Mochammad
syihabbudin
Ulfa Indah
Muhammad Afwan
Bahri
UIN SUNAN AMPEL SURABAYA
Abstract
The development of
an increasingly advanced era now, requires all levels of institutions to always
be updated in updating the system in all fields, both from the layers of
government, offices, trade, business and even education. Because it is expected
to always update the system it is said to be able to compensate for the flow of
modernization like the current era. With the existence of various new
technologies, it is hoped that all communities will be able to master them so
that they can make it easier to carry out any activity. Likewise with education
especially the learning system, it is expected that all people who interact
with each other in a school institution must be able to utilize and use
technology to the fullest so that it can help facilitate interaction between
educators and students in delivering a material when learning takes place. And
educators and educators can compete fairly in the current era of modernization.
That is the initial description that will be explained in this article.
Keywords : the use of technology and student
learning styles
Abstrak
Perkembangan zaman
yang semakin maju sekarang ini, menuntut kepada semua lapisan lembaga apapun
untuk selalu update dalam memperbarui sistem di segala bidang, baik dari
lapisan pemerintahan, perkantoran, perdagangan, perbisnisan dan bahkan
pendidikan. Karenadiharapkandenganselalu
memperbarui sistem tersebut maka dikatakan mampu dalam mengimbangi arus modernisasi
seperti era saat ini. Dengan adanya berbagai teknologi baru diharapkan semua
masyarakat mampu untuk menguasainya sehingga dapat mempermudah dalam melakukan
aktivitas apapun. Begitu juga dengan pendidikan khususnya sistem pembelajaran,
maka diharapkan semua masyarakat yang saling berinteraksi dalam suatu lembaga
sekolah tersebut harus mampu memanfaatkan dan menggunakan teknologi secara
maksimal sehingga dapat membantu mempermudah interaksi antara pendidik dan
peserta didik dalam menyampaikan sebuah materi ketika pembelajaran berlangsung.
Dan tenaga pendidik dan pendidik dapat bersaing secara sehat di era modernisasi
saat ini. Itulah sebagai gambaran awal yang akan dijelaskan dalam artikel ini.
Kata kunci : pemanfaatan
teknologi dan gaya belajar siswa.
Pendahuluan
Di dalam sejarah
dunia, pendidikan merupakan hal yang sangat diperhatikan oleh seluruh lapisan
negara. Karena pendidikan merupakan hal yang sangat diperlukan dalam
berlangsungnya kehidupan serta mencetak atau bahkan menanamkan kecerdasan dalam
generasi-generasi muda sebagai penerus setiap negara. Karenapendidikanyaitulangkahsuatu proses
pembelajarandanmengaksespengetahuan, dilatihtrampil, danmerupakansebuahwarisan
yang bersifatturun-temurundarigenerasiawalhinggasaatinimelalui proses
penelitian, platihan, sertapengajaran.
Pendidikan
merupakan sebuah cara
yang sistemikdalammembentukdiri dan menciptapkan atmosfer beljar mengajar antara
pendidik dan peserta didik dalam mengembangkan kemampuannya bagi guru, dan
menemukan jati dirinya bagi peserta didik. Kecerdasan, perilaku yang mulia,
disiplin diri, serta ketrampilan dan spiritual yang kuat akan muncul juga
dengan adanya sebuah pendidikan. Yang mana nanti akan berfaedah terhadap diri
dan lingkungannya.
Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwasannya
pendidikan merupakan sebuah langkah menyusuri segala potensi yang ada pada anak
didik, sebab sebagai generasi manusia dan sebagai warga negara dapat menuai
kesejahteraan, kebahagiaan dan keselamatan secara maksimal. Dan secara tidak
langsung bahwa pendidikan merupakan modal besar yang harus ditanamkan kepada
peserta didik dengan baik. Maka banyak lembaga pendidikan bersaing mencetak
generasi lulusan yang hebat dan cerdas guna melawan arus perkembangan zaman
yang akan dilalui bersama. Oleh karena itu kurikulum sebagai pedoman pengajaran
harus dibuat sebaik mungkin dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang
dijadikan sebagia acuan pembuatan kurikulum yang bisa diterima oleh semua
masyarakat sekolah.
