tulisan ratih konsentrasi ialah suatu proses pemusatan
suatu pikiran terhadap objek yang di tuju[15].Dalam
literasi lain mengenai pembelajaran berbasis HOTS juga menyebutkan bahwa HOTS
menghasilkan orientasi belajar yang cukup efektif[16].
Dalam
proses belajar, guru tentunya sangat berpengaruh banyak pada siswa, dimana ketika
belajar dalam kelas. Salah satu kelebihanya yaitu siswa dapat berdiskusi dan
dapat mendapat bimbingan untuk berkembang secara langsung. Dalam literature ini
siswa dalam satu lingkungan yang sama dapat mendorong kemampuan berpikir
tingkat tinggi.
2. E-learning
E-learning ialah teknologi informasi dan komunikasi
untuk mendorong siswa belajar dalam kelas maupun sekolah[17]. Pembelajaran elektronik atau e-learning telah dimulai sejak tahun 1970-an[18]. Banyak istilah digunakan untuk merujuk gagasan
pada pembelajaran menggunakan teknologi dan internet, seperti Computer-Based
Training (CBT), Learning Management System (LMS) dan berbasis website. Persyaratan
kegiatan belajar mengajar elektronik ada 3 hal diantaranya ialah : (1)belajar dengan menggunakan media dengan
koneksi jaringan dimana terakses oleh internet, (2) fasilitas perangkat keras
yang memadai untuk mendukung ke jaringan internet,sepertiFlaskdisk, keyboard, cpu , atau gadget
mobile
(3)kesanggupan pada bantuan pembimbing atau guru untuk membimbing siswa jika
mendapat kendala dalam proses belajar mengajar. Persyaratan lain dalam bentuk
sistematis yang mendukung ketiga hal sebelumnya yaitu pada : lembaga atau
sekolah yang bersangkutan, respon antusias
siswa pada pembelajaran menggunakan E-learning, guru yang memahami
tentang sistem E-learning, visi dan misi lembaga, evaluasi pembelajaran dalam
menilai kompetensi dan perkembangan siswa dan peraturan yang tertanam pada
lemabaga tersebut.
Electronic learning atau
biasa di sebut E-learning yang di gunakan oleh lembaga MtsN 3 kota Surabaya
menggunakan sebuah aplikasi gadget dimana aplikasi ini dapat di akses melalui
ponsel berbasis android.
Aplikasi
ini bertujuan untuk memudahkan siswa dan guru untuk mengakses materi belajar. Namun,
di luar dari kemudahan akses belajar berupa aplikasi tersebut, masih terdapat
beberapa kendala yang dihadapi oleh siswa MtsN 3 kota Surabaya dalam mengikuti
proses pembelajaran. Kendala yang dialami oleh siswa tersebut adalah berupa gadget dan jaringan internet.
Jaringan internet yang
terbatas dan gadget
adalah dua hal dominan yang masih menjadi kendala serius dalam proses belajar
dan mengajar menggunakan media E- learning. Siwa dan siswi MTsN 3 kota Surabaya
pada umumnya yang masih berumur 14-15 sehingga masih memiliki akses terbatas
terhadap gadget.
Keterbatasan akses gadget
meskipun tidak dialami oleh semua siswa namun tetap memiliki dampak yang cukup
besar pada beberapa siswa mengingat gadget adalah sarana penting dalam proses
belajar dan mengajar melalui media E-learning.
Selain gadget,
keterbatasan akses Internet adalah hal lain yang perlu untuk dipertimbangkan.
Akses internet yang terbatas masih menjadi masalah bagi para siswa dan siswi
untuk dapat belajar menggunakan media E-learning.
