Langsung ke konten utama

PEMANFAATAN TEKNOLOGI PEMBELAJARAN PAI BERBASIS GAYA BELAJAR SISWA ( teknologi pendidikan )


Mochammad syihabbudin

Syihabb056@gmali.com

Ulfa Indah

Masluq.cakep@gmail.com

Muhammad Afwan Bahri

bahri.pba14@gmail.com

UIN SUNAN AMPEL SURABAYA

Abstract

The development of an increasingly advanced era now, requires all levels of institutions to always be updated in updating the system in all fields, both from the layers of government, offices, trade, business and even education. Because it is expected to always update the system it is said to be able to compensate for the flow of modernization like the current era. With the existence of various new technologies, it is hoped that all communities will be able to master them so that they can make it easier to carry out any activity. Likewise with education especially the learning system, it is expected that all people who interact with each other in a school institution must be able to utilize and use technology to the fullest so that it can help facilitate interaction between educators and students in delivering a material when learning takes place. And educators and educators can compete fairly in the current era of modernization. That is the initial description that will be explained in this article.

Keywords : the use of technology and student learning styles

Abstrak

   Perkembangan zaman yang semakin maju sekarang ini, menuntut kepada semua lapisan lembaga apapun untuk selalu update dalam memperbarui sistem di segala bidang, baik dari lapisan pemerintahan, perkantoran, perdagangan, perbisnisan dan bahkan pendidikan. Karenadiharapkandenganselalu memperbarui sistem tersebut maka dikatakan mampu dalam mengimbangi arus modernisasi seperti era saat ini. Dengan adanya berbagai teknologi baru diharapkan semua masyarakat mampu untuk menguasainya sehingga dapat mempermudah dalam melakukan aktivitas apapun. Begitu juga dengan pendidikan khususnya sistem pembelajaran, maka diharapkan semua masyarakat yang saling berinteraksi dalam suatu lembaga sekolah tersebut harus mampu memanfaatkan dan menggunakan teknologi secara maksimal sehingga dapat membantu mempermudah interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam menyampaikan sebuah materi ketika pembelajaran berlangsung. Dan tenaga pendidik dan pendidik dapat bersaing secara sehat di era modernisasi saat ini. Itulah sebagai gambaran awal yang akan dijelaskan dalam artikel ini.

Kata kunci : pemanfaatan teknologi dan  gaya belajar siswa.

Pendahuluan

   Di dalam sejarah dunia, pendidikan merupakan hal yang sangat diperhatikan oleh seluruh lapisan negara. Karena pendidikan merupakan hal yang sangat diperlukan dalam berlangsungnya kehidupan serta mencetak atau bahkan menanamkan kecerdasan dalam generasi-generasi muda sebagai penerus setiap negara. Karenapendidikanyaitulangkahsuatu proses pembelajarandanmengaksespengetahuan, dilatihtrampil, danmerupakansebuahwarisan yang bersifatturun-temurundarigenerasiawalhinggasaatinimelalui proses penelitian, platihan, sertapengajaran. Pendidikan merupakan sebuah cara yang sistemikdalammembentukdiri dan menciptapkan atmosfer beljar mengajar antara pendidik dan peserta didik dalam mengembangkan kemampuannya bagi guru, dan menemukan jati dirinya bagi peserta didik. Kecerdasan, perilaku yang mulia, disiplin diri, serta ketrampilan dan spiritual yang kuat akan muncul juga dengan adanya sebuah pendidikan. Yang mana nanti akan berfaedah terhadap diri dan lingkungannya.

   Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwasannya pendidikan merupakan sebuah langkah menyusuri segala potensi yang ada pada anak didik, sebab sebagai generasi manusia dan sebagai warga negara dapat menuai kesejahteraan, kebahagiaan dan keselamatan secara maksimal. Dan secara tidak langsung bahwa pendidikan merupakan modal besar yang harus ditanamkan kepada peserta didik dengan baik. Maka banyak lembaga pendidikan bersaing mencetak generasi lulusan yang hebat dan cerdas guna melawan arus perkembangan zaman yang akan dilalui bersama. Oleh karena itu kurikulum sebagai pedoman pengajaran harus dibuat sebaik mungkin dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang dijadikan sebagia acuan pembuatan kurikulum yang bisa diterima oleh semua masyarakat sekolah.