Dalam berkembangnya zaman, arus modernisasi
harus juga diimbangi dengan SDM yang handal. Oleh karenanya, dalam sebuah
lembaga pendidikan harus terdapat tangan-tangan terampil yang mampu bersaing
agar tidak kalah jauh dengan yang lainnya, khususnya dalam pemanfaatan
teknologi-teknologi baru yang dapat digunakan dalam dunia pendidikan. Karena
teknologi yang ada dalam pendidikan merupakan sebuah kajian ilmu yangh wajib
dipelajari sehingga, ketika kita terjun di dalam sebuah medan yang dibutuhkan
sebuah teknologi pendidikan maka, dapat digunakan secara maksimal dan efisien.
Dalam problematika pendidikan yang sering muncul, teknologi pendidikan kini
berkembang dengan cepat agar kita sebagi generasi penerus dapat memanfaatkannya
sesuai kebutuhan dan dengan teknologi pula dapat meringankan beban dan
mempermudah dalam mengkikis permasalahan-permasalahn yang muncul dalam dunia
pendidikan serta ajang untuk belajar. Oleh karenanya tenaga pendidik serta
peserta didik mampu mengimbangi perkembangan zaman ini dengan cara menguasai
teknologi pendidikan yang lebih modern sehingga diharapkan mampu untuk bersaing
secara sehat dengan lembaga-lembaga yang berada di intuisi lainnya. Sebuah hal
yang sangat wajib sekarang ini untuk selalu mengedepankan teknologi sebagai
sarana dalam memudahkan sebuah pembelajaran. Serta memberi sistem pengarahan
juga dalam gaya belajar siswa agar menggunakan teknologi yang disesuaikan.
Akhirnya, artikel ini dibuat untuk bisa diambil manfaat bagi pembaca untuk
selalu memperbarui sistem pembelajaran sesuai perkembangan zaman yang kaya akan
teknologi.
Pembahasan
Kajian penelitian
Penelitian yang akan disajikan seperti tema diatas
menggunakan model kualitatif dan deskriptif, yang mana menurut Sugiyono
bahwasannya model penelitian deskriptif yaitu sebuah langkah penelitian yang
dimaksudkan atau bertujuan menggambarkan atau memaparkan suatu hasil penelitian
yang berbentuk narasi namun, pembahasannya tidak perlu terlalu meluas dari
kajian dan hasil yang di telah dicapai. Penulis membuat laporan ini berbentuk
kualitatif dikarenakan data yang diperoleh dan dibutuhkan bersifat dokumen baik
tulisan, atau sebuah catatan yang bersifat naratif.
Sugiyono, 2009 dan Moeloeng, 2013 mengungkapkan
bahwasannya penelitian yang disusun secara kualitatif itu adalah metode yang
diterapkan guna menyesuaikan keadaan sumber kajian yang bersifat alamiah. Model
kualitatif yang berlaku dalam sebuah penelitian yaitu merupakan sebuah langkah
menyamakan data baik di lapangan dan yang terkandung dalam sebuah teori yang
masih dipakai dan berbentuk deskriptif. Model kualitatif biasanya meliputi
beberapa bagian seperti teori gagasan, ide, pendapat atau kepastian akan sebuah
obyek yang akan dikaji atau uji coba, pengumpulan data bersifat tulisan bukan
angka-angka. Penelitian ini dimaksudkan agar bisa diambil sisi positif dalam
rangka penggunaan teknologi yang sangat berkembang seperti saat ini, seperti
peran teknologi saat ini yang berada di Indonesia, apakah sudah dimanfaatkan
dalam mengakses informasi yang mendukung pengetahuan apa belum digunakan sama
sekali, sehingga persaingan berbasis teknologi pendidikan bisa berdampingan
antara Indonesia dengan negara-negara lain.[1]
Data yang terdapat dilaporan ini merupakan data yang
diambil oleh penulis melalui observasi obyek khususnya secara garis besar
mencakup pendidikan dan data yang lain diperoleh dari jurnal, artikel, buku dan
sumber catatan lain yang masih berhubungan dengan kajian ini.