Gambar
1.Tampilan e-learning pada MTsN 3 kota Surabaya
Mata pelajaran pada penelitian ini
menggunakan Sejarah Kebudayaan Islam yaitu pada kelas 9 semester 2. Mata
pelajaran sejarah kebudayaan islam dalam pendidikan madrasah menjadi salah satu
bagian mata pelajaran agama islam untuk membantu siswa mengetahui sejarah,
latar belakang keislaman di masa lampau. Siswa di harapkan dapat belajar,
menghargai para leluhur untuk dapat belajar di masa depan dalam kehidupan yang
nyata melalui kegiatan membaca, belajar, pengajaran, pelatihan, penggunaan
pengetahuan sejarah dan pembiasaan diri. Mata pelajaran yang biasa di singkat
SKI ini ialah terdapat didalamnya rana kemampuan mencari sesuatu hal yang baru
dari masa lampau, hikmah yang dapat dipetik, histori para tokoh agama, dan keilmuan
dari cerita faktual di masa lampau. Oleh sebabitu di sebagian materi - materi indikator
kesuksesan belajar akanterpusat pada level ranah afektif. Sehingga materi
sejarah kebudayaan Islam tidak saja merupakan pengetahuan tentang sejarah namun
siswa dituntut untuk dapat mengambil nilai – nilai dari sejarah dan menerapkan nilai
peristiwa tersebut di kehidupan sekarang atau mendatang sebagai bentuk
penghargaan tradisi-tradisi dan tokoh-tokoh dalam leluhur sebagaimana pada mestinya.
3. Sajian data
Instrument pada penulisan ini dengan
menggunakan tes sebagai alat untuk mengevaluasi siswa kelas 9 pada mata
pelajaran sejarah kebudayaan islam. Penulis berpatokan pada kompetensi inti dan
kompetensi dasar sebagai acuan penyusunan soal berpikir tingkat tinggi. Berikut
contoh soal sebagai instrument data:
Contoh
soal :
1.
Bagaimana proses masuknya Islam di Indonesia?Dan berikan contoh nyata yang ada
dalam kehidupan sehari-hari?
2.
Bagaimana proses terbentuknya Budaya Islam di Indonesia??Dan berikan contoh
nyata yang ada dalam kehidupan sehari-hari?
3.
Sebutkan dua bentuk tradisi umat Islam di Indonesia. Dan jelaskan perbedaan
nilai-nilai tradisi di dalamnya yang kalian ketahui!
4.Sebutkan
salah satu upacara atau tradisi disekitarmu yang bernuansa Islam. Ceritakan
proses pelaksanaanya dan bagaimana usahamu untuk melestarikan nya?
5.
Jelaskan perbedaan pendekatan seni budaya local antara Wayang, Kasidah, dan Hadrah. Dan
berikan contoh nyata yang ada dalah kehidupan sehari-hari?
Proses
pemberian nilai (skor) pada soal-soal di atas memiliki ketentuan sebagai
berikut; masing-masing butir soal memiliki nilai 2 (dua), sehingga nilai penuh
dari lima soal tersebut adalah 10 (sepuluh). Soal yang tidak di jawab atau di
abaikan mendapat nilai 0 (nol), sedangkan soal yang jawabanya salah dan tidak
sesuaimemperoleh nilai 0 (nol).Jika benar mendapat 2 (dua) skor dari perbutir
soalnya[19].
Nilai
=
Soal-soal
tersebut disajikan oleh guru kepada siswa kelas 9 melalui aplikasi android
berbasis E-learning dengan google formdengan
kurun waktu 90 menit untuk menjawab soal-soal tersebut. Siswa diberi kebebasan
dalam mengakses E-learning dan soal tersebut baik melalui gadget berupa mobilemaupun
dari komputer.
Hasil penelitian
Hasil pencapaian berpikir tingkat
tinggi pada pelajaran sejarah kebudayaan Islam menggunakan media E-learning
berbasis aplikasi android dengan responden siswa kelas 9 MTsN Kota Surabaya berjumlah
30 siswa menunjukan nilai rata-rata 8.13%. Hasil pengukuran ini menunjukan
bahwa dalam pembelajaran melalui E-learning siswa kelas 9 MTsN Kota Surabaya
dalam kategori baik, dalam artian pembelajaran melalu E-learning mampu
mendorong siswa berpikir tingkat tinggi.