   Dalam berkembangnya zaman, arus modernisasi harus juga diimbangi dengan SDM yang handal. Oleh karenanya, dalam sebuah lembaga pendidikan harus terdapat tangan-tangan terampil yang mampu bersaing agar tidak kalah jauh dengan yang lainnya, khususnya dalam pemanfaatan teknologi-teknologi baru yang dapat digunakan dalam dunia pendidikan. Karena teknologi yang ada dalam pendidikan merupakan sebuah kajian ilmu yangh wajib dipelajari sehingga, ketika kita terjun di dalam sebuah medan yang dibutuhkan sebuah teknologi pendidikan maka, dapat digunakan secara maksimal dan efisien. Dalam problematika pendidikan yang sering muncul, teknologi pendidikan kini berkembang dengan cepat agar kita sebagi generasi penerus dapat memanfaatkannya sesuai kebutuhan dan dengan teknologi pula dapat meringankan beban dan mempermudah dalam mengkikis permasalahan-permasalahn yang muncul dalam dunia pendidikan serta ajang untuk belajar. Oleh karenanya tenaga pendidik serta peserta didik mampu mengimbangi perkembangan zaman ini dengan cara menguasai teknologi pendidikan yang lebih modern sehingga diharapkan mampu untuk bersaing secara sehat dengan lembaga-lembaga yang berada di intuisi lainnya. Sebuah hal yang sangat wajib sekarang ini untuk selalu mengedepankan teknologi sebagai sarana dalam memudahkan sebuah pembelajaran. Serta memberi sistem pengarahan juga dalam gaya belajar siswa agar menggunakan teknologi yang disesuaikan. Akhirnya, artikel ini dibuat untuk bisa diambil manfaat bagi pembaca untuk selalu memperbarui sistem pembelajaran sesuai perkembangan zaman yang kaya akan teknologi.

Pembahasan

Kajian penelitian

Penelitian yang akan disajikan seperti tema diatas menggunakan model kualitatif dan deskriptif, yang mana menurut Sugiyono bahwasannya model penelitian deskriptif yaitu sebuah langkah penelitian yang dimaksudkan atau bertujuan menggambarkan atau memaparkan suatu hasil penelitian yang berbentuk narasi namun, pembahasannya tidak perlu terlalu meluas dari kajian dan hasil yang di telah dicapai. Penulis membuat laporan ini berbentuk kualitatif dikarenakan data yang diperoleh dan dibutuhkan bersifat dokumen baik tulisan, atau sebuah catatan yang bersifat naratif.

Sugiyono, 2009 dan Moeloeng, 2013 mengungkapkan bahwasannya penelitian yang disusun secara kualitatif itu adalah metode yang diterapkan guna menyesuaikan keadaan sumber kajian yang bersifat alamiah. Model kualitatif yang berlaku dalam sebuah penelitian yaitu merupakan sebuah langkah menyamakan data baik di lapangan dan yang terkandung dalam sebuah teori yang masih dipakai dan berbentuk deskriptif. Model kualitatif biasanya meliputi beberapa bagian seperti teori gagasan, ide, pendapat atau kepastian akan sebuah obyek yang akan dikaji atau uji coba, pengumpulan data bersifat tulisan bukan angka-angka. Penelitian ini dimaksudkan agar bisa diambil sisi positif dalam rangka penggunaan teknologi yang sangat berkembang seperti saat ini, seperti peran teknologi saat ini yang berada di Indonesia, apakah sudah dimanfaatkan dalam mengakses informasi yang mendukung pengetahuan apa belum digunakan sama sekali, sehingga persaingan berbasis teknologi pendidikan bisa berdampingan antara Indonesia dengan negara-negara lain.[1]

Data yang terdapat dilaporan ini merupakan data yang diambil oleh penulis melalui observasi obyek khususnya secara garis besar mencakup pendidikan dan data yang lain diperoleh dari jurnal, artikel, buku dan sumber catatan lain yang masih berhubungan dengan kajian ini.

PEMANFAATAN TEKNOLOGI

Perjalanan hidup manusia secara siklus zaman akan selalu berkembang dengan hasil temuan baru yang biasanya dilakukan oleh para ahli dunia dalam usaha untuk mengkikis setiap problematika atau maslah-masalah yang muncul dalam sebuah kehidupan khususnya dunia pendidikan agar mutu generasi muda di era yang global ini bisa terjamin kualitas hidup dan sumber daya manusianya secara menyeluruh. Ada hasil riset yang menemukan tentang sebuah teknologi informasi yang akan menimbulkan dampak yang sangat besar baik positif ataupun negatif. Penelitian ini membawa dampak perubahan yang amat sangat besar terkhusus bagi mereka yang lahir pada peradaban atau era zaman saat ini yang mana lahir sudah dihadapkan dengan perkembangan teknologi yang amat pesat dan menyeluruh baik dari golongan atas maupun bawah.Teknologi pendidikan bukan sekedar terapan, namun juga berguna bagi proses belajar mengajar. Saat ini teknologi pendidikan telah berdiri dan berkembang menjadi ilmu yang mandiri sesuai kegunaanya.[2] Pendapat Rogers mengenai sebuah teknologi yaitu sebuah konsep instrumen yang berguna untuk mempersempit sebuah ketidak pastian terhadap suatu sebab dan akibat dalam menyelesaikan sebuah hasil. Kemudian teknologi dibagi menjadi 2 bagian penting yaitu perangkat keras dan perangkat lunak, yang mencakup perangkat keras yaitu peralatan sedangkan perangkat lunak itu berupa informasinya..