PEMANFAATAN TEKNOLOGI
Perjalanan hidup
manusia secara siklus zaman akan selalu berkembang dengan hasil temuan baru
yang biasanya dilakukan oleh para ahli dunia dalam usaha untuk mengkikis setiap
problematika atau maslah-masalah yang muncul dalam sebuah kehidupan khususnya
dunia pendidikan agar mutu generasi muda di era yang global ini bisa terjamin
kualitas hidup dan sumber daya manusianya secara menyeluruh. Ada hasil riset
yang menemukan tentang sebuah teknologi informasi yang akan menimbulkan dampak
yang sangat besar baik positif ataupun negatif. Penelitian ini membawa dampak
perubahan yang amat sangat besar terkhusus bagi mereka yang lahir pada
peradaban atau era zaman saat ini yang mana lahir sudah dihadapkan dengan
perkembangan teknologi yang amat pesat dan menyeluruh baik dari golongan atas
maupun bawah.Teknologi pendidikan bukan sekedar terapan, namun juga berguna
bagi proses belajar mengajar. Saat ini teknologi pendidikan telah berdiri dan
berkembang menjadi ilmu yang mandiri sesuai kegunaanya.[2]
Pendapat Rogers mengenai sebuah teknologi yaitu sebuah konsep instrumen yang
berguna untuk mempersempit sebuah ketidak pastian terhadap suatu sebab dan
akibat dalam menyelesaikan sebuah hasil. Kemudian teknologi dibagi menjadi 2
bagian penting yaitu perangkat keras dan perangkat lunak, yang mencakup
perangkat keras yaitu peralatan sedangkan perangkat lunak itu berupa
informasinya..
Teknologi yang ada
dalam sebuah pembelajaran yaitu merupakan komponen buatan yang tidak dibuat
oleh komponen yang ada dalam pembelajaran lainnya. Pembuatannya disusun dari
sejumlah konsep, teori, model dan disiplin bidang lainnya. Secara tidak
langsung jika ditinjau dari segi teori dan keprofesionalan ilmu bahwasannya
teknologi pembelajaran ini merupakan trobosan tentang proses teknologi dalam
mempermudah manusia dalam belajar dan memecahkan masalah. Teknologi
pembelajaran ini saling mengaitkan antara ilmu satu dan ilmu lainnya yang
sama-sama membutuhkan teknologi jadi, teknologi seakan-akan berperan maksimal
dalam membantu mempermudah memahami disiplin ilmu lainnya.
Berpatokan pada
teori tertulis diatas, maka AECT (1997: 3) memunculkan pengertian tentang
sebuah pembelajaran berbasis teknologi (teknologi pembelajaran) seperti berikut
ini: teknologi pembelajaran membicarakan tentang teori dan praktik dalam 5 hal
penting, yang di kenal dengan domain teknologi pembelajaran. 5 domain ini
menjadi bidang garap bagi teknologi pembelajaran. domain tersebut meliputi:
a. Domain desain
meliputi sumber teori dan praktek akan sebuah proses dan pembuatan bahan
belajar.
b. Domain
pengembangan meliputi tata cara teori
dan sebuah praktek dan bahan belajar dikembangkan.
c. Domain
pemanfaatan yang meliputi tata cara teori
dan praktek suatu proses dan sumber belajar di ambil manfaat dalam kebutuhan
belajar.
d. Domain pengelolahan
yaitu sebuah kesatuan integral yang berada pada teknologi pembelajaran dan
peranan seuai teknologi pembelajaran.
e. Domain
penilaian berkembang beriringan dengan sebuah penelitian dan metode pendidikan
yang berkembang.
Teknologi
informasi serta komunikasi atau biasa dikenal dengan CIT adalah prioritas untuk
menciptakan sekolah berbasis inovasi, dikarenakan jika sebuah lembaga memakai
sistem Cit maka secara tidak langsung akan meningkatkan kualitas belajar
mengajar di lembaga tersebut. Serta adanya mutu sikap belajar yang positif akan
meningkat, oleh karena itu sistem CIT harus atau bahkan wajib diterapkan pada
setiap lembaga pendidikan. Dan sebagai upaya langkah seperti itu diharapkan
bisa mengalami perubahan-perubahan yang ada di dalam lembaga sekolah tersebut
sesuai dengan tata letak dan kondisi sekolah itu berada.[3]
Sebuah pendidikan
memiliki peran yang sangat urgen ketika memegang peran mencetak generasi
manusia yang berkualitas dan bermutu SDM tinggi. Dan sebab alasan tersebut maka
lembaga sekolah harus didesain sebaik mungkin baik dari segi kualitas dan
kuantitasnya. Perihal itu maka dituntut bagi sang pencari ilmu harus tamat
pendidikan tepat waktu dengan nilai yang sangat memuaskan. Nilai akhir belajar
seseorang biasanya dihasilkan oleh berbagai faktor yang ditentukan. Sebuah
faktor yang terdapat pada out pribadi individu yaitu adanya materi yang
digunakan untuk belajar dan dikembangkan secara baik. Serta style belajar
individu juga sangat menunjang keberhasilan seorang individu dalam mengembangkan
bakat kognitifnya, afektifnya, serta psikomotoriknya. Gaya belajar lebih
memperlihatkan kebiasaan seorang individu dalam menikmati pembelajaran atau
belajar mandiri.