Tabel 2. Tabel Penilaian /skor siswa pada soal SKI
|
No
Resp |
soal |
Skor |
||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
||
|
1 |
2 |
1 |
1 |
2 |
2 |
8 |
|
2 |
2 |
2 |
2 |
1 |
1 |
8 |
|
3 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
10 |
|
4 |
1 |
1 |
2 |
2 |
2 |
8 |
|
5 |
1 |
1 |
1 |
2 |
2 |
7 |
|
6 |
1 |
1 |
1 |
1 |
2 |
6 |
|
7 |
2 |
2 |
2 |
1 |
1 |
8 |
|
8 |
1 |
2 |
1 |
2 |
2 |
8 |
|
9 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
10 |
|
10 |
1 |
2 |
2 |
2 |
1 |
9 |
|
11 |
2 |
2 |
2 |
2 |
0 |
8 |
|
12 |
1 |
2 |
1 |
2 |
2 |
8 |
|
13 |
2 |
2 |
1 |
2 |
2 |
9 |
|
14 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
10 |
|
15 |
1 |
2 |
2 |
2 |
1 |
8 |
|
16 |
1 |
1 |
2 |
2 |
2 |
8 |
|
17 |
2 |
2 |
2 |
1 |
1 |
8 |
|
18 |
1 |
1 |
1 |
2 |
2 |
7 |
|
19 |
2 |
2 |
2 |
0 |
0 |
6 |
|
20 |
2 |
1 |
1 |
1 |
1 |
6 |
|
21 |
1 |
1 |
2 |
2 |
2 |
8 |
|
22 |
2 |
2 |
2 |
1 |
1 |
8 |
|
23 |
2 |
2 |
1 |
2 |
2 |
9 |
|
24 |
2 |
2 |
2 |
2 |
1 |
9 |
|
25 |
2 |
2 |
2 |
2 |
1 |
9 |
|
26 |
2 |
2 |
2 |
1 |
1 |
8 |
|
27 |
2 |
2 |
2 |
2 |
1 |
9 |
|
28 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
10 |
|
29 |
2 |
2 |
2 |
0 |
0 |
6 |
|
30 |
2 |
2 |
2 |
1 |
1 |
8 |
|
Nilai
rata-rata |
8.13 |
|||||
Berdasarkan
table di atas penilaian pancapain hots dalam pembelajaran E-learning pada siswa
kelas 9 dengan 30 responden menunjukan nilai rata - rata 8.13% yang mana masuk
dalam kategori baik.Penilaian diatas juga menunjukan bahwa dari 30 responden
yaitu siswa dan siswi kelas 9 MTsN kota Surabaya telah mengakses aplikasi
E-learning ini sesuai dengan permintaan dari guru. Murid tetap berusaha untuk
tetap mengikuti proses belajar dan mengajar meskipun diyakini terdapat beberpa
siswa yang memeliki kendala berupa keterbatasan akses gadget atau jaringan
internet.
Dalam
aplikasi E- learning yang digunakan oleh MTsN Kota Surabaya juga memiliki
fasilitas yang memberikan informasi kepada guru untuk dapat melihat kapan dan
jam berapa siswa dan siswi mengakses E-learning Informasi ini memudahkan guru
untuk mengidentifikasi jam berapa siswa aktif dalam proses belajar melalui
E-learning.
Penutup
Penilaian
pancapain hots dalam pembelajaran E-learning pada siswa kelas 9 dengan 30
responden menunjukan nilai rata - rata 8.13% yang mana masuk dalam kategori
baik.
Daftar pustaka
Agus
N. Cahyo. Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar.
Jogjakarta: DIVA Press, 2013.
Fanani, Achmad, and
Dian Kusmaharti. “PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN BERBASIS HOTS (HIGHER ORDER
THINKING SKILL) DI SEKOLAH DASAR KELAS V.” Jurnal Pendidikan Dasar,
n.d., 11.
Hardyanto, R.