Teknologi yang ada dalam sebuah pembelajaran yaitu merupakan komponen buatan yang tidak dibuat oleh komponen yang ada dalam pembelajaran lainnya. Pembuatannya disusun dari sejumlah konsep, teori, model dan disiplin bidang lainnya. Secara tidak langsung jika ditinjau dari segi teori dan keprofesionalan ilmu bahwasannya teknologi pembelajaran ini merupakan trobosan tentang proses teknologi dalam mempermudah manusia dalam belajar dan memecahkan masalah. Teknologi pembelajaran ini saling mengaitkan antara ilmu satu dan ilmu lainnya yang sama-sama membutuhkan teknologi jadi, teknologi seakan-akan berperan maksimal dalam membantu mempermudah memahami disiplin ilmu lainnya.

Berpatokan pada teori tertulis diatas, maka AECT (1997: 3) memunculkan pengertian tentang sebuah pembelajaran berbasis teknologi (teknologi pembelajaran) seperti berikut ini: teknologi pembelajaran membicarakan tentang teori dan praktik dalam 5 hal penting, yang di kenal dengan domain teknologi pembelajaran. 5 domain ini menjadi bidang garap bagi teknologi pembelajaran. domain tersebut meliputi:

a. Domain desain meliputi sumber teori dan praktek akan sebuah proses dan pembuatan bahan belajar.

b. Domain pengembangan meliputi tata cara  teori dan sebuah praktek dan bahan belajar dikembangkan. 

c. Domain pemanfaatan yang  meliputi tata cara teori dan praktek suatu proses dan sumber belajar di ambil manfaat dalam kebutuhan belajar. 

d. Domain pengelolahan yaitu sebuah kesatuan integral yang berada pada teknologi pembelajaran dan peranan seuai teknologi pembelajaran. 

e. Domain penilaian berkembang beriringan dengan sebuah penelitian dan metode pendidikan yang berkembang.

Teknologi informasi serta komunikasi atau biasa dikenal dengan CIT adalah prioritas untuk menciptakan sekolah berbasis inovasi, dikarenakan jika sebuah lembaga memakai sistem Cit maka secara tidak langsung akan meningkatkan kualitas belajar mengajar di lembaga tersebut. Serta adanya mutu sikap belajar yang positif akan meningkat, oleh karena itu sistem CIT harus atau bahkan wajib diterapkan pada setiap lembaga pendidikan. Dan sebagai upaya langkah seperti itu diharapkan bisa mengalami perubahan-perubahan yang ada di dalam lembaga sekolah tersebut sesuai dengan tata letak dan kondisi sekolah itu berada.[3]

Sebuah pendidikan memiliki peran yang sangat urgen ketika memegang peran mencetak generasi manusia yang berkualitas dan bermutu SDM tinggi. Dan sebab alasan tersebut maka lembaga sekolah harus didesain sebaik mungkin baik dari segi kualitas dan kuantitasnya. Perihal itu maka dituntut bagi sang pencari ilmu harus tamat pendidikan tepat waktu dengan nilai yang sangat memuaskan. Nilai akhir belajar seseorang biasanya dihasilkan oleh berbagai faktor yang ditentukan. Sebuah faktor yang terdapat pada out pribadi individu yaitu adanya materi yang digunakan untuk belajar dan dikembangkan secara baik. Serta style belajar individu juga sangat menunjang keberhasilan seorang individu dalam mengembangkan bakat kognitifnya, afektifnya, serta psikomotoriknya. Gaya belajar lebih memperlihatkan kebiasaan seorang individu dalam menikmati pembelajaran atau belajar mandiri.

Gaya belajar merupakan sebuah tindakan yang natural yang muncul dengan sendirinya pada setiap individu maka, bisa jadi antara individu satu dengan yang lainnya gaya belajar mereka berbeda-beda sesuai bakat dirinya masing-masing. Gaya belajar juga dapat menunjang nilai atau input materi yang telah diterimanya, sehingga sebagai hasil akhir maka seorang individu yang telah enjoy dengan gaya belajarnya maka nilai baik atau hasil yang memuaskan akan dicapai setara dengan prosesnya tersebut. Karena gaya belajar yang sesuai dan tepat mampu mengembangkan kualitas intelegensi individu tersebut.