Gaya belajar
merupakan sebuah tindakan yang natural yang muncul dengan sendirinya pada
setiap individu maka, bisa jadi antara individu satu dengan yang lainnya gaya
belajar mereka berbeda-beda sesuai bakat dirinya masing-masing. Gaya belajar
juga dapat menunjang nilai atau input materi yang telah diterimanya, sehingga
sebagai hasil akhir maka seorang individu yang telah enjoy dengan gaya
belajarnya maka nilai baik atau hasil yang memuaskan akan dicapai setara dengan
prosesnya tersebut. Karena gaya belajar yang sesuai dan tepat mampu
mengembangkan kualitas intelegensi individu tersebut.
Sebagai pendidik juga harus mampu memilih gaya belajar
dalam mendidik peserta didiknya, seperti halnya dengan penggunaan alat LCD
dengan media presentasi pendidik mampu mengkemas semua materi atau bahan ajar
di dalam presentasi tersebut, sehingga bisa menciptakan suasana yang berbeda
dan menarik. Dan biasanya respon yang dimunculkan oleh peserta didik lebih
besar karena mereka mampu melihat dan memahami informasi materi tersebut dengan
gaya yang berbeda pula. Titik kejenuhan peserta didik biasanya muncul ketika
pendidik hanya menggunakan satu metode jadul yaitu metode ceramah, yang mana di
situ lebih membuat peserta didik pasif dan hanya membayangkan sebuah materi.
Akhirnya, peserta didik kurang antusias dalam kegiatan belajar yang ada di
kelas. Trobosan seperti itulah yang diperankan oleh teknologi pendidikan
sekarang ini.
Dalam perkembangannya teknologi pendidikan merupakan sebuah
proyek yang mampu mengatasi serta menjawab problematika yang ada dalam sebuah
pendidikan.
Gaya Belajar
Pengertian gaya belajar
Suatu sikap yang dimiliki
oleh setiap individu dalam merekam, mengatur, menyerap dan mengolah informasi
yang diperolehnya. Gaya belajar yang sesuai atau proporsional merupakan kunci kesuksesan peserta didik dalam belajar. Penggunaan
gaya bahasa verbal maupun auditorial apabila hanya menggunakan gaya bahasa yang
tidak memiliki ragam atau bersifat monoton maka akan menyebabkan banayaknya
perbedaan akan informasi yang di peroleh. Oleh karena itu dalam kegiatan
belajar, siswa harus dibantu dan diberi arahan dalam mengenal gaya belajar yang
sesuai dengan pribadinya agar hasil belajar maksimal.[4]
Sedangkan versi
Hamzah berdasarkan tulisannya yang berjudul “Orientasi Baru dalam Psikologi
Pembelajaran” gaya belajar merupakan sebuah kemampuan individu dalam
memahami dan menangkap pelajaran yang sudah pasti berbeda tingkatannya ada yang
cepat dan ada yang sedang bahkan lambat.[5]
Dengan demikian mereka akan memiliki cara yang berbeda dalam menempuh sebuah
informasi atau ilmu pelajaran yang sama. Terkadang peserta didik lebih suka
mendengarkan guru menjelaskan materi dengan metode ceramah, ada juga yang suka
dengan seorang guru yang menulis di papan tulis sehingga mereka mampu
membacanya. Di sisi
lain, juga terdapat beberapa siswa yang menyukai berdiskusi pelajaran di dalam
suatu kelompok kecil.
Dalam bukunya
Nasution menyebutkan bahwa cara yang lebih sering di lakukan oleh peserta didik
dalam memahamisebuah materi, cara menghafal, bertelaah, dan menyelesaikan soal
ialah salah satu pengertian dari gaya belajar.[6]Sedangankan Menurut Hintzman
dalam bukunya Alex Sobur yang berjudul psikologi umum berpendapat belajar ialah
suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme disebabkan pengalaman tersebut yang bisa memengaruhi tingkah laku
organisme.[7]
Dapat arti lain bahwa belajar adalah perubahan yang terjadi dalam setiap
individu masing-masing dari pengalaman dan tingkah laku.