Hafid, and Herman Dwi Surjono. “PENGEMBANGAN DAN IMPLEMENTASI E-LEARNING
MENGGUNAKAN MOODLE DAN VICON UNTUK PELAJARAN PEMROGRAMAN WEB DI SMK.” Jurnal
Pendidikan Vokasi 6, no. 1 (March 16, 2016): 43.
https://doi.org/10.21831/jpv.v6i1.6675.
Iqbal Faza Ahmad,
and Sukiman. “ANALISIS HIGHER ORDER THINKING SKILLS (HOTS) PADA SOAL UJIAN
AKHIR SISWA KELAS 6 KMI DALAM KELOMPOK MATA PELAJARAN DIRASAH ISLAMIYAH DI
PONDOK MODERN TAZAKKA BATANG,” No.2, Vol. XVI (Desember 2019).
https://doi.org/10.14421/jpai.2019.162-02.
Ismail Nawawi. METODE
PENELITIAN KUALITATIF : Teori Dan Aplikasi Untuk Ilmu Sosial, Ekonomi/Ekonomi
Islam, Agama, Manajemen Dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Dwiputra Pustaka
Jaya, n.d.
Kurniati, Dian,
Romi Harimukti, and Nur Asiyah Jamil. “KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA
SMP DI KABUPATEN JEMBER DALAM MENYELESAIKAN SOAL BERSTANDAR PISA.” Jurnal
Penelitian dan Evaluasi Pendidikan 20, no. 2 (November 21, 2016): 142.
https://doi.org/10.21831/pep.v20i2.8058.
mustahdi. Modul
Penyusunan Soal Berpikir Tingkat Tinggi (High Order Thingking Skills)
Pendidikan Agama Islam Dan Budi Pekerti. jakarta: direktorat pembinaan
sekolah menengah keatas kementrian pendidikan dan kebudayaan, 2019.
Ratih Novianti.
“PENGARUH LINGKUNGAN BELAJAR TERHADAP TINGKAT KONSENTRASI BELAJAR SISWA PADA
MATA PELAJARAN AKIDAH AKHLAK DI MAN 2 PALEMBANG” vol 1 No 1 (2019).
Rochman, Syaiful,
and Zainal Hartoyo. “Analisis High Order Thinking Skills (HOTS) Taksonomi
Menganalisis Permasalahan Fisika.” Science and Physics Education Journal
(SPEJ) 1, no. 2 (June 27, 2018): 78–88.
https://doi.org/10.31539/spej.v1i2.268.
Salehudin,
Mohammad. “DAMPAK COVID-19: GURU MENGADOPSI MEDIA SOSIAL SEBAGAI E-LEARNING
PADA PEMBELAJARAN JARAK JAUH” 10, no. 1 (2020): 16.
samir. “E-Learning
and Students’ Motivation: A Research Study on the Effect of E-Learning on
Higher Education” vol 9, no. 4 (2014).
http://dx.doi.org/10.3991/ijet.v9i4.3465.
Taufiqurrahman, M.
Tubi Heryandi, and Junaidi. “PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN HIGHER ORDER
THINKING SKILL PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM.” JPII, No.2,
Vol. 2 (April 2018).
Waller, V. and
Wilson, J. “A Definition for E-Learning. TheODL QC Newsletter,” 2001.
Wina Sanjaya. STRATEGI
PEMBELAJARAN BERORIENTASI STANDAR PROSES PENDIDIKAN. Ed 1. Jakarta: KENCANA
PRENADA MEDIA, 2006.
Yoki Ariyana, Ari
Pudjiastuti, Reisky bestary, and Zamroni. Buku Pegangan Pembelajaran
Berorientasi Pada Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi. kementrian
pendidikan dan kebudayaan, 2018.
[1]Wina Sanjaya, hlm 2.
[2]Syaiful Rochman and Zainal Hartoyo, “Analisis High Order Thinking Skills (HOTS) Taksonomi Menganalisis Permasalahan Fisika,” Science and Physics Education Journal (SPEJ) 1, no. 2 (June 27, 2018): 78–88, https://doi.org/10.31539/spej.v1i2.268.