Sebagai pendidik juga harus mampu memilih gaya belajar dalam mendidik peserta didiknya, seperti halnya dengan penggunaan alat LCD dengan media presentasi pendidik mampu mengkemas semua materi atau bahan ajar di dalam presentasi tersebut, sehingga bisa menciptakan suasana yang berbeda dan menarik. Dan biasanya respon yang dimunculkan oleh peserta didik lebih besar karena mereka mampu melihat dan memahami informasi materi tersebut dengan gaya yang berbeda pula. Titik kejenuhan peserta didik biasanya muncul ketika pendidik hanya menggunakan satu metode jadul yaitu metode ceramah, yang mana di situ lebih membuat peserta didik pasif dan hanya membayangkan sebuah materi. Akhirnya, peserta didik kurang antusias dalam kegiatan belajar yang ada di kelas. Trobosan seperti itulah yang diperankan oleh teknologi pendidikan sekarang ini.

Dalam perkembangannya teknologi pendidikan merupakan sebuah proyek yang mampu mengatasi serta menjawab problematika yang ada dalam sebuah pendidikan.

Gaya Belajar

            Pengertian gaya belajar

   Suatu sikap yang dimiliki oleh setiap individu dalam merekam, mengatur, menyerap dan mengolah informasi yang diperolehnya. Gaya belajar yang sesuai atau proporsional merupakan kunci kesuksesan peserta didik dalam belajar. Penggunaan gaya bahasa verbal maupun auditorial apabila hanya menggunakan gaya bahasa yang tidak memiliki ragam atau bersifat monoton maka akan menyebabkan banayaknya perbedaan akan informasi yang di peroleh. Oleh karena itu dalam kegiatan belajar, siswa harus dibantu dan diberi arahan dalam mengenal gaya belajar yang sesuai dengan pribadinya agar hasil belajar maksimal.[4]

   Sedangkan versi Hamzah berdasarkan tulisannya yang berjudul “Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran” gaya belajar merupakan sebuah kemampuan individu dalam memahami dan menangkap pelajaran yang sudah pasti berbeda tingkatannya ada yang cepat dan ada yang sedang bahkan lambat.[5] Dengan demikian mereka akan memiliki cara yang berbeda dalam menempuh sebuah informasi atau ilmu pelajaran yang sama. Terkadang peserta didik lebih suka mendengarkan guru menjelaskan materi dengan metode ceramah, ada juga yang suka dengan seorang guru yang menulis di papan tulis sehingga mereka mampu membacanya. Di sisi lain, juga terdapat beberapa siswa yang menyukai berdiskusi pelajaran di dalam suatu kelompok kecil.

   Dalam bukunya Nasution menyebutkan bahwa cara yang lebih sering di lakukan oleh peserta didik dalam memahamisebuah materi, cara menghafal, bertelaah, dan menyelesaikan soal ialah salah satu pengertian dari gaya belajar.[6]Sedangankan Menurut Hintzman dalam bukunya Alex Sobur yang berjudul psikologi umum berpendapat belajar ialah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme disebabkan pengalaman  tersebut yang bisa memengaruhi tingkah laku organisme.[7] Dapat arti lain bahwa belajar adalah perubahan yang terjadi dalam setiap individu masing-masing dari pengalaman dan tingkah laku.

   Dilain sisi Kemp juga mengemukakan pendapat didalam bukunya Tutik Rachmawati dan Daryanto yang berjudul Teori Belajar dan Proses Pembelajaran yang Mendidik bahwa gaya belajar dapat di lihatdari cara mengenali berbagai metode belajar yang disukai,dimana hal tersebutmungkin lebih efektif bagi siswa.[8] Gaya belajar yang dimaksud adalah memahami metode-metode dalam pembelajaran itu sangat penting agar pembelajaran untuk siswa lebih efektif. Sehingga siswa mampu menangkap materi dengan baik tanpa adanya kesusahan.

   Dari sekian banyak definisi maka dapat ditarik benang merah bahwasannya gaya belajar setiap individu itu berbeda-beda, sehingga dalam memperoleh dan menyerap ilmu atau materi yang disampaikan oleh guru, siswa memiliki ciri khas tersendiri bagaimana ia meletakkan dirinya sehingga mudah dalam menerima ilmu tersebut.

Macam-macam Gaya Belajar

   setiap individu memiliki cara atau cirikhas gaya belajar masing-masing menurut De poter mengutip karyanya Tutik rachmawati dan Daryanto yang berjudul teori belajar dan proses pembelajaran yang mendidik terdapat terdapat 3gaya dalam belajar, visual, auditorial dan kinestetik. Dalam kenyataannya, setiap orang terkadang memiliki tiga gaya belajar tersebut, tetapi kebanyakan orang cenderung hanya mengunakan salah satu dari ketiga gaya tersebut.