Dilain sisi Kemp juga
mengemukakan pendapat didalam bukunya Tutik Rachmawati dan Daryanto yang
berjudul Teori Belajar dan Proses Pembelajaran yang Mendidik bahwa gaya
belajar dapat di lihatdari cara mengenali berbagai metode belajar yang disukai,dimana hal
tersebutmungkin lebih efektif bagi siswa.[8] Gaya belajar yang
dimaksud adalah memahami metode-metode dalam pembelajaran itu sangat penting
agar pembelajaran untuk siswa lebih efektif. Sehingga siswa mampu menangkap
materi dengan baik tanpa adanya kesusahan.
Dari sekian
banyak definisi maka dapat ditarik benang merah bahwasannya gaya belajar setiap
individu itu berbeda-beda, sehingga dalam memperoleh dan menyerap ilmu atau
materi yang disampaikan oleh guru, siswa memiliki ciri khas tersendiri
bagaimana ia meletakkan dirinya sehingga mudah dalam menerima ilmu tersebut.
Macam-macam Gaya Belajar
setiap individu
memiliki cara atau cirikhas gaya belajar masing-masing menurut De poter
mengutip karyanya Tutik rachmawati dan Daryanto yang berjudul teori belajar
dan proses pembelajaran yang mendidik terdapat terdapat 3gaya dalam belajar, visual, auditorial dan kinestetik.
Dalam kenyataannya, setiap orang terkadang memiliki tiga gaya belajar tersebut,
tetapi kebanyakan orang cenderung hanya mengunakan salah satu dari ketiga gaya
tersebut.
Gaya belajar visual
Ciri-ciripeserta didik yang memilikikecenderunganbelajar
visual yakni, ialebihmengoptimalkanindrapenglihatannya. Individu yang memiliki gaya belajar visual ia akan mudah
menghafal dari apa yang ia lihat, seperti gerak tubuh atau ekspresi gurunya,
diagram, buku pelajaran bergambar atau video, sehingga mereka bisa mengerti
dengan baik mengenai posisi atau local, bentuk, angka, dan warna. Ciri-ciri
siswa yang mempunyai gaya belajar visual cenderung rapi dan tertur, bicara agak
cepat, mementingkan penampilan dalam perpakaian/presentasi, tidak mudah
terganggu dengan keributan, lebih mengingat kata dengan melihat susunan huruf
pada kata, tetapi mereka sulit menerima instruksi verbal.
Kelebihan visual, kemampuan visual ini tidak semua orang
mampu namun lebih terlihat pada sebagian orang saja, penyebabnya yaitu dalam
pribadi individu tersebut khususnya bagian otak banyak syaraf yang bekerja
dengan baik pada bagian visualnya saja daripada fungsi lainnya. Ada beberapa
masalah yang ditimbulkan ketika kinerja individu menggunakan visual, yang
pertama yaitu melihat bentuk, melihat dalam, dan yang terakhir yaitu kesukaran
dalam warna. Diartikan bahwa siswa lebih cepat mencerna ketika informasi yang
berbentuk gambar, warna, dan bentuk seni lainnya ditangkap dengan indera mata
dan disimpan di dalam otak dan akan lebih sering diingat. Model gaya belajar individu secara visual yaitu :
1. Teratur dan rapi
Peserta didik visual lebih menyiapkan
penampilannya, seperti pakaian maupun lingkungan di sekelilingnya. Mereka suka
hal yang rapi dan juga yang indah. Mereka juga terkadang memiliki catatan yang
baik. Dan tidak suka suasana lingkungan yang berantakan karena bisa mengganggu
mereka dalam proses belajar.
2. Sukar menerima
perintah verbal
Peserta didik yang cenderung gaya belajar visual sering kali lalai akan
sesuatu materi yang mereka terima melalui ucapan. Biasanya mereka yang
tergolong orang visual, mereka tidak respon kepada intruksi yang bersifat
verbal dan mudah lupa dengan hal yang mereka dengar hingga mereka menerima
intruksi yang disertakan gambar, diagram dan bagan.
3. Lebih teliti
Siswa lebih cermat dan berhati-hati
dalam mengamati materi pelajaran, dan
memperhatikan dengan detail pada apa
yang siswa kerjakan.
4. Lebih mengingat
yang dilihat
Siswa lebih condong dalam menggunakan
indera penglihatannya yang tajam. Seperti halnya contoh konkrit yang harus
mereka lihat sebagai langkah awal mereka untuk memudahkan dalam memahami
sesuatu. Mereka yang cenderung dengan gaya belajar visualism akan berusaha
mempermudah daya ingat mereka melalui penglihatan, seperti membaca buku,
melihat presentasi yang sengaja pendidik lakukan, menyaksikan sebuah ilustrasi
yang terletak pada alam sekitar, fenomena-fenomena alamiah melalui observasi,
serta melalui tayangan televisi yang sifatnya mendidik dan bisa dipetik sebuah ilmu untuk belajar.