[3]Rochman and Hartoyo.
[4]Agus N. Cahyo, Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar (Jogjakarta: DIVA Press, 2013), hlm 12.
[5]Rochman and Hartoyo, “Analisis High Order Thinking Skills (HOTS) Taksonomi Menganalisis Permasalahan Fisika.”
[6]Mohammad Salehudin, “DAMPAK COVID-19: GURU MENGADOPSI MEDIA SOSIAL SEBAGAI E-LEARNING PADA PEMBELAJARAN JARAK JAUH” 10, no. 1 (2020): hlm 4.
[7]R. Hafid Hardyanto and Herman Dwi Surjono, “PENGEMBANGAN DAN IMPLEMENTASI E-LEARNING MENGGUNAKAN MOODLE DAN VICON UNTUK PELAJARAN PEMROGRAMAN WEB DI SMK,” Jurnal Pendidikan Vokasi 6, no. 1 (March 16, 2016): hlm 44, https://doi.org/10.21831/jpv.v6i1.6675.
[8]Dian Kurniati, Romi Harimukti, and Nur Asiyah Jamil, “KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA SMP DI KABUPATEN JEMBER DALAM MENYELESAIKAN SOAL BERSTANDAR PISA,” Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan 20, no. 2 (November 21, 2016): hlm 154, https://doi.org/10.21831/pep.v20i2.8058.
[9]Iqbal Faza Ahmad and Sukiman, “ANALISIS HIGHER ORDER THINKING SKILLS (HOTS) PADA SOAL UJIAN AKHIR SISWA KELAS 6 KMI DALAM KELOMPOK MATA PELAJARAN DIRASAH ISLAMIYAH DI PONDOK MODERN TAZAKKA BATANG,” No.2, Vol. XVI (Desember 2019): hlm 137, https://doi.org/10.14421/jpai.2019.162-02.
[10]Taufiqurrahman, M. Tubi Heryandi, and Junaidi, “PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN HIGHER ORDER THINKING SKILL PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM,” JPII, No.2, Vol. 2 (April 2018): hlm 206.
[11]Ismail Nawawi, METODE PENELITIAN KUALITATIF : Teori Dan Aplikasi Untuk Ilmu Sosial, Ekonomi/Ekonomi Islam, Agama, Manajemen Dan Ilmu Sosial Lainnya (Jakarta: Dwiputra Pustaka Jaya, n.d.), hlm 185.
[12]Ismail Nawawi, hlm 48.
[13]Rochman and Hartoyo, “Analisis High Order Thinking Skills (HOTS) Taksonomi Menganalisis Permasalahan Fisika.”
[14]Yoki Ariyana et al., Buku Pegangan Pembelajaran Berorientasi Pada Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (kementrian pendidikan dan kebudayaan, 2018), hlm 13.
[15]Ratih Novianti, “PENGARUH LINGKUNGAN BELAJAR TERHADAP TINGKAT KONSENTRASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN AKIDAH AKHLAK DI MAN 2 PALEMBANG” vol 1 No 1 (2019): hlm 2.
[16]Achmad Fanani and Dian Kusmaharti, “PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN BERBASIS HOTS (HIGHER ORDER THINKING SKILL) DI SEKOLAH DASAR KELAS V,” Jurnal Pendidikan Dasar, n.d., hlm 10.
[17]samir, “E-Learning and Students’ Motivation: A Research Study on the Effect of E-Learning on Higher Education” vol 9, no. 4 (2014): hlm 20, http://dx.doi.org/10.3991/ijet.v9i4.3465.
[18]Waller, V. and Wilson, J, “A Definition for E-Learning. TheODL QC Newsletter,” 2001, hlm 2.
[19]mustahdi, Modul Penyusunan Soal Berpikir Tingkat Tinggi (High Order Thingking Skills) Pendidikan Agama Islam Dan Budi Pekerti (jakarta: direktorat pembinaan sekolah menengah keatas kementrian pendidikan dan kebudayaan, 2019), hlm 11.
Komentar
Posting Komentar