Gaya belajar visual

Ciri-ciripeserta didik yang memilikikecenderunganbelajar visual yakni, ialebihmengoptimalkanindrapenglihatannya. Individu yang  memiliki gaya belajar visual ia akan mudah menghafal dari apa yang ia lihat, seperti gerak tubuh atau ekspresi gurunya, diagram, buku pelajaran bergambar atau video, sehingga mereka bisa mengerti dengan baik mengenai posisi atau local, bentuk, angka, dan warna. Ciri-ciri siswa yang mempunyai gaya belajar visual cenderung rapi dan tertur, bicara agak cepat, mementingkan penampilan dalam perpakaian/presentasi, tidak mudah terganggu dengan keributan, lebih mengingat kata dengan melihat susunan huruf pada kata, tetapi mereka sulit menerima instruksi verbal.

Kelebihan visual, kemampuan visual ini tidak semua orang mampu namun lebih terlihat pada sebagian orang saja, penyebabnya yaitu dalam pribadi individu tersebut khususnya bagian otak banyak syaraf yang bekerja dengan baik pada bagian visualnya saja daripada fungsi lainnya. Ada beberapa masalah yang ditimbulkan ketika kinerja individu menggunakan visual, yang pertama yaitu melihat bentuk, melihat dalam, dan yang terakhir yaitu kesukaran dalam warna. Diartikan bahwa siswa lebih cepat mencerna ketika informasi yang berbentuk gambar, warna, dan bentuk seni lainnya ditangkap dengan indera mata dan disimpan di dalam otak dan akan lebih sering diingat. Model  gaya belajar individu secara visual yaitu :

 

1.      Teratur dan rapi

Peserta didik visual lebih menyiapkan penampilannya, seperti pakaian maupun lingkungan di sekelilingnya. Mereka suka hal yang rapi dan juga yang indah. Mereka juga terkadang memiliki catatan yang baik. Dan tidak suka suasana lingkungan yang berantakan karena bisa mengganggu mereka dalam proses belajar.

2.      Sukar menerima perintah verbal

Peserta didik yang cenderung  gaya belajar visual sering kali lalai akan sesuatu materi yang mereka terima melalui ucapan. Biasanya mereka yang tergolong orang visual, mereka tidak respon kepada intruksi yang bersifat verbal dan mudah lupa dengan hal yang mereka dengar hingga mereka menerima intruksi yang disertakan gambar, diagram dan bagan.

3.      Lebih teliti

Siswa lebih cermat dan berhati-hati dalam mengamati materi pelajaran, dan

memperhatikan dengan detail pada apa yang siswa kerjakan.

4.      Lebih mengingat yang dilihat

Siswa lebih condong dalam menggunakan indera penglihatannya yang tajam. Seperti halnya contoh konkrit yang harus mereka lihat sebagai langkah awal mereka untuk memudahkan dalam memahami sesuatu. Mereka yang cenderung dengan gaya belajar visualism akan berusaha mempermudah daya ingat mereka melalui penglihatan, seperti membaca buku, melihat presentasi yang sengaja pendidik lakukan, menyaksikan sebuah ilustrasi yang terletak pada alam sekitar, fenomena-fenomena alamiah melalui observasi, serta melalui tayangan televisi yang sifatnya mendidik dan  bisa dipetik sebuah ilmu untuk belajar.

5.      Jarang tergoda oleh kegaduhan

Mereka yang mempunyai gaya belajar visual dapat belajar dengan baik dengan diiringi alunan musik maupun tidak. Kegaduhan dan suara di sekitarnya tidak akan mampu menggoyahkan konsentrasi mereka, karena mereka lebih tertuju pada apa yang ada dalam penglihatannya daripada yang ada dalam pendengarannya. Jika tmodel visual ini sedang berfikir, mereka akan melihat ke arah langait-langit, dengan pandangan mata ke arah kanan dan kiri, dikarenakan otak mereka berproses untuk sebuah data dengan melihat setiap kata dan simbol. Memang semua orang akan pasti melakukan hal yang sama pula apabila sedang melihat gambar atau simbol, namun model gaya belajar seperti ini melakukannya lebih sering dibandingkan orang lain.

Untuk mengatasi beberapa masalah yang dipaparkan diatas, maka ada beberapa solusi pendekatan yang dapat digunakan sehingga belajar tetap bisa dilakukan dengan cara memberikan hasil yang sesuai dan maksimal. Yaitu dengan menggunakan beraneka ragam corak grafis untuk mentransfer bahan ajar atau materi pembelajran.