5. Jarang tergoda
oleh kegaduhan
Mereka yang
mempunyai gaya belajar visual dapat belajar dengan baik dengan diiringi alunan
musik maupun tidak. Kegaduhan dan suara di sekitarnya tidak akan mampu
menggoyahkan konsentrasi mereka, karena mereka lebih tertuju pada apa yang ada
dalam penglihatannya daripada yang ada dalam pendengarannya. Jika tmodel visual
ini sedang berfikir, mereka akan melihat ke arah langait-langit, dengan
pandangan mata ke arah kanan dan kiri, dikarenakan otak mereka berproses untuk
sebuah data dengan melihat setiap kata dan simbol. Memang semua orang akan
pasti melakukan hal yang sama pula apabila sedang melihat gambar atau simbol,
namun model gaya belajar seperti ini melakukannya lebih sering dibandingkan
orang lain.
Untuk mengatasi
beberapa masalah yang dipaparkan diatas, maka ada beberapa solusi pendekatan
yang dapat digunakan sehingga belajar tetap bisa dilakukan dengan cara
memberikan hasil yang sesuai dan maksimal. Yaitu dengan menggunakan beraneka
ragam corak grafis untuk mentransfer bahan ajar atau materi pembelajran.
Gaya belajar
Auditorial
Adalah gaya belajar yang mengedepankan sebuah indera yang
berupa pendengaran sebagai alat dalam mengakap dan menghafalnya sebuah
informasi. Gaya belajar semacam itu benar-benar memberikan kesempatan kepada
organ telinga untuk alat awal menangkap pelajaran dan pengetahuan. Artinya,
kita harus mendengarkan terlebih dahulu baru kemudian bisa mengingat dan
memahami informasi yang diperoleh. model
gaya belajar audiotori yaitu sebagai berikut :
1. Mudah terganggu oleh keributan
Siswa yang mempunyai gaya belajar
auditori, mereka cenerung sangat peka dengan gangguan auditori. ketika siswa
sedang belajar dikelas atau diluar kelas mereka akan merasa terganggu bila ada
suara-suara di sekitarnya. Seperti suara orang lain di luar kelas, suara mobil,
suara kipas angin atau suara yang dapat mengganggu konsentrasi bekajar mereka.
2. Senang membaca
dengan suara keras dan mendengarkan
Siswa yang cenderung suka dengan
membaca dengan keras tujuannya untuk
mempercepat belajarnya yaitu membaca
secara pintas, dan mereka cenderung membayangkan teks yang ada seperti penayangan
flm dengan disertai efek suara, nada suara, perasaan, dan music untuk membuat
materi menjadi lebih hidup. Dengan begitu mereka lebih cepat memahami bacaan
jika dibaca dengan suara yang keras. Mereka juga suka menggerakkan bibir dan
mengucapkan tulisan di buku ketika sedang membaca. Hal itu dilakukan agar
mereka lebih memahami materi daripada hanya sekedar dibaca di dalam hati
3. Merasa kesulitan
untuk menulis, tetapi mampu dalam bercerita
Siswa yang mempunyai tipe gaya belajar
auditori cenderung kesulitan dalam menulis karena tulisannya jelek dan siswanya
lebih semangat dalam bercerita di kelas.
4. Suka bercerita
depan umum, berdiskusi dalam kelompok, menjelaskan sesuatu
Siswa yang mempunyai tipe gaya belajar
auditori dalam kesehariannya tidak nyaman dengan keadaan yang sepi, dan meraka
mereka cenderung meruba keadaan yang sepi menjadi ramai, berisik, dengan cara
bernyayi, berbicara dengan keras, mendengarkan music. Siswa juga cenderung
senang mendiskusikan sesuatu dengan cara membuka percakapan secara panjang
lebar.
5. Lebih suka musik
atau sesuatu yang bernada dan berirama
Siswa yang mempunyai gaya belajar
auditori cenderung menyukai music, nada-nada, irama, dan nada suara. Mereka
senang mendengarkan suarasuara yang indah, melodi yang manis, dan suara yang
membuat hati mereka senang. Mereka terkadang merasa tidak suka denga
suara-suara yang nyaring, seperti suara sirine, dan suara keributan.