Gaya belajar Auditorial

   Adalah gaya belajar yang mengedepankan sebuah indera yang berupa pendengaran sebagai alat dalam mengakap dan menghafalnya sebuah informasi. Gaya belajar semacam itu benar-benar memberikan kesempatan kepada organ telinga untuk alat awal menangkap pelajaran dan pengetahuan. Artinya, kita harus mendengarkan terlebih dahulu baru kemudian bisa mengingat dan memahami informasi yang diperoleh. model gaya belajar audiotori yaitu sebagai berikut :

1.      Mudah terganggu oleh keributan

Siswa yang mempunyai gaya belajar auditori, mereka cenerung sangat peka dengan gangguan auditori. ketika siswa sedang belajar dikelas atau diluar kelas mereka akan merasa terganggu bila ada suara-suara di sekitarnya. Seperti suara orang lain di luar kelas, suara mobil, suara kipas angin atau suara yang dapat mengganggu konsentrasi bekajar mereka.

2.      Senang membaca dengan suara keras dan mendengarkan

Siswa yang cenderung suka dengan membaca dengan keras tujuannya untuk

mempercepat belajarnya yaitu membaca secara pintas, dan mereka cenderung membayangkan teks yang ada seperti penayangan flm dengan disertai efek suara, nada suara, perasaan, dan music untuk membuat materi menjadi lebih hidup. Dengan begitu mereka lebih cepat memahami bacaan jika dibaca dengan suara yang keras. Mereka juga suka menggerakkan bibir dan mengucapkan tulisan di buku ketika sedang membaca. Hal itu dilakukan agar mereka lebih memahami materi daripada hanya sekedar dibaca di dalam hati

3.      Merasa kesulitan untuk menulis, tetapi mampu dalam bercerita

Siswa yang mempunyai tipe gaya belajar auditori cenderung kesulitan dalam menulis karena tulisannya jelek dan siswanya lebih semangat dalam bercerita di kelas.

4.      Suka bercerita depan umum, berdiskusi dalam kelompok, menjelaskan sesuatu

Siswa yang mempunyai tipe gaya belajar auditori dalam kesehariannya tidak nyaman dengan keadaan yang sepi, dan meraka mereka cenderung meruba keadaan yang sepi menjadi ramai, berisik, dengan cara bernyayi, berbicara dengan keras, mendengarkan music. Siswa juga cenderung senang mendiskusikan sesuatu dengan cara membuka percakapan secara panjang lebar.

5.      Lebih suka musik atau sesuatu yang bernada dan berirama

Siswa yang mempunyai gaya belajar auditori cenderung menyukai music, nada-nada, irama, dan nada suara. Mereka senang mendengarkan suarasuara yang indah, melodi yang manis, dan suara yang membuat hati mereka senang. Mereka terkadang merasa tidak suka denga suara-suara yang nyaring, seperti suara sirine, dan suara keributan.

Beberapa pendekatan yang bisa dilakukan untuk masalah kesulitan

kesulitan belajar seperti di atas yang pertama adalah menggunakan tape perekam sebagai alat bantu, alat ini digunakan untuk merekam bacaan atau catatan yang dibacakan atau ceramah pengajar di depan kelas untuk kemudian

di dengarkan kembali. Pendekatan kedua adalah dikakukan engan cara wawancara atau terlibat dlaam kelompok diskusi. Sedangkan pendekatan yang

ketiga adalah dengan mencoba membaca informasi, kemudian diringkas dalam

bentuk lisan dan direkam untuk kemudian didengarkan dan dipahami, langkah

ang terakhir adlah dengan melakukan review secara verbal dengan teman atau

pengajar.

Gaya belajar Kinestetik

   Siswa yang mempunyai gaya belajar kinestetik cara membaca dan mendengarkannya salahsatu kegiatan yang membosankan. Memberi instruksi yang diberikan secara tertulis maupun lisan seringkali mudah dilupakan, karena mereka cenderung lebih memahami tugasnya jika mereka mencobanya secara langsung. Dan ciri-ciri gaya belajar kinestetik yaitu :

1.      Bicara perlahan-lahan

Siswa yang mempunyai gaya belajar kinestetik cenderung bicara dengan perlahan dan pelan, berbeda dengan siswa visual yang berbicara dengan  kecepatan bicara yang cepat dan auditori dengan kecepatan berbicara sedang Banyak siswa yang tidak senang pada penjelasan yang panjang lebar. Mereka menyukai guru yang menggunakan kata-kata kunci dan perbuatan, serta memberikan bimbingan jika mereka membutuhkannya.

2.      Banyak gerakan

Siswa kinestetik biasa memiliki perkembangan oto-otot yang besar, banyak

menggunkan isyarat tubuh, menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca, suka mempraktikkan secara langsung.

3.      Selalu aktif

Siswa yang mempunyai tipe gaya belajar kinestetik tidak bisa duduk diam di satu tempat. Karena mereka senang bergerak. Dalam proses pembelajaran harus diberikan gerakan-gerakan yang positif yang dapat membantu proses

belajar mereka.

4.      Belajar melalui manipulasi dan praktik

Siswa yang mempunyai gaya belajar kinestetik sangat suka dengan tantangan, dan menemukan hal-hal yang baru. Mereka termotivasi pada lingkungan yang kompetitif. Mereka juga senang berkompetisi dengan diri sendiri atau dengan orang lain.

5.      Peka terhadap ekspresi dan bahasa tubuh

Siswa bergaya belajar kinestetik ini mudah menghafal atau belajar dengan

cara bergerak atau berjalan-jalan.

 

Faktor yang mempengaruhi Gaya belajar

   Setiap siswa  memiliki gaya belajar yang berbeda. mengetahui gaya belajar yang berbeda ini telah membantu para guru dimana pun untuk dapat mendekati semua atau hampir semua siswa hanya dengan menyampaikan dengan gaya yang berbeda-beda. Rita Dunn, seorang pelopor di bidang gaya belajar, telah menemukan bahwa banyak hal yang memengaruhi cara belajar siswa mencangkup faktor fisik, emosional, sikologis dan lingkungan”. Dapat diartikan bahwa sebagian siswa dapat belajar paling baik dengan cahaya yang terang, sedangkan sebagian siswa yang lain dengan pencahayaan yang suram. Ada siswa yang belajar paling. baik secara berkelompok, sedangkan siswa  lain lagi memilih adanya figure otoriter seperti orang tua atau guru, yang lain merasa bahwa bekerja sendirilah yang paling efektif bagi mereka. Sebagaimana siswa memerlukan musik sebagai iringan belajar,

sedang siswa yang lain tidak dapat berkonsentrasi kecuali dalam keadaan ruangan

sepi. Ada siswa yang memerlukan situasi kerja yang teratur dan rapi, tetapi siswa

yang lain lagi lebih suka memperagakan segala sesuatunya supaya dapat dilihat

oleh mata.

   David Kolb dalam karya gufron dan risnawati tentang kajian teoritik gaya belajar berpendapat : setiap individu secara alami akan mengembakat bakat dan sistem gaya belajarnya secara mandiri sesuai pribadinya masing-masing. Dengan gaya belajar itulah nantinya seseorang individu akan menemukan kebiasaan yang cocok atau kenyamanan dalam menerima sebuah informasi pengetahuan atau materi ajar yang disampaikan oleh gurunya. Ada 5 faktor yang membedakan gaya belajar individu satu dengan yang lainnya, yaitu dengan adanya sebuah sistem jurusan yang tidak sama, kepribadian indiviud, serta peranan individu, karir dan pekerjaan.

 

 

 

  

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

Kesimpulan

            Teknologitelahmerasukkedalamruangkehidupanmanusia yang manasudahmasuk era modernisasai dan perkembangan zaman yang milenial ini. Terutama dalam pendidikan, teknologi bukan sekedar ilmu terapan namun sudah ikut bagian dalam proses pembelajaran. Yang mana merupakan salah satu bidang yang sangat berpengaruh. Sedangkang gaya belajar yaitu suatu sikap atau perilaku yang dimiliki oleh setiap pribadi seseorang dalam menangkap dan merekam serta memahami dan mengolah informasi yang didapatnya. Gaya belajar yang cocok sesuai porsinya merupakan kunci kesuksesan peserta didik dalam belajar. Jadi, sebagai pendidik sendiri kita harus bisa memanfaatkan teknologi yang ada dengan menyesuaikan gaya belajar peserta didik, sehingga akan lebih memotivasi dan juga menarik peserta didik untuk belajar dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

            Abdullah, abdul haris. “Pengaruh Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Motivasi Belajar terhadap Perilaku belajar siswa”. J.I Iqra no 1(2009) : 273906

            Ghufron, M. Nur. “Gaya Belajar”. 2012

            Prastowo. Andi, “Analisis Pembelajaran Tematik Terpadu”. Prenada media 2009.

            Nasution, sorimuda. Berbagai pendekatan dalam proses belajar dan mengajar.PT. Bina Aksara, 2000

            “Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi Untuk Meningkatkan Pendidikan di Indonesia”.  Syntax Literate ; jurnal ilmiah, diakses 29 mei 2020

            Pengaruh Gaya Belajar Visual,Audiotorial, dan Kinestetik terhadap prestasi belajar siswa, Jurnal kependidikan : penelitian Inovasi Pembelajaran, diakses 30 mei 2020. https:/journal.uny.ac.id/index.php/jk/article/view/5307.

            Subur, alex. Psikologi umum, Pustaka Setia, 2016.

            Tekonologi Pendidikan dalam Menciptakan Pembelajaran Efektif Oleh : Untung Khoirudin Abstrac – PDF , https://docplayer.info/45441649

            “Teori Belajar dan Proses Pembelajaran yang Mendidik”. Diakses 30 mei 2020.

https://www.gavamedia.net/produk.365

 

 

 



[1]“PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK MENINGKATKAN PENDIDIKAN DI INDONESIA | Syntax Literate ; Jurnal Ilmiah Indonesia,” diakses 29 Mei 2020, http://www.jurnal.syntaxliterate.co.id/index.php/syntax-literate/article/view/130.