Beberapa
pendekatan yang bisa dilakukan untuk masalah kesulitan
kesulitan belajar seperti di atas yang
pertama adalah menggunakan tape perekam sebagai alat bantu, alat ini digunakan
untuk merekam bacaan atau catatan yang dibacakan atau ceramah pengajar di depan
kelas untuk kemudian
di dengarkan kembali. Pendekatan kedua
adalah dikakukan engan cara wawancara atau terlibat dlaam kelompok diskusi.
Sedangkan pendekatan yang
ketiga adalah dengan mencoba membaca
informasi, kemudian diringkas dalam
bentuk lisan dan direkam untuk kemudian
didengarkan dan dipahami, langkah
ang terakhir adlah dengan melakukan
review secara verbal dengan teman atau
pengajar.
Gaya belajar
Kinestetik
Siswa
yang mempunyai gaya belajar kinestetik cara membaca dan mendengarkannya
salahsatu kegiatan yang membosankan. Memberi instruksi yang diberikan secara
tertulis maupun lisan seringkali mudah dilupakan, karena mereka cenderung lebih
memahami tugasnya jika mereka mencobanya secara langsung. Dan ciri-ciri gaya
belajar kinestetik yaitu :
1. Bicara
perlahan-lahan
Siswa yang mempunyai gaya belajar
kinestetik cenderung bicara dengan perlahan dan pelan, berbeda dengan siswa
visual yang berbicara dengan kecepatan
bicara yang cepat dan auditori dengan kecepatan berbicara sedang Banyak siswa
yang tidak senang pada penjelasan yang panjang lebar. Mereka menyukai guru yang
menggunakan kata-kata kunci dan perbuatan, serta memberikan bimbingan jika
mereka membutuhkannya.
2. Banyak gerakan
Siswa kinestetik biasa memiliki
perkembangan oto-otot yang besar, banyak
menggunkan isyarat tubuh, menggunakan
jari sebagai petunjuk ketika membaca, suka mempraktikkan secara langsung.
3. Selalu aktif
Siswa yang mempunyai tipe gaya belajar
kinestetik tidak bisa duduk diam di satu tempat. Karena mereka senang bergerak.
Dalam proses pembelajaran harus diberikan gerakan-gerakan yang positif yang
dapat membantu proses
belajar mereka.
4. Belajar melalui
manipulasi dan praktik
Siswa yang mempunyai gaya belajar
kinestetik sangat suka dengan tantangan, dan menemukan hal-hal yang baru.
Mereka termotivasi pada lingkungan yang kompetitif. Mereka juga senang
berkompetisi dengan diri sendiri atau dengan orang lain.
5. Peka terhadap
ekspresi dan bahasa tubuh
Siswa bergaya belajar kinestetik ini
mudah menghafal atau belajar dengan
cara bergerak atau berjalan-jalan.
Faktor yang mempengaruhi Gaya belajar
Setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda. mengetahui gaya belajar yang berbeda ini telah membantu para
guru dimana pun untuk dapat mendekati semua atau hampir semua siswa hanya
dengan menyampaikan dengan gaya yang berbeda-beda. Rita Dunn, seorang pelopor
di bidang gaya belajar, telah menemukan bahwa banyak hal yang memengaruhi cara
belajar siswa mencangkup faktor fisik, emosional, sikologis dan lingkungan”.
Dapat diartikan bahwa sebagian siswa dapat belajar paling baik dengan cahaya
yang terang, sedangkan sebagian siswa yang lain dengan pencahayaan yang suram.
Ada siswa yang belajar paling. baik secara berkelompok, sedangkan siswa lain lagi memilih adanya figure otoriter
seperti orang tua atau guru, yang lain merasa bahwa bekerja sendirilah yang
paling efektif bagi mereka. Sebagaimana siswa memerlukan musik sebagai iringan
belajar,
sedang siswa yang lain tidak dapat berkonsentrasi kecuali
dalam keadaan ruangan
sepi. Ada siswa yang memerlukan situasi kerja yang
teratur dan rapi, tetapi siswa
yang lain lagi lebih suka memperagakan segala sesuatunya
supaya dapat dilihat
oleh mata.