[2] Yusufhadi Miarso, Teknologi Komunikasi Pendidikan : Pengertian dan Penerapannya di Indonesia, Jakarta : 1989, Pustekom Depdikbud dan Rajawali, hlm. 45

[3]Abdul Haris Abdullah, “Pengaruh Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Motivasi Belajar terhadap Perilaku Belajar Siswa,” Jurnal Ilmiah Iqra' 3, no. 1 (2009): 273906, https://doi.org/10.30984/jii.v3i1.548.

[4]Bire,. 2014. “ Pengaruh Gaya Belajar Visual, Auditorial, dan Kinestetik Terhadap Prestasi Belajar SIswa”. Jurnal pendidikan, Vol.44 November, hal. 168-174

[5] Tutik Rahmawati, Daryanto,  Teori Belajar dan Proses Pembelajaran  Yang Mendidik, Yogyakarta: Gava Media, 2015 hal. 1

[6] Nasution, Berbagai Pendidikan dalam Proses Belajar Mengajar, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2009 hal. 94

[7] Alex Sobur, Psikologi Umum, Bandung: Pustaka Setia, 2005 hlm 217

[8] Tutik Rahmawati, Daryanto,  Teori Belajar dan Proses Pembelajaran  Yang Mendidik, Yogyakarta: Gava Media, 2015 hal. 1.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

makalah Sighat At- Tahamul Wal- Ada’

BAB I PENDAHULUAN   A.   Latar Belakang      Allah telah memberikan kepada umat Nabi Muhammad Saw, para pendahulu selalu menjaga Al-Quran dan Al-Hadis Nabi. Mereka adalah orang-orang jujur, amanah, dan memegang janji sebagian diantara mereka mencurahkan perhatiannya terhadap al-Quran dan ilmunya yaitu para mufassirin. Manusia dalam hidupnya membutuhkan berbagai macam pengetahuan. Seseorang yang telah mempelajari hadits dengan sungguh-sungguh dengan cara yang benar memiliki beberapa kode etik yang harus dia jaga dan dia pelihara, baik ketika masih menjadi pelajar itu sendiri atau ketika dia sudah mengajarkannya kepada orang lain kelak. Di dalam ilmu hadits hal ini dikenal dengan istilah at tahammul wal ada’. Di dalam makalah ini akan dibahas cara perimaaan dan periwayatan hadis yang disebut dengan At-Tahammul wa Al-'Ada.            Para ulama hadis telah bersusah payah mengusahakan adanya ilmu hadis in...

PENILAIAN MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MELALUI GOOGLE FORM : SEPERAPA MUDAH DIGUNAKAN?

  Mochammad syihabbudin, Miftahul Huda 1 , Ni’matul Fadlilah 2 , Muhammad Thohir 3 Syihabb056@gmail.com Miftahuda186@gmail.com    Fadlilah19dila@gmail.com Muhammadthohir@uinsby.ac.id   Universitas Islam Negeri Sunan Ampel       Abstract     The covid pandemic 19 period has made distance learning a necessity.   One of the effects is that many teachers choose the google form application to do the assessment. Because the teacher's capacity varies in its design, this study aims to find out how easily the assessment of Islamic religious education (PAI) subjects through the Google form can be used by students. Using Usability Testing instrument with USE Questionnaire, the study used Islamic religious education students with class X SMK Unitomo Surabaya respondents.   After the data is obtained, an analysis is performed using Nielsen's usability criteria. Sstudy revealed that the assessment of PAI pursuit t...

Penggunaan Live Streaming dalam pembelajaran Madrasah Diniyah: Studi Kasus di PP Bumi Sholawat Sidoarjo

Penggunaan Live Streaming dalam pembelajaran Madrasah Diniyah: Studi Kasus di PP Bumi Sholawat Sidoarjo   Mochammad syihabbudin, Muhammad Yuda [1] , Moh Zaki Yamani [2] , Muhammad Thohir [3] Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Email.   Syihabb056@gmail.com muhammadyuda423@gmail.com , Zaqyzf@gmail.com , muhammadthohir@uinsby.ac.id   Abstract This research aims to analyze using live Streaming video of Madrasah Diniyah learning at Bumi Sholawat Islamic boarding school Sidoarjo. This research used a qualitative approach with the type of case study . .The research aim to obtain informations about problems and effects during learning through live streaming. Data collection techniques were carried out by means of observation interviews and documentation. In this study, respondents were 6 people consisting of several teachers and parents of students. In this case, respondents were given the initials SP1, SP2, SP3, SP4, SP5 and SP6. Semi-structured interviews...