David Kolb dalam karya
gufron dan risnawati tentang kajian teoritik gaya belajar berpendapat : setiap
individu secara alami akan mengembakat bakat dan sistem gaya belajarnya secara
mandiri sesuai pribadinya masing-masing. Dengan gaya belajar itulah nantinya
seseorang individu akan menemukan kebiasaan yang cocok atau kenyamanan dalam
menerima sebuah informasi pengetahuan atau materi ajar yang disampaikan oleh
gurunya. Ada 5 faktor yang membedakan gaya belajar individu satu dengan yang
lainnya, yaitu dengan adanya sebuah sistem jurusan yang tidak sama, kepribadian
indiviud, serta peranan individu, karir dan pekerjaan.
PENUTUP
Kesimpulan
Teknologitelahmerasukkedalamruangkehidupanmanusia
yang manasudahmasuk era modernisasai dan perkembangan zaman yang
milenial ini. Terutama dalam pendidikan, teknologi bukan sekedar ilmu terapan
namun sudah ikut bagian dalam proses pembelajaran. Yang mana merupakan salah satu
bidang yang sangat berpengaruh. Sedangkang gaya belajar yaitu suatu sikap atau
perilaku yang dimiliki oleh setiap pribadi seseorang dalam menangkap dan
merekam serta memahami dan mengolah informasi yang didapatnya. Gaya belajar
yang cocok sesuai porsinya merupakan kunci kesuksesan peserta didik dalam
belajar. Jadi, sebagai pendidik sendiri kita harus bisa memanfaatkan teknologi
yang ada dengan menyesuaikan gaya belajar peserta didik, sehingga akan lebih
memotivasi dan juga menarik peserta didik untuk belajar dengan memanfaatkan
perkembangan teknologi.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, abdul haris. “Pengaruh Pemanfaatan Teknologi Informasi dan
Motivasi Belajar terhadap Perilaku belajar siswa”. J.I Iqra no 1(2009) :
273906
Ghufron, M. Nur. “Gaya
Belajar”. 2012
Prastowo. Andi, “Analisis
Pembelajaran Tematik Terpadu”. Prenada media 2009.
Nasution, sorimuda. Berbagai
pendekatan dalam proses belajar dan mengajar.PT. Bina Aksara, 2000
“Pemanfaatan
Teknologi Informasi dan Komunikasi Untuk Meningkatkan Pendidikan di Indonesia”.
Syntax Literate ; jurnal ilmiah,
diakses 29 mei 2020
Pengaruh Gaya
Belajar Visual,Audiotorial, dan Kinestetik terhadap prestasi belajar siswa, Jurnal
kependidikan : penelitian Inovasi Pembelajaran, diakses 30 mei 2020. https:/journal.uny.ac.id/index.php/jk/article/view/5307.
Subur, alex. Psikologi
umum, Pustaka Setia, 2016.
“Tekonologi
Pendidikan dalam Menciptakan Pembelajaran Efektif Oleh : Untung Khoirudin
Abstrac – PDF , https://docplayer.info/45441649
“Teori Belajar dan
Proses Pembelajaran yang Mendidik”. Diakses 30 mei 2020.
https://www.gavamedia.net/produk.365
[1]“PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK MENINGKATKAN PENDIDIKAN DI INDONESIA | Syntax Literate ; Jurnal Ilmiah Indonesia,” diakses 29 Mei 2020, http://www.jurnal.syntaxliterate.co.id/index.php/syntax-literate/article/view/130.
[2] Yusufhadi Miarso, Teknologi Komunikasi Pendidikan : Pengertian dan Penerapannya di Indonesia, Jakarta : 1989, Pustekom Depdikbud dan Rajawali, hlm. 45
[3]Abdul Haris Abdullah, “Pengaruh Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Motivasi Belajar terhadap Perilaku Belajar Siswa,” Jurnal Ilmiah Iqra' 3, no. 1 (2009): 273906, https://doi.org/10.30984/jii.v3i1.548.
[4]Bire,. 2014. “ Pengaruh Gaya Belajar Visual, Auditorial, dan
Kinestetik Terhadap Prestasi Belajar SIswa”. Jurnal pendidikan, Vol.44
November, hal. 168-174
[5] Tutik Rahmawati, Daryanto, Teori
Belajar dan Proses Pembelajaran Yang
Mendidik, Yogyakarta: Gava Media, 2015 hal. 1
[6] Nasution, Berbagai Pendidikan dalam Proses Belajar Mengajar,
Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2009 hal. 94
[7] Alex Sobur, Psikologi Umum, Bandung: Pustaka Setia, 2005 hlm
217
[8] Tutik Rahmawati, Daryanto, Teori
Belajar dan Proses Pembelajaran Yang
Mendidik, Yogyakarta: Gava Media, 2015 hal. 1.
Komentar
Posting Komentar